Perbedaan ALLORA dan Haedal Protocol: ALLORA diperdagangkan di Rp4.804 (kapitalisasi pasar Rp977,58M, volume 24 jam Rp2,02T), sedangkan Haedal Protocol diperdagangkan di Rp288,22 (kapitalisasi pasar Rp138,19M, volume 24 jam Rp24,15M). Perbedaan utamanya: ALLORA jauh lebih besar — sekitar 7,1× kapitalisasi pasar Haedal Protocol, dan suplai beredar ALLORA 200,5M / 1B ALLO (21%) dibanding 483,3M / 1B HAEDAL (49%) milik Haedal Protocol. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan ALLORA selama 3 Hari dan Haedal Protocol selama 15 Hari.
| ALLO | HAEDAL | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp977,58M | Rp138,19M |
Volume (24h) | Rp2,02T | Rp24,15M |
Suplai yang Beredar | 200,5M / 1B ALLO (21%) | 483,3M / 1B HAEDAL (49%) |
Typical Hold Time | 3 Hari | 15 Hari |
Aktivitas investor Pluang dalam 30 hari terakhir
APRO adalah protokol oracle data yang menghadirkan informasi dunia nyata ke jaringan blockchain. Protokol ini mendukung berbagai aplikasi seperti RWA, AI, prediction market, dan DeFi dengan menyediakan data on-chain yang andal. Infrastruktur APRO memanfaatkan model machine learning untuk meningkatkan validasi dan sourcing data, sehingga developer mendapatkan informasi yang akurat dan tahan manipulasi.
Selengkapnya di halaman ALLO →Haedal adalah protokol liquid staking terkemuka yang dibangun secara native di jaringan Sui. Protokol ini menyediakan infrastruktur yang kuat, memungkinkan pengguna untuk melakukan staking token SUI dan Walrus ke validator guna memperoleh imbal hasil konsensus secara berkelanjutan, sekaligus membuka likuiditas LST yang dapat dimanfaatkan di berbagai ekosistem DeFi. Haedal bertujuan menjadi tempat utama bagi pengguna untuk staking dan mendapatkan imbal hasil di ekosistem Sui.
Selengkapnya di halaman HAEDAL →