‘Nyawa’ Pemerintahan AS kembali terselamatkan dengan keputusan Senat AS untuk meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) pengeluaran sementara pada Jumat (14/3). Keputusan ini diambil tepat beberapa jam sebelum deadline yang dapat menyebabkan penutupan (shutdown) Pemerintah. Akhirnya, Pemerintah AS pun akan kembali mendapatkan pendanaan jangka pendek selama ~7 bulan hingga 30 September.
Keputusan tersebut diambil pasca melalui voting yang cukup tegang dengan perolehan suara 54 (Republic) - 46 (Democrat) dengan diikuti berbagai konflik.
Sebenarnya risiko government shutdown yang dialami AS bukanlah hal baru. Bahkan sejak 1980 hingga 2018, ada 22x kejadian di mana akhirnya aktivitas Pemerintahan AS terhenti beberapa hari akibat habisnya anggaran.
Di antara berbagai kejadian shutdown tersebut, ada beberapa momen yang notable dan selalu menjadi benchmark investor, yakni :
Walaupun kali ini AS berhasil selamat, namun kejadian serupa yang berulang kali terjadi menunjukkan bahwa ada risiko fiskal Pemerintahan yang sangat besar. Kondisi tersebut pada akhirnya mengakibatkan turunnya kepercayaan investor global.
Krisis anggaran yang terjadi pada 2025 ini berasal dari dorongan Partai Republik yang ‘memaksa’ agar ada batasan anggaran lebih ketat dalam Pemerintah Trump. Tak hanya itu, Partai Republik juga melawan Partai Demokrat yang kurang setuju jika ada pemangkasan anggaran untuk program sosial.
Berikut ini 3 masalah utama yang menjadi perseteruan kedua pihak :
Pendanaan jangka pendek kali ini tetap mempertahankan beberapa pos pengeluaran di 2024, namun dengan beberapa modifikasi :
Lolosnya spending bill ini juga melalui proses yang sangat alot di mana terjadi banyak perpecahan :
Spending Bill ini rencananya akan ditandatangani oleh Trump. Di sisi lain, partai Demokrat menganggap bahwa bill tersebut adalah blank check karena bill tersebut tak berusaha untuk mengatur upaya berkelanjutan Pemerintah untuk memangkas anggaran.
Pasca keputusan tersebut, investor bereaksi positif yang terlihat dari kenaikan pasar saham AS yakni Dow Jones (+1.65%), S&P 500 (+2.13%) dan Nasdaq (+2.49%). Tak hanya itu, seham di sektor defense layaknya Raytheon Technology (RTX), Heico Corp (HEI) dan Lockheed Martin (LMT) berhasil naik +0.61%, +2.01% dan solid dengan koreksi tipis -0.4%. Hal ini dikarenakan oleh naiknya anggaran divisi Pertahanan dan Keamanan.
Sementara itu, pasar obligasi AS relatif cukup mixed yang tercermin dari :
Jika nantinya pada 30 September 2025 narasi yang sama terulang kembali dan pada akhirnya tidak ada jalan keluar selain shutdown, maka risiko terbesar yang dihadapi AS adalah penurunan credit rating seperti yang sempat terjadi pada 1 Agustus 2023 oleh The Fitch terhadap US’ Long Term Credit Rating dari AAA menjadi AA+.
Di sisi lain, hal ini bisa saja mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga dalam skala yang agresif untuk menyelamatkan perekonomian.
Penyelamatan anggaran AS masih belum bisa ditopang oleh Department of Government Efficiency yang dipimpin oleh Elon Musk. Pasalnya, sejak berdiri pada Januari 2025 hingga kini, penghematan yang dilakukan baru tercapai $115bn (5,75% dari target $2Tn).
Jika inisiatif penghematan ini memang berhasil, maka tak menutup kemungkinan bagi AS untuk bisa lepas dari permasalahan ancaman shutdown yang bisa datang sewaktu-waktu.
Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp10.000 dan hanya tiga kali klik saja! Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!
Marcella Kusuma
Marcella Kusuma
Bagikan artikel ini