Berita & Analisis
Saham Emerging Markets Makin Bersinar di 2026










Didorong oleh kombinasi badai global antara pelemahan Dolar AS, lonjakan harga komoditas, dan valuasi yang masih sangat murah, pasar negara berkembang (EM) bukan lagi sekadar pelengkap portofolio. EM kini menjadi mesin utama pertumbuhan bagi investor yang mencari alfa di tengah jenuhnya pasar negara maju.
Quick Facts: Status Pasar Q1 2026
Indikator | Data / Estimasi |
Pertumbuhan Laba (EPS) EM 2026 | Proyeksi >20% (vs AS 15%) |
Sektor Kunci | Teknologi Asia, Pertambangan, Agrikultur |
Status Kepemilikan Institusi | Underweight (Potensi aliran dana masuk masih besar) |
Instrumen ETF Relevan | Vanguard Emerging Markets Stock Index Fund (VWO) |
Emiten Komoditas Unggulan | Freeport-McMoRan (FCX), Vale S.A. (VALE) |
Banyak pihak skeptis saat memasuki tahun 2025. Ancaman tarif dagang dari pemerintahan Trump dan kekhawatiran atas melambatnya konsumsi di Tiongkok sempat membayangi sentimen. Namun, realitas pasar berkata lain. Emerging Markets justru mencatatkan performa tangguh dengan kenaikan 33,6%, jauh melampaui S&P 500 yang "hanya" tumbuh 17% dan MSCI World sebesar 21%.
Ini adalah performa terbaik EM relatif terhadap negara maju sejak tahun 2017. Apa yang berubah?
Memasuki Q1 2026, tema besar investasi akan bergeser dari "US Growth" menuju "EM Growth & Value". Dengan aliran modal yang diprediksi akan mendominasi sektor komoditas dan aset riil. investor ritel Indonesia di Pluang dapat membeli Vanguard Emerging Markets Stock Index Fund ETF (VWO).
Secara historis, Dolar AS saat ini berada di level yang sangat mahal. Pada awal 2026, kita mulai melihat fenomena realokasi besar-besaran keluar dari aset AS. Penjualan Dolar ini secara otomatis menekan nilai tukar USD, yang menjadi berkah bagi negara berkembang.
Ketika Dolar melemah, terjadi efek domino positif bagi EM:
Salah satu hukum dasar pasar keuangan adalah korelasi negatif antara Dolar dan komoditas. Karena mayoritas komoditas dihargai dalam USD, Dolar yang lemah membuat harga energi, logam, dan pangan menjadi lebih murah bagi pembeli global, sehingga mendongkrak permintaan.
Bagi negara seperti Brasil, Indonesia, dan Chile yang merupakan eksportir utama, kondisi ini memperbaiki terms of trade dan memperkuat neraca berjalan. Pendapatan korporasi di sektor pertambangan dan agrikultur pun dipastikan meningkat tajam.
Selama bertahun-tahun, investor enggan melirik EM karena profitabilitasnya dianggap kalah jauh dibandingkan perusahaan raksasa AS. Namun, data Q1 2026 menunjukkan terjadinya konvergensi profit (titik temu).
Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan Earning Per Share (EPS) EM tahun ini mencapai 21%, jauh melampaui AS (15%) dan pasar maju lainnya (13%). Sektor teknologi di Asia kini tidak hanya bicara soal inovasi, tapi juga soal efisiensi modal yang mampu menyamai Return on Equity (ROE) pasar global. Jika tren ini berlanjut, kita sedang menyaksikan awal dari siklus kekuatan jangka panjang yang baru.
Meskipun terjadi reli besar sepanjang 2025, mayoritas investor institusi global ternyata masih berada dalam posisi underweight atau memiliki porsi saham EM di bawah bobot ideal dalam portofolio mereka.
Insight Strategis: Masih ada tumpukan "uang baru" yang sangat besar yang belum masuk ke pasar EM. Ketika institusi mulai melakukan rebalancing untuk menetralkan posisi mereka, permintaan terhadap saham EM akan melonjak, mendorong harga lebih tinggi lagi.
Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, likuiditas pasar EM juga didorong oleh kebangkitan investor ritel. Meski partisipasi ritel cenderung memiliki cakrawala waktu yang lebih pendek dan sering kali reaktif terhadap berita (sering terjadi panic selling atau euphoria buying), mereka memberikan volume perdagangan yang diperlukan bagi pasar untuk tetap dinamis. Bagi investor cerdas, volatilitas yang diciptakan ritel justru menjadi peluang untuk melakukan strategi active rotation dan thematic investing.
Data menunjukkan bahwa dominasi aset keuangan (saham/obligasi AS) terhadap aset riil (komoditas/properti/emas) telah mencapai titik jenuh yang mengingatkan kita pada dot-com bubble tahun 2000.
Memasuki 2026, terjadi "Reversion to the Mean". Aset riil mulai mengungguli aset keuangan.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Kondisi ekonomi di Q1 2026 memberikan pesan yang jelas: era dominasi tunggal pasar AS mulai memudar, memberi jalan bagi kebangkitan Emerging Markets. Dengan fundamental perusahaan yang menguat, valuasi yang masih kompetitif, dan posisi investor yang masih relatif kosong di kelas aset ini, risiko terbesar saat ini mungkin adalah tidak memiliki eksposur sama sekali di pasar negara berkembang.
Bagi Anda pengguna Pluang, momentum ini adalah saat yang tepat untuk mulai melihat aset-aset internasional selain saham teknologi AS. Baik itu melalui indeks pasar negara berkembang maupun komoditas strategis seperti emas, nikel dan tembaga, diversifikasi ke EM bisa menjadi kunci performa portofolio Anda di tahun 2026.
Note: Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan/atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


