Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Kamus

Siklus Ekonomi
shareIcon

Siklus Ekonomi

0  dilihat·Waktu baca: 5 menit
shareIcon
Siklus Ekonomi Adalah

Siklus ekonomi adalah istilah lain dari siklus bisnis yang terdiri atas empat tahap dan panjang siklus yang bervariasi. Yuk simak di sini untuk lebih jelasnya!

Apa Itu Siklus Ekonomi?

Siklus ekonomi adalah istilah yang mengacu pada fluktuasi ekonomi antara periode ekspansi (pertumbuhan ekonomi) dan kontraksi (resesi ekonomi).

Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu menunjukkan tahapan siklus ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), suku bunga, jumlah tenaga kerja, inflasi, dan pengeluaran atau belanja konsumen.

Memahami siklus ekonomi dapat membantu investor dan pelaku bisnis baik dalam melakukan investasi maupun menarik uang mereka karena setiap tahapan siklus ekonomi berdampak pada saham, obligasi, keuntungan, dan pendapatan perusahaan.

Selain itu, siklus ekonomi bermanfaat untuk memprediksi keadaan ekonomi di masa mendatang, memperluas cakupan bisnis secara signifikan, mengurangi risiko kerugian di masa mendatang, dan menghadirkan investor serta pelanggan dalam jumlah besar.

Tahapan Siklus Ekonomi

Siklus ekonomi adalah alur tahapan-tahapan fase ekonomi dari fase ekspansi ke kontraksi. Ekonom percaya bahwa tahapan-tahapan itu akan berulang lagi ke awal setelah selesai. Makanya, tak heran jika alur tersebut dikatakan sebagai sebuah siklus.

Lantas, apa saja masing-masing siklus ekonomi tersebut?

1. Ekspansi (Expansion)

Pada tahap ekspansi, laju pertumbuhan ekonomi terjadi relatif cepat, suku bunga terbilang rendah, dan terjadi peningkatan produksi. Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen, tenaga kerja dan upah, laba dan output perusahaan, permintaan agregat, dan penawaran barang atau jasa menunjukkan tren naik.

Namun pada fase ini, peningkatan jumlah uang beredar dapat memacu inflasi.

2. Puncak (Peak)

Pada tahap ini, pertumbuhan ekonomi mencapai titik maksimumnya. Permintaan barang dan jasa di masyarakat pun melesat sehingga menimbulkan inflasi.

Untuk menghalaunya, bank sentral pun menaikkan suku bunga acuan untuk mengurangi jumlah beredar.

Akibatnya, laju kenaikan harga barang dan jasa pun ikut melambat. Namun, kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan masyarakat mengerem konsumsinya. Sementara itu, kenaikan suku bunga akan membuat pelaku usaha mengurungkan niat untuk menambah produksinya akibat penurunan daya beli masyarakat dan semakin tingginya bunga untuk menambah pendanaan.

Imbasnya, indikator-indikator ekonomi pun susah untuk bergerak naik. Pelaku bisnis pun mulai mengevaluasi kembali anggaran dan pengeluaran mereka untuk mengantisipasi penurunan dalam aktivitas ekonomi.

3. Kontraksi (Contraction)

Kebijakan ekonomi pemerintah yang ketat, lesunya daya beli masyarakat, dan keengganan dunia usaha untuk produksi pun menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Pada tahap ini, terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bahkan, jika pertumbuhan ekonomi itu berakhir di zona negatif selama minimal dua kuartal berturut-turut, maka negara itu bisa mengalami resesi. Resesi sendiri tidak hanya ditandai dengan mundurnya pertumbuhan ekonomi ke zona negatif, namun juga penurunan lapangan kerja, stagnasi harga, dan kelebihan pasokan karena produsen gagal menyesuaikan tingkat produksi.

Jika kontraksi berlanjut, resesi dapat berubah menjadi depresi ekonomi. Selama depresi, tingkat pengangguran meningkat drastis dan pertumbuhan ekonomi terus menurun.

4. Palung (Trough)

Pada tahap ini, perekonomian mencapai titik terendah karena tingginya pengangguran, serta rendahnya supply dan demand.

Namun tahap ini juga memberikan peluang bagi pebisnis untuk mengatur ulang keuangan mereka dan mengantisipasi pemulihan ekonomi.

Di samping itu, pada tahap ini, pemerintah biasanya akan memberikan stimulus fiskal dan moneter untuk kembali mengerek pertumbuhan ekonomi. Biasanya, pemerintah akan memberlakukan kebijakan anggaran ekspansif demi menggerakkan konsumsi dan memantik dunia usaha untuk kembali berproduksi. Sementara itu, bank sentral akan mulai menurunkan suku bunga acuannya.

Pengukuran Siklus Ekonomi

Posisi dan arah ekonomi dapat ditentukan melalui metrik atau ukuran penilaian kuantitatif. Metrik ekonomi yang umum digunakan adalah PDB, inflasi, dan tingkat pengangguran.

Selain itu, pengukuran siklus ekonomi dapat dilakukan dengan melihat dua perspektif, yakni:

1. Waktu Siklus Ekonomi

Untuk mengukur waktu siklusnya, perusahaan dan negara bisa menetapkan periode tertentu berdasarkan indikator-indikator yang dipilih. Di AS, misalnya, panjang satu siklus ekonomi diukur oleh lembaga bernama National Bureau of Economic Research (NBER). Dalam hal ini, NBER mengukur panjang siklus ekonomi dari palung ke palung atau puncak ke puncak.

Panjang siklus ekonomi pun bervariasi antar wilayah. Sebagai contoh, rerata panjang satu fase siklus ekonomi AS adalah lima setengah tahun sejak 1950.

2. Tingkat Keparahan

Untuk mengukur tingkat keparahan siklus ekonomi, perusahaan dan ekonom dapat mengukur tahap resesi dan ekspansi secara terpisah.

Pengukuran tingkat keparahan tahap resesi berdasarkan tiga metrik, yakni:

  1. Kedalaman: Berapa tingkat intensitas dalam tahap resesi?
  2. Difusi: Seberapa luas dampak tahap resesi dalam perekonomian nasional?
  3. Durasi: Berapa lama tahap resesi berlangsung?

Pengukuran tingkat keparahan tahap ekspansi berdasarkan tiga metrik, yakni:

  1. Pronounced: Seberapa signifikan tahap ekspansi?
  2. Pervasif: Berapa banyak aspek ekonomi yang telah dicapai dalam tahap ekspansi?
  3. Persistent: Apakah tahap ekspansi berlangsung lebih lama dari biasanya?

Bagaimana Pelaku Ekonomi Mengelola Siklus Ekonomi?

Pemerintah, lembaga keuangan, dan investor mengelola arah dan dampak siklus ekonomi secara berbeda.

Selama resesi, pemerintah menggunakan kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan anggaran defisit. Bank sentral pun akan mengimbanginya dengan menurunkan suku bunga acuan atau menerapkan kebijakan moneter ekspansif untuk memacu konsumsi dan investasi

Namun, pemerintah dapat mengetatkan anggaran, menaikkan tarif pajak, dan menjalankan kebijakan anggaran surplus untuk mengurangi pengeluaran agregat demi mencegah perekonomian dari overheating selama ekspansi. Bank sentral pun akan mengimbanginya dengan menerapkan kebijakan moneter kontraktif dengan menaikkan suku bunga dan memperlambat aliran kredit ke dalam perekonomian.

Siklus ekonomi juga berpengaruh langsung terhadap keputusan investasi masyarakat. Selama ekspansi, misalnya, investor sering menemukan peluang di sektor teknologi, barang modal, dan energi. Tetapi, ketika ekonomi berkontraksi, investor dapat membeli perusahaan yang berkembang pesat selama resesi, seperti utilitas, kebutuhan pokok konsumen, dan kesehatan atau menambah cadangan kas.

Teori Ekonomi yang Berhubungan dengan Siklus Ekonomi

Salah satu mazhab ekonomi yang memfokuskan pendekatan pada siklus ekonomi adalah pendekatan Keynesian.

Mazhab itu berpendapat bahwa ekonomi sebuah wilayah bisa mengalami siklus karena perubahan permintaan agregat, yang diperparah oleh instabilitas dan volatilitas ekonomi. Hal ini nantinya akan mempengaruhi pengeluaran konsumen dan penyerapan lapangan pekerjaan.

Lebih lanjut, cara penanganan siklus ekonomi dijelaskan oleh paham Monetarisme, yang mengatakan bahwa pemerintah dapat mencapai stabilitas ekonomi melalui tingkat pertumbuhan pasokan uang mereka. Teori ini menghubungkan siklus ekonomi ke siklus kredit, di mana perubahan suku bunga berpengaruh pada aktivitas ekonomi, harga utang, dan pengeluaran konsumen.

Itulah hal yang dapat Sobat Cuan ketahui dari siklus ekonomi. Jika Sobat Cuan ingin tahu lebih banyak seputar istilah ekonomi, yuk cek blog Pluang!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham ASindeks saham ASemas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Kliring Berjangka Indonesia

Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1