Perbedaan ApeX Protocol dan Flare: ApeX Protocol diperdagangkan di Rp3.762 (kapitalisasi pasar Rp551M, volume 24 jam Rp19,63M), sedangkan Flare diperdagangkan di Rp107,35 (kapitalisasi pasar Rp9,33T, volume 24 jam Rp31,71M). Perbedaan utamanya: Flare jauh lebih besar — sekitar 16,9× kapitalisasi pasar ApeX Protocol, dan suplai ApeX Protocol dibatasi (146,2M / 500M APEX (30%)), sedangkan Flare terus bertambah. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan ApeX Protocol selama 20 Hari dan Flare selama 32 Hari.
| APEX | FLR | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp551M | Rp9,33T |
Volume (24h) | Rp19,63M | Rp31,71M |
Suplai yang Beredar | 146,2M / 500M APEX (30%) | 86,9B FLR |
Typical Hold Time | 20 Hari | 32 Hari |
Aktivitas investor Pluang dalam 30 hari terakhir
Berita terbaru kedua aset
ApeX Protocol adalah protokol derivatif perpetual yang terdesentralisasi, non-kustodian, permissionless, dan tahan sensor. Protokol ini memungkinkan pembuatan pasar perpetual swap untuk berbagai pasangan token. Pengguna dapat melakukan perdagangan derivatif crypto di blockchain Ethereum tanpa perantara, sambil tetap mempertahankan kendali penuh atas private key mereka.
Selengkapnya di halaman APEX →Flare adalah blockchain Layer 1 berbasis EVM yang dirancang untuk meningkatkan kegunaan teknologi blockchain dengan menyediakan akses terdesentralisasi bagi pengembang ke data berkualitas tinggi dari berbagai blockchain dan internet. Kemampuan ini mendorong terciptanya kasus penggunaan baru dan model monetisasi, memungkinkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) beroperasi di beberapa chain dengan satu kali penerapan.
Selengkapnya di halaman FLR →