ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
BoJ Siap Naikkan Suku Bunga, Waspada Potensi Crash Pasar Global di Maret 2026
shareIcon

BoJ Siap Naikkan Suku Bunga, Waspada Potensi Crash Pasar Global di Maret 2026

42 minutes ago
·
Waktu baca: 4 menit
shareIcon
BoJ Siap Naikkan Suku Bunga, Waspada Potensi Crash Pasar Global di Maret 2026
Pasar keuangan global kini berada dalam posisi siaga tinggi. Setelah sempat diguncang oleh volatilitas hebat tahun lalu, bayang-bayang market crash kembali muncul menyusul sinyal kuat bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan—bahkan mungkin di awal Maret ini.

Langkah ini diprediksi akan memicu pembongkaran besar-besaran strategi Yen Carry Trade, yaitu menginvestasikan Yen ke kurs lain, yang selama bertahun-tahun telah membanjiri pasar aset berisiko dengan modal murah. Dengan adanya carry trade, apabila BOJ menaikan suku bunga, funding akan semakin mahal dengan adanya kenaikan suku bunga dan kurs Yen, sehingga terdapat potensi market crash, karena long term holder yang dulunya mendapatkan funding dari Jepang, melakukan sell off untuk close position. 

Key Takeaways

  • Kenaikan Bunga di Depan Mata: BoJ diprediksi menaikkan suku bunga ke 1,00% pada pertemuan 18-19 Maret 2026 untuk meredam pelemahan Yen.
  • Risiko Unwinding Carry Trade: Penguatan Yen dan kenaikan bunga di Jepang memaksa investor global menjual aset luar negeri mereka untuk membayar utang Yen, memicu aksi jual masif.
  • Titik Pemicu Psikologis: Level 1% dianggap sebagai ambang batas di mana rumah tangga Jepang akan mulai memindahkan dana besar-besaran dari uang tunai ke deposito bank.
  • Tekanan Politik: PM Sanae Takaichi memerlukan penguatan Yen untuk menekan inflasi biaya impor yang membebani masyarakat Jepang.

Sinyal dari "Orang Dalam" dan Tekanan Politik

Mantan anggota dewan BoJ, Makoto Sakurai, mengungkapkan bahwa pelemahan Yen yang terus berlanjut telah menjadi "sakit kepala" politik bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi. Dengan Yen yang tertahan di level 155 per Dolar AS—jauh di bawah level saat Takaichi menjabat—tekanan untuk bertindak semakin nyata.

"Intervensi mata uang hanya berefek sementara. Cara terbaik melawan pelemahan Yen adalah dengan menaikkan suku bunga," ujar Sakurai.

Pertemuan penting antara PM Takaichi dan Presiden AS Donald Trump di Washington bulan depan diprediksi akan menjadi katalis. Washington diperkirakan lebih menyukai penguatan Yen, dan BoJ mungkin menggunakan kenaikan upah musim semi sebagai pembenaran untuk menaikkan suku bunga dari 0,75% menuju 1,00%.

Mengapa Carry Trade Bisa Mematikan?

Fenomena carry trade terjadi ketika investor meminjam Yen (yang bunganya sangat rendah) untuk membeli aset dengan imbal hasil tinggi di negara lain, seperti saham teknologi di AS atau obligasi pasar berkembang.

Namun, ketika bunga di Jepang naik:

  1. Biaya Pinjaman Membengkak: Keuntungan dari selisih bunga mengecil.
  2. Repatriasi Modal: Investor terpaksa menjual aset mereka secara massal untuk membayar kembali pinjaman Yen.
  3. Efek Domino: Penjualan aset global secara serentak inilah yang memicu jatuhnya harga saham dan instrumen keuangan lainnya (crash).

Proses Terjadinya Market Crash (Step-by-Step)

  1. BoJ Menaikkan Suku Bunga: Biaya pinjaman dalam Yen meningkat secara mendadak.
  2. Yen Menguat (Appreciation): Karena bunga naik, permintaan terhadap Yen meningkat; nilai tukar JPY/USD menguat tajam.
  3. Margin Call & Profit Taking: Investor yang memiliki utang Yen melihat nilai utang mereka dalam mata uang lokal membengkak. Mereka terpaksa menjual saham atau obligasi global untuk menutup posisi.
  4. Aksi Jual Berantai: Penjualan aset di bursa global (seperti NASDAQ atau IHSG) menciptakan kepanikan pasar, memicu penurunan harga yang drastis (crash).

Ancaman Likuiditas: Migrasi Dana Rumah Tangga ke Deposito

Ekonom terkemuka Ikuko Samikawa memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga ke level 1% adalah "titik pemicu" bagi rumah tangga Jepang untuk memindahkan uang tunai mereka kembali ke deposito bank.

Pergeseran dana besar-besaran ini dapat mempersulit kendali BoJ atas pasar uang. Dengan neraca BoJ yang telah membengkak lima kali lipat selama dua dekade terakhir, ketidakpastian mengenai bagaimana dana akan bergerak dalam rezim suku bunga positif sangatlah tinggi.

Berapa Kali Lagi Proyeksi Suku Bunga Naik?

Sakurai memproyeksikan BoJ perlu menaikkan suku bunga dua kali pada tahun 2026 dan dua kali lagi pada tahun 2027 untuk mencapai tingkat "netral" sebesar 1,75%.

Meskipun ini bertujuan menstabilkan inflasi dan Yen, langkah yang terlalu cepat akan berisiko:

  • Memicu kebangkrutan pada perusahaan kecil di Jepang.
  • Memperburuk neraca keuangan bank-bank regional.
  • Menciptakan volatilitas ekstrem di pasar saham global yang sudah terbiasa dengan "uang gratis" dari Jepang.

Kesimpulan untuk Investor: Bulan Maret akan menjadi periode krusial. Jika BoJ benar-benar menaikkan suku bunga pada rapat 18-19 Maret mendatang, pasar global harus bersiap menghadapi pengetatan likuiditas yang bisa memicu koreksi tajam.

Risks & Considerations

  • Risiko Likuiditas: Pembongkaran carry trade seringkali tidak terjadi perlahan, melainkan dalam guncangan singkat yang sangat dalam.
  • Kebangkrutan UKM: Banyak perusahaan kecil di Jepang terbiasa dengan bunga nol; kenaikan ke 1% bisa memicu gelombang kebangkrutan.
  • Stabilitas Sistem Perbankan: Bank regional Jepang mungkin mengalami kerugian pada portofolio obligasi mereka saat imbal hasil (yield) naik.
  • Ketidakpastian Global: Jika ekonomi AS melambat di saat yang sama, dampak crash bisa berlipat ganda.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Mengapa kenaikan bunga di Jepang berpengaruh ke pasar saham AS/Indonesia? Karena banyak modal yang berputar di pasar global berasal dari pinjaman Yen yang murah.
  2. Kapan tepatnya pasar akan crash?
    Tidak ada yang tahu pasti, namun sejarah menunjukkan volatilitas tinggi terjadi tepat setelah pengumuman BoJ atau saat Yen menguat di bawah level 150.
  3. Kenapa PM Takaichi ingin Yen kuat?
    Yen yang lemah membuat harga bensin dan makanan impor mahal, yang menurunkan tingkat kepuasan publik.
  4. Apakah kenaikan bunga ini akan berlanjut?
    Ya, mantan anggota dewan BoJ memprediksi kenaikan bertahap hingga 1,75% pada tahun 2027.
  5. Apa itu "Suku Bunga Netral"?
    Level suku bunga yang dianggap tidak memicu inflasi tapi juga tidak menghambat pertumbuhan ekonomi.
  6. Bagaimana pengaruhnya terhadap tabungan masyarakat?
    Masyarakat akan mulai memindahkan uang dari bawah kasur ke deposito karena bunga mulai terasa menguntungkan.
  7. Apakah BoJ pasti menaikkan bunga di Maret?
    Peluangnya besar, namun sangat bergantung pada data pertumbuhan upah yang rilis di bulan yang sama.
  8. Apa yang harus dilakukan investor ritel?
    Mengurangi leverage (utang) dan meningkatkan posisi kas untuk mengantisipasi volatilitas.

Sources

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1