Saat ini, average tariff rate tercatat sebesar 15,6%. Angka ini telah turun signifikan dibandingkan saat Liberation Day pada 2 April 2025 yang sempat mencapai >20%. Kendati demikian, posisi tariff rate ini masih menjadi yang tertinggi sejak 1907. Di sisi lain, upaya Trump untuk mewujudkan mimpinya Make America Great Again (MAGA) sangat membuka ruang bagi dirinya untuk bisa menggunakan seluruh bargain power yang dimiliki untuk menetapkan tarif kepada negara lain. Lantas, apa saja yang harus diperhatikan sekaligus dipersiapkan investor menjelang pengumuman tarif final pada 8 Juli mendatang? Dan bagaimana strategi post tariff announcement oleh Trump? Let’s check it out!Trump : Not an Easy Man.. Sejak Liberation Day pada 2 April kemarin, tercatat hanya ada 2 negara besar yang berhasil bernegosiasi secara resmi dengan Trump. Kedua negara tersebut adalah UK dan China yang mana kedua negara tersebut ‘tampaknya’ memiliki kekuatan internal sendiri yang tak dapat membuat AS menolak. United Kingdom (UK) Awalnya, UK dikenakan tarif sebesar 20% oleh AS. Namun, keduanya mencapai kesepakatan pada Mei 2025 dalam sebuah perjanjian yang disebut dengan Economic Prosperity Framework. Kesepakatan ini meliputi beberapa aspek, antara lain : Perdagangan digital Aerospace tariffsKesepakatan energi Sebagai gantinya, UK berhasil terhindar dari pengenaan tarif resiprokal untuk barang industri dan hasil agrikultur tertentu. ChinaSetelah melalui perundingan yang alot dan berbagai aksi retaliasi antar kedua belah pihak, akhirnya AS dan China mencapai kesepakatan pada 27 Juni 2025. Walaupun kesepakatan ini masih bersifat terbatas, namun sudah mencakup beberapa aspek krusial, misalnya : Pemberian izin ekspor logam tanah jarang (rare earth) dan komponen EV oleh China ke AS. Penyesuaian tarif yang lebih tolerable yakni 30% (dari AS ke China) dan 10% (dari China ke AS). Namun, investor masih harus memperhatikan deadline berikutnya pada 10 Agustus mendatang atas penundaan tarif selama 90 hari yang sempat diumumkan Trump pada 12 Mei 2025. Kerasnya perundingan antara AS dengan berbagai negara lain sekaligus menunjukkan bahwa terdapat beberapa bargain power yang dimiliki oleh AS, antara lain : Consumer Market SizeAS tetap menjadi negara dengan basis konsumen yang terbesar di dunia dan terhitung sebesar 25% dari total konsumsi global. Therefore, negara yang berstatus export-driven sangat bergantung pada AS, misalnya Jerman, Korsel dan Jepang. Dominasi Teknologi Perkembangan teknologi AS hingga kini masih menjadi leader, khususnya untuk AI, aerospace dan defense sehingga hal ini bisa menjadi bargain power kuat bagi negara lain. Dollar Dominance Walaupun narasi dedolarisasi makin kuat, namun porsi penggunaan dolar sebagai cadangan negara tetap yang terbesar mencapai ~58% (per 2024) dan sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam transaksi dagang. Energy Independence Status AS sebagai negara eksportir minyak terbesar di dunia membuat posisi AS cukup kuat dalam tiap perbincangan yang terkait dengan negosiasi di bidang energy. What Could Happen After the July 8 Deadline?Terdapat 2 skenario utama pasca pengumuman tanggal 8 : 🟢 Jika kesepakatan tercapai tepat waktu AS dapat mengklaim ‘kemenangannya’ dan menghentikan sementara atau bahkan mencabut pengenaan tarif bagi negara yang kooperatif, atau..Kesepakatan multilateral dengan tarif yang jauh lebih ringan dapat muncul dengan fokus pada kembalinya rantai pasok dan operasi bisnis ke dalam AS yang awalnya tersebar di berbagai negara. 🔴 Jika tidak ada kesepakatan yang tercapaiTarif resiprokal awal yang sangat tinggi dapat dikenakan ke berbagai negara, bergantung pada seberapa besar defisit perdagangan dengan AS ataupun kepentingan lainnya. Skenario kedua tersebut akan berdampak negatif terhadap beberapa sektor, seperti otomotif, besi-baja, aluminum, elektronik hingga EV. Selain itu, ada pula potensi risiko lebih besar ke berbagai negara meliputi tingginya inflasi, perlambatan aktivitas dagang hingga meningkatnya volatilitas di pasar keuangan, khususnya untuk negara berkembang. Thus, ada kemungkinan pasar saham domestik maupun global akan cenderung bergerak sideways terlebih dahulu hingga ada kejelasan tentang tarif resiprokal final pada 8 Juli mendatang. Namun, hal terpenting adalah fokus ke emiten yang cukup resilient sekalipun tarif tetap diterapkan, baik dalam skala yang tinggi maupun rendah. Salah satunya dengan melihat seberapa besar ketergantungan pendapatan perusahaan dari aktivitas ekspor.Makin kecil ketergantungan sumber pendapatan dari aktivitas ekspor, makin menarik perusahaan tersebut untuk dilirik dan vice versa. Investasi dengan Aman di Pluang!Download aplikasi Pluang untuk investasi di 1000+ pilihan aset yang mencakup Saham AS & ETF, Options Trading untuk Saham AS & ETF, Aset Crypto, Crypto Futures, Emas, dan juga puluhan produk Reksa Dana, semua mulai dari Rp10.000 saja! Di Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena Pluang sudah bekerja sama dengan mitra-mitra tepercaya yang memiliki izin dan diawasi oleh lembaga pemerintah terkait. Yuk, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!