Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diadakan pada 18 September 2024, The Federal Reserve memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 5.25% - 5.50% menjadi 4.75% - 5.00%. Ini merupakan pemotongan suku bunga pertama dalam empat tahun terakhir, sejak Maret 2020. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap penurunan inflasi yang signifikan dan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pemangkasan suku bunga ini lebih besar dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 25 bps. Langkah ini menunjukkan komitmen The Fed untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencegah perlambatan di pasar tenaga kerja. Selain itu, keputusan ini juga mencerminkan keyakinan The Fed bahwa inflasi dapat terus bergerak menuju target 2%.
Chairman The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa pemotongan suku bunga ini dilakukan untuk menjaga kekuatan ekonomi AS. Powell menekankan bahwa inflasi telah menunjukkan penurunan yang signifikan, dan langkah ini diambil untuk memastikan pasar tenaga kerja tetap kuat. Powell juga menegaskan bahwa keputusan ini tidak didasarkan pada kepentingan politik, meskipun dilakukan menjelang pemilihan presiden.
Powell juga menyebutkan bahwa risiko kenaikan inflasi telah turun drastis, sehingga memungkinkan The Fed untuk fokus pada menjaga stabilitas ekonomi. Dia menambahkan bahwa The Fed akan terus memantau data ekonomi yang masuk dan siap untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika diperlukan. Pernyataan ini memberikan sinyal bahwa The Fed tetap fleksibel dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
The Fed mengindikasikan bahwa mereka mungkin akan melakukan pemotongan suku bunga tambahan sebesar 50 bps lagi pada akhir tahun ini. Selain itu, proyeksi menunjukkan adanya pemotongan satu poin persentase penuh pada akhir tahun 2025 dan satu setengah poin pada tahun 2026. The Fed juga akan terus memantau data ekonomi yang masuk untuk menilai langkah kebijakan moneter selanjutnya.
Dalam jangka panjang, The Fed berencana untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi tetap rendah. Namun, mereka juga siap untuk menyesuaikan kebijakan jika kondisi ekonomi berubah secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa The Fed tetap waspada terhadap potensi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.
Analis dari berbagai bank besar dan badan riset memberikan pandangan yang beragam mengenai keputusan ini. Philip Straehl dari Morningstar Wealth menyatakan bahwa pemotongan suku bunga yang agresif menunjukkan keyakinan The Fed bahwa tren penurunan inflasi dapat dipertahankan. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa langkah ini mencerminkan pandangan The Fed terhadap potensi pelemahan ekonomi.
Beberapa analis juga menyoroti bahwa keputusan ini dapat memberikan dorongan positif bagi pasar saham dalam jangka pendek. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Secara keseluruhan, interpretasi analis mencerminkan campuran optimisme dan kehati-hatian terhadap langkah The Fed.
Analis memprediksi bahwa The Fed akan terus memantau kondisi ekonomi dan mungkin akan melakukan pemotongan suku bunga tambahan jika diperlukan. Beberapa analis juga memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi tetap rendah.
Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aset investasi. Pasar saham AS mengalami volatilitas, dengan indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 sempat naik sebelum akhirnya turun kembali. Selain itu, suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong investor untuk mencari aset dengan imbal hasil lebih tinggi, seperti saham dan obligasi korporasi.
Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah mungkin akan mengalami penurunan imbal hasil karena suku bunga yang lebih rendah. Hal ini dapat membuat obligasi korporasi dan aset berisiko lainnya menjadi lebih menarik bagi investor. Secara keseluruhan, keputusan ini dapat mempengaruhi alokasi aset dan strategi investasi dalam jangka pendek dan panjang.
Dengan suku bunga yang lebih rendah, sektor-sektor seperti consumer discretionary, real estate, dan utilitas mungkin menjadi lebih menarik bagi investor. Sektor-sektor ini cenderung mendapatkan manfaat dari biaya pinjaman yang lebih rendah dan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi. Selain itu, aset-aset yang memberikan dividen tinggi juga bisa menjadi pilihan menarik di tengah lingkungan suku bunga rendah.
Investor juga dapat mempertimbangkan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan dan keuangan. Meskipun sektor ini mungkin menghadapi tantangan dalam jangka pendek, potensi pertumbuhan jangka panjang tetap ada. Secara keseluruhan, keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga membuka peluang investasi di berbagai sektor yang dapat memberikan imbal hasil yang menarik.
Tak hanya pasar yang terpengaruh akan keputusan The Fed kali ini. Pialang - pialang aset dan investasi juga terpengaruh akan keputusan ini karena fluktuasi struktur biaya dan benefit yang diterima pengguna berkorelasi positif dengan tingkat suku bunga.
Adapun Pluang sebagai aplikasi investasi juga melakukan penyesuaian untuk beberapa produknya atas kebijakan yang diterbitkan The Fed. Beberapa diantaranya adalah produk USD Yield dan juga penurunan biaya Leverage yang nilainya akan disesuaikan dengan kebijakan ini (baca detil perubahan biaya dan benefit di sini). Penyesuaian ini dilaksanakan semata-mata demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna dalam menggunakan aplikasi Pluang untuk berinvestasi.
Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp10.000 dan hanya tiga kali klik saja!
Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!
Bagikan artikel ini