Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Analisis Pasar: Siklus Super Komoditas 2025 dan Peluang Investasi Strategis pada Sektor Logam
shareIcon

Analisis Pasar: Siklus Super Komoditas 2025 dan Peluang Investasi Strategis pada Sektor Logam

8 hours ago·Waktu baca: 11 menit
shareIcon
Kategori
Analisis Pasar: Siklus Super Komoditas 2025 dan Peluang Investasi Strategis pada Sektor Logam

Tahun 2025 menandai sebuah pergeseran paradigma dalam pasar komoditas global. Kenaikan harga yang signifikan pada logam mulia dan industri bukan sekadar cerminan dari siklus bisnis biasa, melainkan awal dari siklus super komoditas struktural yang baru, didorong oleh perubahan jangka panjang dalam permintaan global. Para analis melihat tanda-tanda siklus berkelanjutan yang sebanding dengan ledakan industrialisasi Tiongkok pada awal tahun 2000-an. Berbeda dengan reli-reli sebelumnya, kenaikan kali ini ditopang oleh konvergensi kekuatan-kekuatan fundamental yang kuat yang secara kolektif membentuk kembali lanskap permintaan sumber daya untuk dekade mendatang.

1.0 Pendahuluan: Munculnya Siklus Super Komoditas Struktural Baru

Tesis siklus super ini didasarkan pada tiga pendorong struktural utama yang saling terkait:

  • Transisi Energi dan Elektrifikasi Global: Upaya dekarbonisasi di seluruh dunia menciptakan gelombang permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk logam-logam yang penting bagi teknologi hijau (dengan permintaan perak dari sektor surya saja diproyeksikan mencapai 450+ juta ons pada tahun 2030). Tembaga, yang sering disebut sebagai "minyak baru," menjadi vital untuk kendaraan listrik (EV), instalasi energi terbarukan, dan modernisasi jaringan listrik. Selain itu, logam-logam seperti lithium, kobalt, dan nikel menjadi komponen inti baterai EV, sementara perak memainkan peran krusial dalam sel fotovoltaik.
  • Pembangunan Infrastruktur AI dan Pusat Data: Ledakan kecerdasan buatan (AI) telah memicu belanja modal masif. Seperti yang dicatat oleh Warren Pies dari 3Fourteen Research, permintaan untuk logam industri dan gas alam terkait langsung dengan "belanja modal yang sangat besar untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur AI," sementara John Velis dari BNY Mellon mengidentifikasi "booming capex terkait AI dan teknologi" sebagai faktor yang mengingatkan pada siklus super komoditas awal tahun 2000-an.
  • Penataan Ulang Geopolitik dan De-Dolarisasi: Ketidakpastian geopolitik yang meningkat, termasuk ketegangan di Eropa Timur, Asia Timur, dan operasi militer di Venezuela, telah mendorong bank-bank sentral untuk mendiversifikasi cadangan mereka dari Dolar AS. Negara-negara seperti Tiongkok, Polandia, India, dan Turki secara aktif mengakumulasi emas sebagai aset lindung nilai yang tidak memiliki risiko pihak lawan. Tren de-dolarisasi yang bertahap ini memberikan fondasi yang kuat bagi permintaan aset-aset safe-haven.

Kekuatan-kekuatan fundamental ini menciptakan lingkungan yang unik di mana permintaan struktural jangka panjang untuk logam mulia dan industri diperkirakan akan melampaui kendala pasokan. Laporan ini akan membedah narasi pasar yang ada, menganalisis fundamental spesifik dari logam-logam utama, dan mengidentifikasi peluang investasi yang strategis dalam siklus super yang baru muncul ini.

2.0 Membedah Narasi Pasar: Momentum Rasional vs. Skenario Keruntuhan Sistemik

Di tengah reli harga logam yang kuat pada tahun 2025, sangat penting untuk memisahkan pergerakan harga yang didorong oleh fundamental pasar yang rasional dari narasi spekulatif tentang keruntuhan ekonomi sistemik. Kenaikan harga yang tajam sering kali menarik perhatian para komentator yang meramalkan kegagalan mata uang fiat dan krisis keuangan. Bagian ini akan secara kritis mengevaluasi mekanisme pasar yang sebenarnya dan menyanggah klaim-klaim ekstrem tersebut untuk memberikan perspektif yang jernih dan dapat ditindaklanjuti bagi para investor institusional.

Mekanisme Pasar di Balik Kenaikan Harga Logam Mulia

Reli harga pada tahun 2025, meskipun signifikan, berakar pada mekanisme pasar yang sudah mapan, bukan pertanda keruntuhan. Analis Lance Roberts menyoroti bahwa harga jangka pendek, terutama untuk logam mulia, ditentukan di pasar berjangka seperti COMEX dan CME. Di sini, sebagian besar kontrak diselesaikan secara tunai dan tidak pernah mengarah pada pengiriman fisik. Akibatnya, harga lebih dipengaruhi oleh volume dan posisi pelaku pasar keuangan daripada oleh kelangkaan fisik yang mendesak.

Pergerakan pasar ini didorong oleh dua faktor utama: narasi dan momentum. Narasi seperti antisipasi penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve atau meningkatnya ketegangan geopolitik menarik minat institusional. Seiring harga mulai naik, momentum terbentuk, menciptakan "spiral virtual" di mana para pedagang mengejar harga yang lebih tinggi, yang pada gilirannya menarik lebih banyak investor.

Namun, pasar komoditas memiliki mekanisme koreksi diri yang kuat. Prinsip "obat untuk harga tinggi adalah harga tinggi" sangat relevan di sini. Menggunakan perak sebagai contoh, harga yang melonjak pada akhirnya akan menekan permintaan industri karena biaya input yang lebih tinggi dan secara bersamaan mendorong produsen untuk meningkatkan pasokan. Dinamika ini secara alami menyeimbangkan kembali pasar dari waktu ke waktu.

Selain itu, ketika volatilitas harga meningkat tajam, bursa akan menaikkan persyaratan margin—jaminan yang harus disetorkan oleh para pedagang. Tindakan ini bukanlah "manipulasi pasar," seperti yang sering dituduhkan oleh para penganut teori kiamat, melainkan alat manajemen risiko sistemik yang dirancang untuk mendinginkan spekulasi berlebihan dan melindungi integritas pasar.

Membantah Mitos Keruntuhan Mata Uang Fiat

Klaim bahwa reli logam menandakan keruntuhan mata uang fiat tidak didukung oleh bukti empiris. Jika keruntuhan seperti itu sedang terjadi, kita akan melihat beberapa indikator makroekonomi yang jelas, yang saat ini tidak ada:

  • Imbal hasil obligasi Treasury AS menunjukkan pengembalian total yang positif pada tahun 2025, bukan lonjakan tajam yang akan mengindikasikan hilangnya kepercayaan.
  • Tingkat inflasi di negara-negara maju telah moderat dari puncaknya pasca-pandemi, dan tidak ada tanda-tanda hiperinflasi.
  • Dolar AS, meskipun menghadapi diversifikasi bertahap, tetap menjadi mata uang cadangan global yang dominan, dan sistem pembayaran global terus berfungsi normal.

Argumen bahwa emas adalah "uang riil" dalam konteks modern lebih merupakan pendirian filosofis, bukan kebenaran fungsional. Emas diperdagangkan dalam dolar, dan untuk digunakan dalam transaksi sehari-hari, emas harus dikonversi menjadi mata uang fiat. Hal ini menjadikannya lebih sebagai aset spekulatif dan penyimpan nilai daripada alat tukar langsung. Dalam praktiknya, mata uang fiat tetap menjadi medium pertukaran utama.

Kesimpulannya, reli logam saat ini didasarkan pada perilaku investasi yang rasional sebagai respons terhadap ekspektasi kebijakan moneter, dinamika penawaran-permintaan, dan ketidakpastian geopolitik—bukan sebagai sinyal keruntuhan finansial yang akan datang. Pemahaman ini memungkinkan kita untuk beralih ke analisis fundamental yang mendalam untuk setiap logam utama.

3.0 Analisis Fundamental Logam Utama: Emas, Perak, dan Tembaga

Pemahaman mendalam tentang pendorong fundamental yang unik untuk setiap logam sangat penting untuk pengambilan keputusan investasi yang tepat dalam siklus super saat ini. Meskipun sentimen makro dapat mengangkat semua komoditas, dinamika penawaran dan permintaan spesifik pada akhirnya akan menentukan kinerja relatif. Bagian ini akan mengupas faktor-faktor kunci yang membentuk prospek untuk emas, perak, dan tembaga.

3.1 Emas: Jangkar Cadangan di Dunia yang Tidak Pasti

Reli emas yang mengesankan, yang mencapai rekor tertinggi di atas $4.550 per ons, didukung oleh fondasi fundamental yang kokoh, bukan sekadar spekulasi.

  • Permintaan Bank Sentral: Tulang punggung reli emas adalah pembelian strategis yang konsisten oleh bank-bank sentral di seluruh dunia. Lembaga-lembaga di Polandia, Tiongkok, Rusia, India, dan Turki secara aktif meningkatkan cadangan emas mereka. Menurut data dari World Gold Council, pembelian bersih kumulatif yang dilaporkan hingga Oktober 2025 mencapai 254 ton. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk diversifikasi dari Dolar AS dan memitigasi risiko geopolitik.
  • Kebijakan Moneter dan Suku Bunga: Siklus penurunan suku bunga yang diantisipasi dari The Federal Reserve secara signifikan meningkatkan daya tarik emas. Suku bunga yang lebih rendah menghilangkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, lingkungan di mana inflasi mereda tetapi pertumbuhan melambat menghidupkan kembali kekhawatiran akan stagflasi, sebuah skenario di mana emas secara historis menunjukkan kinerja yang sangat baik.
  • Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan yang terus berlanjut di Eropa Timur dan Asia Timur, ditambah dengan operasi militer di Venezuela, telah meningkatkan permintaan untuk aset-aset safe-haven. Status emas sebagai aset tanpa risiko pihak lawan (counterparty risk) menjadikannya pilihan utama bagi investor yang mencari perlindungan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

3.2 Perak: Aset Ganda sebagai Logam Teknologi dan Lindung Nilai

Perak muncul sebagai salah satu aset dengan kinerja terbaik pada tahun 2025, dengan kenaikan dilaporkan antara 141% hingga 190% dan sempat melampaui $83 per ons. Kinerja luar biasa ini didorong oleh perannya yang unik sebagai aset ganda.

  • Permintaan Industri Struktural: Tidak seperti emas, perak memiliki permintaan industri yang sangat besar dan terus berkembang, didorong oleh sektor-sektor utama transisi energi dan digital. Proyeksi menunjukkan permintaan perak dari sektor surya saja dapat meroket hingga lebih dari 450 juta ons pada tahun 2030 dalam skenario bullish, yang berpotensi menyumbang 25-30% dari total permintaan perak global. Perak juga merupakan komponen penting dalam kendaraan listrik (EV), pusat data AI, dan elektronik canggih.
  • Defisit Pasokan yang Persisten: Pasar perak menghadapi defisit pasokan struktural yang kronis. Tahun 2026 dapat menandai tahun keenam berturut-turut di mana permintaan melebihi pasokan tambang, membuat pasar sangat rentan terhadap pergerakan harga yang cepat dan signifikan.
  • Signifikansi Strategis: Pengakuan atas peran teknologi perak diperkuat ketika ditambahkan ke dalam Daftar Mineral Kritis Amerika Serikat pada November 2025. Status ini menggarisbawahi pentingnya perak bagi keamanan nasional dan industri-industri strategis.
  • Rasio Emas-Perak: Penurunan tajam rasio Emas-Perak (mendekati 58,6) secara jelas mencerminkan fundamental perak yang lebih kuat dan kinerjanya yang unggul dibandingkan emas selama periode ini.

3.3 Tembaga: Konduktor Transisi Energi dan Era AI

Tembaga mencapai level rekor, diperdagangkan di atas $5 per pon dan sempat melampaui $6 per pon, didorong oleh permintaan yang tak terelakkan dari dua megatren terbesar saat ini.

  • Permintaan Elektrifikasi: Tembaga adalah tulang punggung transisi energi. Logam ini merupakan komponen vital untuk kendaraan listrik, semua bentuk instalasi energi terbarukan (angin dan surya), serta modernisasi dan perluasan jaringan listrik global yang diperlukan untuk mendukung elektrifikasi.
  • Ledakan Permintaan AI: Pembangunan infrastruktur digital dan energi untuk pusat data AI yang haus daya menciptakan gelombang permintaan baru yang signifikan untuk tembaga. Dengan konsumsi listrik pusat data diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2030, kebutuhan akan tembaga untuk infrastruktur kelistrikan pendukung akan terus meroket.
  • Kendala Pasokan: Pasar tembaga global sudah ketat, dan situasinya diperparah oleh gangguan pasokan baru-baru ini di tambang-tambang utama, seperti insiden di tambang Grasberg di Indonesia. Proyeksi menunjukkan bahwa pasar tembaga global kemungkinan akan memasuki defisit struktural mulai tahun 2026, yang akan memberikan dukungan harga yang kuat di tahun-tahun mendatang.

Kekuatan fundamental yang berbeda dari ketiga logam ini menunjukkan bahwa siklus super saat ini memiliki banyak aspek. Analisis ini mengarah pada identifikasi peluang investasi yang jelas pada perusahaan-perusahaan yang diposisikan secara strategis untuk mendapatkan keuntungan dari tren-tren ini.

4.0 Peluang Investasi: Analisis Mendalam Freeport-McMoRan (FCX) dan Wheaton Precious Metals (WPM)

Setelah menetapkan tesis makro untuk siklus super komoditas yang didorong oleh transisi energi, AI, dan dinamika geopolitik, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang diposisikan secara unik untuk mendapatkan keuntungan. Bagian ini akan menganalisis dua perusahaan yang menonjol: Freeport-McMoRan, pemain utama tembaga yang tangguh, dan Wheaton Precious Metals, pemimpin global dalam model bisnis streaming logam mulia berisiko rendah.

4.1 Freeport-McMoRan Inc. (FCX): Pemain Tembaga yang Tangguh dan Siap untuk Normalisasi

Freeport-McMoRan (FCX) menyajikan peluang investasi yang menarik dengan peringkat "Beli". Meskipun menghadapi guncangan operasional yang signifikan di tambang Grasberg di Indonesia, perusahaan telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, membuktikan kekuatan model bisnisnya dan memposisikan dirinya untuk pertumbuhan seiring normalisasi operasi di tengah lingkungan harga tembaga yang kuat.

Ketahanan Operasional Menghadapi Insiden Grasberg

Pada Kuartal 3 2025, FCX melaporkan penurunan volume produksi yang tajam akibat insiden di Grasberg, dengan produksi tembaga turun 13% YoY dan emas turun 37% YoY. Namun, yang mengesankan adalah dampak minimal pada kinerja keuangan. Pendapatan hanya turun 1% YoY, arus kas operasi tetap kuat di angka $1,7 miliar, dan biaya tunai per pon tetap stabil. Kemampuan untuk mempertahankan margin dan arus kas di tengah penurunan volume yang signifikan ini menunjukkan efisiensi operasional dan kekuatan fundamental model bisnis FCX.

Jalan Menuju Normalisasi dan Prospek Pertumbuhan

Ketidakpastian seputar Grasberg telah mereda dengan jadwal yang jelas dari manajemen. Perusahaan berharap untuk memulai kembali operasi pada bulan Juli, dengan stabilisasi yang diharapkan pada paruh kedua tahun 2026. Proyeksi produksi perusahaan untuk periode 2027-2029 menunjukkan peningkatan volume tahunan rata-rata yang signifikan menjadi sekitar 1,6 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas. Dengan harga tembaga yang diperdagangkan secara kokoh di atas $5/lb, kembalinya ke volume produksi normal akan menjadi pendorong utama pendapatan dan arus kas di masa depan.

Analisis Valuasi dan Profitabilitas

Metrik P/E Forward (FWD) FCX saat ini, yang berada di sekitar 30x, terlihat tinggi. Namun, metrik ini terdistorsi oleh laba yang tertekan sementara akibat insiden Grasberg dan tidak mencerminkan potensi pendapatan normal perusahaan. Analisis yang lebih akurat harus berfokus pada kelipatan operasional seperti EV/EBITDA, yang berada di sekitar 8x—di bawah rata-rata industri—dan menunjukkan bahwa saham ini diperdagangkan dengan diskon relatif terhadap kapasitas operasinya yang sebenarnya.

Jika dibandingkan dengan para pesaingnya, valuasi FCX terlihat menarik. Perusahaan diperdagangkan dengan kelipatan P/S FWD sekitar 2,5x, sangat dekat dengan BHP (2,8x) tetapi jauh di bawah Southern Copper (9x). Meskipun marjin EBITDA FCX (35%) berada di bawah SCCO (57%), diskon valuasi yang signifikan ini menawarkan titik masuk yang lebih menarik bagi investor yang mencari eksposur tembaga murni, tidak seperti portofolio BHP yang terdiversifikasi.

Bagian terkuat dari tesis investasi FCX terletak pada profitabilitasnya yang superior. Dengan marjin laba kotor sekitar 39% dan marjin EBITDA antara 35-37%, FCX secara signifikan melampaui rata-rata sektornya. Metrik ini menggarisbawahi efisiensi operasional perusahaan dan kemampuannya untuk menghasilkan keuntungan yang kuat dari aset-asetnya.

Target Harga dan Risiko

Dengan asumsi konservatif bahwa bisnis hanya kembali normal tanpa memperhitungkan kenaikan harga tembaga lebih lanjut, target harga yang wajar untuk FCX berada di kisaran 50–55. Ini menyiratkan potensi kenaikan moderat sekitar 12-15% dari level saat ini. Tentu saja, investasi ini memiliki risiko, termasuk sensitivitas terhadap harga tembaga, potensi penundaan lebih lanjut dalam stabilisasi Grasberg, dan tekanan belanja modal di masa depan.

4.2 Wheaton Precious Metals Corp. (WPM): Laba Margin Tinggi dengan Model Streaming Berisiko Rendah

Wheaton Precious Metals (WPM) menawarkan cara yang cerdas dan unggul untuk mendapatkan eksposur terhadap kenaikan harga logam mulia, menjadikannya pilihan investasi "Beli" yang kuat. Model bisnis streaming-nya yang unik melindunginya dari risiko operasional penambangan sambil memberikan keuntungan margin tinggi.

Keunggulan Model Bisnis Streaming

Model bisnis streaming WPM bekerja dengan menyediakan modal di muka kepada perusahaan tambang. Sebagai imbalannya, WPM menerima hak untuk membeli persentase tertentu dari produksi logam mulia di masa depan dengan harga tetap yang rendah. Keuntungan utamanya adalah aliran pendapatan yang dapat diprediksi dan berbiaya rendah tanpa terpapar pada risiko operasional, inflasi biaya, atau belanja modal yang terkait dengan aktivitas penambangan fisik.

Kinerja Keuangan dan Profitabilitas yang Luar Biasa

WPM telah menghasilkan rekor pendapatan, laba, dan arus kas. Neraca keuangannya sangat kokoh, dengan tanpa utang, cadangan kas sebesar $1,158 miliar, dan fasilitas kredit yang belum ditarik sebesar $2,5 miliar, memberikan fleksibilitas finansial yang luar biasa untuk mendanai pertumbuhan di masa depan. Efisiensi model bisnisnya tercermin dalam margin keuntungannya yang luar biasa. Seperti yang ditunjukkan tabel di bawah, marjin laba bersih WPM jauh melampaui para penambang tradisional.

Perusahaan

Marjin Laba Bersih (TTM)

Wheaton Precious Metals (WPM)

54,7%

Newmont (NEM)

33,4%

Barrick Mining (B)

24,5%

Pada Kuartal 3 2025, marjin laba bersih kuartalan perusahaan bahkan mencapai 77,1% yang menakjubkan.

Portofolio Berkualitas Tinggi dan Prospek Pertumbuhan

WPM memiliki portofolio aset yang terdiversifikasi secara global dan berkualitas tinggi. Portofolionya terdiri dari aset-aset "landasan" yang memiliki umur panjang dan berbiaya rendah, dengan 83% produksinya berasal dari tambang yang berada di separuh terendah kurva biaya industri. Perusahaan memproyeksikan peningkatan produksi tahunan sebesar 40% selama lima tahun ke depan, menargetkan 870.000 GEO (gold equivalent ounces).

Valuasi dan Pertimbangan Risiko

Saham WPM diperdagangkan dengan valuasi premium, seperti yang ditunjukkan oleh TTM P/E sekitar 56x. Valuasi ini mencerminkan antusiasme pasar terhadap model bisnisnya yang superior, neraca keuangan yang kokoh, dan potensi pertumbuhan yang tinggi. Risiko utama bagi investasi ini adalah penurunan signifikan pada harga emas dan perak, yang akan secara langsung mempengaruhi pendapatan dan profitabilitasnya.

FCX dan WPM mewakili dua sisi terbaik dari koin siklus super komoditas, menawarkan eksposur yang berbeda namun saling melengkapi terhadap tren makro yang kuat yang sedang berlangsung.

5.0 Kesimpulan: Menavigasi Siklus Super dengan Eksposur Strategis

Laporan ini menegaskan bahwa reli komoditas yang disaksikan pada tahun 2025 bukanlah gelembung spekulatif yang digerakkan oleh momentum jangka pendek. Sebaliknya, ini menandai awal dari pergeseran struktural yang mendalam—sebuah siklus super baru yang didorong oleh pilar-pilar permintaan jangka panjang yang tak terelakkan: transisi energi global, pembangunan infrastruktur AI, dan penataan ulang geopolitik yang mendukung aset-aset riil. Ini bukan lagi tentang apakah siklus super akan datang; ini tentang bagaimana investor dapat memposisikan diri secara cerdas untuk berpartisipasi di dalamnya.

Untuk menavigasi lingkungan ini, pendekatan dua cabang yang menyeimbangkan eksposur industri langsung dengan keuntungan margin tinggi yang defensif merupakan strategi yang optimal.

  • Freeport-McMoRan (FCX): Direkomendasikan sebagai eksposur langsung yang tangguh terhadap permintaan industri dari elektrifikasi dan AI. Ketahanan operasional perusahaan, marjin EBITDA superior sebesar 35-37%, dan valuasi yang menarik saat kembali ke operasi normal menjadikannya pilihan yang menarik bagi investor yang mencari pertumbuhan yang terkait langsung dengan pembangunan infrastruktur fisik abad ke-21.
  • Wheaton Precious Metals (WPM): Direkomendasikan sebagai cara yang lebih aman dan sangat menguntungkan untuk memanfaatkan kenaikan harga logam mulia. Model streaming yang unggul menghasilkan marjin laba bersih TTM sebesar 54,7% dan neraca keuangan tanpa utang, melindunginya dari risiko operasional penambangan dan menawarkan kombinasi stabilitas dan potensi kenaikan yang kuat sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian moneter dan geopolitik.

Dengan berinvestasi di Freeport-McMoRan dan Wheaton Precious Metals, sebuah portofolio dapat mencapai partisipasi yang kuat dan seimbang dalam tesis siklus super komoditas. Strategi ini secara efektif menangkap potensi pertumbuhan dari permintaan industri tembaga sambil memanfaatkan keuntungan margin tinggi dan risiko yang lebih rendah dari logam mulia, memposisikan investor untuk sukses dalam lanskap pasar yang terus berkembang ini.

Ditulis oleh
channel logo

Jason Gozali

Right baner

Jason Gozali

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1