









Jika aturan baru ini diterapkan, diperkirakan akan terjadi penarikan dana asing pasif (outflow) lebih dari USD 2 miliar (sekitar Rp31 triliun).Hal ini sebabkan karena banyak emiten besar di Indonesia memiliki rata-rata free float terkecil di Asia. Jika metodologi baru menemukan bahwa saham yang beredar di publik lebih sedikit dari yang dilaporkan, investor pasif terpaksa menjual posisi mereka.
Bagaimana MSCI ingin menghitung free float baru?
Dengan adanya aturan tersebut, saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi, seperti milik konglomerat Prajogo Pangestu (PT Petrindo Jaya Kreasi/CUAN - 84% kepemilikan dan PT Barito Pacific/BRPT - 71%), diprediksi akan sangat terdampak.
Namun, risiko ini lebih bersifat teknikal dan jangka pendek (risiko outflow), bukan cerminan pelemahan fundamental emiten. Dalam jangka panjang, kebijakan ini justru bertujuan meningkatkan transparansi dan kualitas indeks Indonesia agar lebih sejalan dengan standar global, sekaligus mendorong emiten untuk memperbaiki struktur kepemilikan dan likuiditas sahamnya.
Meskipun ada risiko outflow besar pada Mei nanti, terdapat beberapa emiten yang diprediksi masuk ke dalam indeks MSCI pada tinjauan Februari 2026:
Didirikan pada 1973, BUMI menguasai sekitar 10% total produksi batu bara Indonesia melalui anak usahanya: Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin Indonesia, dan Pendopo Energi Batubara
hingga bulan September 2025, BUMI membukukan pendapatan sebesar USD1,03 miliar atau naik 11,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai USD926,9 juta. Namun, laba bersih perusahaan tercatat menurun menjadi USD60,1 juta, atau turun 56% dari USD136,4 juta pada tahun sebelumnya yang disebabkan oleh penurunan harga batubara.
Dari sisi operasional, volume produksi batu bara BUMI turun 4% menjadi 54,9 juta ton, sementara volume penjualan turun 2% menjadi 54,5 juta ton, bertepatan dengan penurunan harga rata-rata FOB yang mencapai 18% menjadi USD60,4 per ton.
Untuk panduan kinerja Bumi Resources (BUMI) tahun 2025, yaitu volume penjualan 73-75 juta ton; harga rata-rata yang diproyeksikan USD 59- USD 61 per ton; dan biaya tunai produksi sekitar USD 41- USD 43 per ton.
Treasure Global Investment, milik Antoni Salim telah melakukan penjualan saham BUMI sebedar 4,9% pada 19 Januari 2026, sehingga kepemilikan sahamnya di BUMI menjadi 3,2%. Pada 19 Januari 2026, terdapat transaksi nego jumbo BUMI. Dalam transaksi tersebut, sekitar 18,2 miliar saham BUMI berpindah tangan pada harga rata-rata Rp380 per saham, dengan total nilai mencapai kurang lebih Rp6,9 triliun.
Langkah strategis paling signifikan BUMI baru-baru ini adalah akuisisi 100% saham Wolfram Limited, perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia, pada November 2025. Akusisi ini sangat menarik karena:
BUMI telah menyiapkan belanja modal sebesar USD 5,8 juta untuk peningkatan aset awal dan tambahan USD 45,5 juta pada tahun 2029 untuk membangun fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) guna memperluas output emas. Jika Wolfram mencapai volume penjualan 40koz pada tahun 2027, segmen emas ini diproyeksikan menyumbang pendapatan tambahan sebesar USD 221 juta. Kontribusi ini mewakili kenaikan sebesar 13,6% dari perkiraan pendapatan BUMI sebelumnya.
Di bawah kendali baru grup Barito milik Prajogo Pangestu sejak tahun 2024, PTRO kini berada di jalur cepat ekspansi yang diprediksi akan mengubah peta persaingan industri jasa pertambangan dan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) nasional.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025 (9M25), PT Petrosea Tbk (PTRO) menunjukkan performa bisnis yang sangat impresif dengan mencatatkan pendapatan sebesar USD 603,8 juta, tumbuh 18,4% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Pertumbuhan ini ditopang oleh dua pilar utama: segmen pertambangan yang naik 18,4% (menjadi USD 301,0 juta) dan segmen EPC yang melonjak 20,0% (menjadi USD 271,8 juta). Selain itu, divisi EPCI yang baru dibentuk mulai menunjukkan kontribusi sebesar USD 5,9 juta.
Meskipun pendapatan jasa mengalami koreksi sebesar 15,1% menjadi USD 23,3 juta, perolehan dari segmen lain berhasil menutup celah tersebut. Dari sisi profitabilitas, laba kotor perusahaan masih tumbuh 2,6% menjadi USD 73,8 juta. Namun, margin laba kotor mengalami penyempitan dari 14,1% menjadi 12,2% akibat lonjakan biaya operasional pabrik dan peralatan sebesar 50,1% yang dipicu oleh ekspansi armada besar-besaran perusahaan.
Salah satu indikator paling kuat dari kebangkitan PTRO adalah nilai backlog kontrak yang terus membengkak. Hingga semester pertama 2025, PTRO membukukan kontrak sebesar USD 4,32 miliar atau setara dengan Rp70,11 triliun. Beberapa kontrak strategis yang berhasil ditandatangani sepanjang tahun 2025 meliputi:
Dengan portofolio kontrak yang terdiversifikasi mulai dari batubara, nikel, hingga tembaga dan emas, PTRO memiliki visibilitas pendapatan multi-tahun yang sangat solid
PTRO tidak hanya tumbuh secara organik, tetapi juga sangat agresif dalam melakukan akuisisi strategis untuk memperkuat segmen EPCI (Engineering, Procurement, Construction, and Installation). Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah mengalokasikan dana sekitar USD 56,9 juta untuk aksi korporasi ini.
Langkah-langkah akuisisi tersebut meliputi:
Langkah-langkah ini secara struktural akan meningkatkan profitabilitas perusahaan, terutama pada margin EBITDA yang diproyeksikan naik.
Agresivitas PTRO dalam mengambil kontrak dan akuisisi berdampak pada profil utang perusahaan. Hingga tahun 2025, perusahaan telah mengamankan pendanaan sekitar USD 668 juta melalui obligasi dan pinjaman dari bank besar (BNI, BCA, Mandiri). Rincian pendanaan tersebut antara lain:
Untuk menjaga kedisiplinan finansial sambil terus mengejar target pertumbuhan, manajemen PTRO mulai mempertimbangkan opsi pendanaan ekuitas (equity raise). Langkah ini dianggap sebagai solusi praktis karena:
PT Pantai Indah Kapuk 2 Tbk (PANI) adalah emiten properti raksasa dengan posisi keuangan sangat kuat berkat suntikan dana rights issue sebesar Rp15,7 triliun. Dengan adanya kenaikan free float dari 12,2% menjadi 15,9%, PANI berpotensi menjadi penghuni MSCI standard cap.
Kinerja Gemilang 9M25, PANI mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang mencapai Rp791,3 miliar, melonjak 62,62% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh omzet sebesar Rp3,1 triliun (naik 48,33% YoY). Menariknya, perusahaan berhasil menjaga efisiensi di mana beban pokok hanya tumbuh tipis, sehingga laba bruto melesat 69,17% menjadi Rp2,03 triliun. Dari sisi neraca, fundamental PANI semakin solid dengan total ekuitas naik menjadi Rp30,71 triliun, posisi kas yang kuat sebesar Rp4,6 triliun, serta keberhasilan menekan liabilitas sebesar 6,16% menjadi Rp18,75 triliun.
Pencapaian 9M25 ini melampaui ekspektasi pasar, mencakup 139% dari estimasi internal. Hal ini memicu revisi naik target laba bersih tahun penuh 2025 sebesar 78% menjadi Rp1,0 triliun. Pendapatan untuk FY25 kini diprediksi akan menyentuh Rp3,9 triliun.
PT Pantai Indah Kapuk 2 Tbk (PANI) secara resmi telah merampungkan aksi korporasi rights issue (PMHMETD III) pada akhir Desember 2025 dengan pencapaian dana segar mencapai Rp15,7 triliun. Keberhasilan ini tercatat sebagai salah satu penghimpunan modal terbesar di sejarah pasar modal Indonesia, di mana perusahaan menerbitkan sekitar 1,21 miliar saham baru. Seluruh dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat permodalan dan mendanai ekspansi strategis di kawasan PIK2, khususnya melalui penyertaan modal pada empat anak usaha seperti PT Bangun Kosambi Sukses, PT Cahaya Inti Sentosa, PT Karunia Utama Selaras, dan PT Panorama Eka Tunggal.
Dana tersebut dialokasikan untuk mengakuisisi hingga 44,1% saham di CBDK, yang akan memperkuat skala aset, visibilitas pendapatan berulang (recurring income), dan profitabilitas perusahaan.
PANI menempatkan pusat konvensi NICE (Nusantara International Convention Exhibition) sebagai katalis utama pendapatan berulang (recurring income) yang diproyeksikan menyumbang Rp450–500 miliar per tahun. Fasilitas MICE terbesar di Indonesia ini telah beroperasi lebih awal dari jadwal dan secara strategis melampaui kapasitas kompetitor seperti ICE BSD, yang didukung oleh performa keuangan 9M25 yang luar biasa dengan laba bersih mencapai Rp791,3 miliar (tumbuh 62,62% YoY). Keberhasilan rights issue sebesar Rp15,7 triliun memberikan fleksibilitas modal bagi PANI untuk mengintegrasikan NICE dengan ekosistem komersial dan perhotelan di PIK 2.
Di sisi lain, pembukaan Tol Kamal-Teluknaga-Rajeg (KATARA) menjadi game changer yang secara drastis meningkatkan aksesibilitas kawasan PIK 2 dari Bandara Soekarno-Hatta dan pusat bisnis Jakarta. Konektivitas infrastruktur ini secara langsung mengakselerasi marketing sales residensial karena memangkas waktu tempuh dan meningkatkan nilai investasi kaveling komersial, yang tercermin pada lonjakan omzet PANI sebesar 48,33% menjadi Rp3,1 triliun hingga September 2025. Sinergi antara akses tol yang efisien dengan fasilitas kelas dunia seperti NICE menciptakan siklus pertumbuhan yang kuat, di mana peningkatan arus pengunjung ke kawasan secara otomatis mendongkrak permintaan hunian premium dan memperkuat posisi PANI sebagai pengembang kota mandiri paling progresif di Indonesia.
MSCI tengah mempertimbangkan pengetatan definisi free float dengan menggunakan data KSEI, yang berpotensi menurunkan perhitungan free float saham-saham besar Indonesia dan memicu outflow pasif lebih dari USD 2 miliar mulai Mei 2026, terutama pada emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi. Meski demikian, risiko ini bersifat teknikal dan jangka pendek, sementara dalam jangka panjang bertujuan meningkatkan kualitas dan transparansi indeks. Di tengah dinamika tersebut, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Pantai Indah Kapuk 2 Tbk (PANI) justru muncul sebagai kandidat masuk indeks MSCI pada Februari 2026, didukung perbaikan free float, kinerja operasional yang solid, aksi korporasi strategis, serta visibilitas pertumbuhan jangka menengah yang kuat.


