Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Rupiah Terus Melemah, Apa yang Harus Dilakukan Ritel?
shareIcon

Rupiah Terus Melemah, Apa yang Harus Dilakukan Ritel?

20 Jun 2024, 11:02 AM·Waktu baca: 7 menit
shareIcon
Kategori
Rupiah Terus Melemah, Apa yang Harus Dilakukan Ritel?

Pelemahan rupiah menjadi aspek yang sangat penting untuk diperhatikan terkait dengan investasi dan pengelolaan keuangan, khususnya bagi Warga Negara Indonesia. Maka dari itu, penting untuk memahami penyebab dan aksi yang perlu dipertimbangkan dalam menyikapi persoalan ini.

Sobat cuan pasti sadar bahwa rupiah terus mengalami pelemahan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Per 19 Juni 2024, kurs rupiah terhadap dolar sudah mencapai Rp16,348 per 1 dolar Amerika Serikat. Apabila ditarik dari tahun 2013, rupiah telah mengalami pelemahan lebih dari 50% terhadap dolar.

Kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika

Merujuk pada kondisi ini, sesungguhnya apabila seorang investor yang kesehariannya bertransaksi dengan denominasi dolar, kemudian  berinvestasi di Indonesia pada tahun 2013 hingga sekarang dan dalam periode tersebut mendapat keuntungan 50%, sebenarnya, nilai dari kekayaan investor tersebut tidaklah berubah.

Ilustrasinya begini:

Investasi Awal (2013)

US$1,000 

Kurs USD/IDR (2013)

US$1 = Rp10,000

Konversi ke Rupiah

Rp10,000,000

Profit 2013-2024 (%)

50%

Profit 2013-2024 (Rp)

Rp5,000,000

Total Modal + Profit (2024)

Rp15,000,000

Kurs USD/IDR

US$1 = Rp15,000

Investasi Akhir (2024)

US$1,000

Artinya, US$1000 yang diinvestasikan pada tahun 2013 oleh investor tersebut tetap bernilai US$1000 pada akhir periode. Tentu ini menjadi fakta menarik mengapa hal ini bisa terjadi.

Umumnya, penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap dolar diakibatkan oleh berkurangnya cadangan devisa di dalam negara tersebut. Tapi tentu, penyebab pengurangan cadangan devisa tersebut bisa bermacam-macam. Bagaimana kasusnya dengan Indonesia? Mari kita coba bedah perlahan.

 

Penyebab Melemahnya Rupiah

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia yang menurun

Neraca perdagangan dapat menjadi sinyal penguatan atau pelemahan mata uang suatu negara. Impor yang lebih tinggi dari ekspor, membuat negara harus mengeluarkan cadangan devisanya lebih banyak, sehingga berpotensi menurunkan nilai mata uang negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, ekspor membawa devisa masuk ke dalam negeri dan berpotensi memperkuat mata uangnya.

Neraca Perdagangan Indonesia dibandingkan dengan Kurs USD/IDR

Kasus di Indonesia tak jauh berbeda. Pada kurun 2009-2011, neraca perdagangan kita masuk dalam kategori surplus, sehingga dolar mengalami penurunan. Namun setelahnya, masuk pada 2012, neraca perdagangan kita mengalami penurunan sampai ke angka negatif hingga tahun 2016, mengakibatkan dolar merangkak naik cukup signifikan. Penstabilan kembali terjadi dalam kurun 2021-2022 kala neraca perdagangan kita merangkak naik, sebelum penurunan surplus perdagangan mengakibatkan tren pelemahan rupiah sejak 2023 hingga kini.

Dollar Index yang semakin menguat

Dollar Index menjadi indikator yang menunjukkan kekuatan dolar dibanding mata uang negara lainnya. Semakin tinggi angka dollar Index, menunjukkan semakin kuat mata uang tersebut. Pada April 2024, angka dollar index sempat meningkat tajam 106,25, melemahkan berbagai mata uang berbagai negara.

Dollar Index dibanding Kurs USD/IDR

Ada beberapa alasan mengapa dollar index ini meningkat. Pertama, tensi geopolitik membuat investor berburu aset-aset yang tergolong safe haven. Selain emas, USD juga dianggap aset yang aman untuk disimpan dikala krisis.

Kedua, penguatan ekonomi AS juga menjadi faktor bagi investor untuk menyimpan asetnya dalam USD. Tren inflasi AS sedang mengalami penurunan, Laju CPI AS pada bulan Mei tercatat menjadi 3.3% YoY dari yang sebelumnya berada pada angka 3.4%.

Penurunan nilai mata uang berbagai negara dalam kurun waktu 1 tahun

Hal inilah yang membuat dolar AS menguat dibandingkan dengan mata uang lainnya. Dalam setahun kebelakang, di Asia, Jepang merupakan negara yang terkena dampak paling signifikan dimana mata uangnya melemah lebih dari 10%. Meski begitu, Indonesia berada dalam kategori yang juga tergolong cukup tinggi, pada angka 8.13%.

Keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia

Investor asing ketika berinvestasi di Indonesia, khususnya pasar saham Indonesia, tentu pasti membawa dolar ke negara kita untuk ditukarkan dengan rupiah, membuat kepemilikan dolar di republik ini semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya, keluarnya investor dari pasar di Indonesia, mengurangi cadangan dolar karena mereka akan menukarkan rupiah yang mereka pegang ke dolar. Sayangnya, tren sejak bulan Maret tahun ini menunjukkan keluarnya aliran dana asing dari bursa saham Indonesia.

Foreign Flow IHSG

Apabila memperhatikan arus Foreign Flow (garis berwarna merah) dari indeks IHSG, sejak bulan Maret, trennya terus mengalami penurunan, yang berkorelasi positif dengan penurunan IHSG. Pada bulan April sendiri, aliran dana asing yang keluar senilai Rp13.6 triliun, sedangkan pada bulan Mei sebesar Rp16.5 triliun.

Keluarnya investor asing dari pasar obligasi Indonesia

Mirip dengan konsep yang terdapat pada pasar saham, hengkangnya investor juga berarti hengkangnya dolar dari negara ini yang menyebabkan pelemahan rupiah. Sejak awal tahun, kepemilikan asing di SBN turun dari 14,93% di akhir 2023 menjadi 14,01%. 

Proporsi Investor Asing di SBN

Tak hanya itu, mengutip dari CNBC, terdapat Rp32.5 triliun nilai investasi asing pada pasar obligasi yang keluar dari Indonesia sejak awal tahun 2024 hingga April. 

Penyebab utama hengkangnya investor asing dari Indonesia menurut Henry Wibowo, Direktur JP Morgan Sekuritas Indonesia yang dilansir dari CNBC juga adalah spread yield SBN yang kurang menarik untuk kategori emerging market, sehingga investor lebih memilih untuk berinvestasi di negara maju.

Yield Obligasi SBN

Sumber: CNBC

Kebijakan Quantitative Tightening AS

Di kala era pandemi Covid-19, AS meluncurkan kebijakan krusial yakni quantitative easing dimana dolar dicetak dengan laju yang cepat untuk memberi stimulus bagi ekonomi AS yang lesu akibat pandemi.

Peningkatan peredaran dolar tersebut, membuat dolar pada akhirnya juga mengalir ke berbagai negara, khususnya negara berkembang dalam rangka investasi.

Namun pada pertengahan 2022, The Fed memutuskan untuk melakukan kebijakan tapering off atau quantitative tightenning untuk menekan laju inflasi dan juga menjaga peredaran dolar. Kebijakan ini mengakibatkan investor membawa kembali dolar dari negara-negara lain ke negara asalnya. Tak terkecuali Indonesia.

Ketidakpastian Keputusan The Fed

Bank Sentral AS, The Fed, belum memberikan kepastian akan kapan penurunan suku bunga akan dilakukan. Pada awalnya, diprediksi akan ada 3 kali pemotongan suku bunga di tahun 2024, namun prediksi tersebut berubah menjadi hanya satu kali berdasarkan hasil FOMC meeting terakhir. Prediksi penurunan paling cepat bisa jadi di September, namun beberapa analisa mengatakan bahwa kemungkinan pemotongan baru akan terjadi di Desember.

Ketidakpastian ini menimbulkan keraguan di pasar yang membuat investor banyak yang melakukan aksi wait and see sebelum ada kepastian, yang membuat mereka memiliki tendensi untuk menarik dan menyimpan dolar mereka.

 

Bagaimana untuk kembali bisa mengangkat nilai rupiah?

Meningkatkan Suku Bunga BI

Meningkatkan suku bunga dapat dilakukan untuk dapat menurunkan laju inflasi yang berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah. 

Pada bulan April 2024, Bank Indonesia memutuskan untuk meningkatkan BI-Rate sebanyak 25 bps menjadi 6.25%, dengan suku bunga suku bunga Deposit Facility menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 7,00%. Hal ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya risiko global. 

Namun tentu, hal negatif dari peningkatan suku bunga adalah juga pelambatan bisnis karena biaya untuk pinjaman juga menjadi mahal, khususnya sektor properti dan konstruksi yang rata-rata mayoritas operasi usahanya menggunakan hutang. 

Perubahan Consumer Behavior

Untuk meningkatkan nilai mata suatu uang negara, perlu aksi kolektif dari rakyatnya untuk melakukan aktifitas ekonomi yang menggunakan denominasi mata uang negara tersebut. Beberapa diantaranya adalah berorientasi untuk belanja produk dalam negeri dibanding impor, juga berwisata dalam negeri dibanding luar negeri.

Meningkatkan Ekspor

Usaha atau bisnis yang berlandaskan ekspor akan membawa devisa bagi negara ini. Devisa yang masuk kedalam negeri akan membantu meningkatkan nilai mata uang negara tersebut. Maka dari itu, pelemahan neraca perdagangan musti dapat diatasi agar angka ekspor Indonesia semakin meningkat

Peningkatan Investasi Asing

Masuknya aliran dana dari luar kedalam negeri akan membawa devisa kedalam sistem. Ini tentunya akan meningkatkan peredaran dolar di dalam negeri yang berpotensi meningkatkan kembali nilai rupiah. Sayangnya, tren keluarnya modal asing sedang berlangsung  Intervensi pemerintah dari sisi kebijakan untuk membuat Indonesia atraktif di mata investor akan sangat mungkin diperlukan.

 

Alternatif bagi Investor Ritel

Melihat banyaknya ketidakpastian dalam ekonomi global pasti membuat sobat cuan sekalian sebagai investor ritel Indonesia tentu mengalami kebimbangan dalam mengatur strategi investasinya.

Tren pelemahan rupiah ini tentu bisa menjadi wake-up call bagi sobat cuan semua untuk mulai melakukan diversifikasi lebih lanjut terhadap portofolio investasi kalian. Aksi ini bisa menjadi strategi lindung nilai atau hedging bagi aset sobat. Maka dari itu, perlu adanya porsi investasi yang bukan tergolong IDR-based asset untuk terhindar dari resiko pelemahan rupiah. 

Ada beberapa opsi yang bisa diambil untuk berinvestasi pada aset yang bukan tergolong dalam denominasi rupiah. Opsi pertama yang bisa diambil adalah berinvestasi pada aset alternatif seperti mata uang digital atau aset kripto. Meski memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi, aset ini tidak dinilai menggunakan denominasi rupiah, melainkan dolar AS, sehingga menghindarkan dari resiko pelemahan rupiah. Opsi kedua adalah berinvestasi pada aset saham global, dimana saham-saham perusahaan tersebut juga ditransaksikan bukan dengan mata uang rupiah, melainkan dolar AS. Nah, kedua kelompok aset ini, merupakan kelompok aset yang bisa dimiliki oleh sobat cuan di aplikasi Pluang.

Tentu, meski tidak ditransaksikan dalam rupiah pada pasar global, kedua aset tersebut juga memiliki karakter dan dan resikonya masing-masing. Maka dari itu, kebijaksanaan dari sobat cuan sangatlah dibutuhkan sebelum mengambil keputusan apapun dalam berinvestasi dan pastikan juga sobat cuan juga melakukan riset sendiri, ya.

 

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang dan gabung bersama lebih dari 10 juta investor dan trader yang sudah mempercayai Pluang untuk investasi 800+ aset seperti aset kripto, saham AS dan Indeks, emas digital, dan reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Di Pluang, Sobat Cuan bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Selain itu, Sobat Cuan juga bisa memanfaatkan berbagai fitur unggulan dari Pluang, seperti Pockets, Recurring Buy, hingga Pluang Cuan. 

Dengan memanfaatkan Pockets & Recurring Buy, Sobat Cuan bisa berinvestasi secara rutin dan berulang di beberapa aset sekaligus secara otomatis sesuai dengan trading plan masing-masing. Selain itu, Sobat Cuan juga bisa memanfaatkan fitur Pluang Cuan untuk mendapatkan imbal hasil tambahan ketika berinvestasi di aset kripto Bitcoin dan Ethereum di aplikasi Pluang. 

Ditulis oleh
channel logo

Pius Bagas H

Right baner

Pius Bagas H

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1