ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Bagaimana Emas dan Perang Menghancurkan Dunia: Kisah di Balik Depresi Besar
shareIcon

Bagaimana Emas dan Perang Menghancurkan Dunia: Kisah di Balik Depresi Besar

27 Jan 2026, 7:07 AM
·
Waktu baca: 5 menit
shareIcon
Bagaimana Emas dan Perang Menghancurkan Dunia: Kisah di Balik Depresi Besar
Banyak orang mengira bahwa Depresi Besar, masa di mana ekonomi dunia hancur lebur pada tahun 1929 hingga 1930-an, hanya disebabkan oleh orang-orang yang terlalu serakah bermain saham di Wall Street. Namun, jika kita menggali lebih dalam, ada cerita yang jauh lebih kompleks dan dramatis. Ini adalah kisah tentang bagaimana logam mulia bernama emas, yang seharusnya menjadi jangkar stabilitas, justru berubah menjadi senjata yang menghancurkan kehidupan jutaan orang.

Berdasarkan pemikiran ekonom Hu McCulloch, mari kita telusuri perjalanan panjang ini, mulai dari parit-parit perlindungan di Perang Dunia I hingga antrean orang lapar di jalanan New York.

Bab 1: Pesona Standar Emas yang Stabil

Sebelum tahun 1914, dunia ekonomi terlihat sangat rapi. Hampir semua negara maju menggunakan sistem Standar Emas. Bayangkan sebuah dunia di mana uang kertas yang kamu pegang bukanlah sekadar kertas tak bermakna, melainkan sebuah "sertifikat" yang menjamin bahwa ada bongkahan emas asli yang disimpan oleh pemerintah untukmu.

Jika kamu punya 20 Dollar, kamu bisa pergi ke bank dan menukarnya dengan satu troy ounce emas. Karena semua negara melakukan hal yang sama, nilai mata uang antar negara menjadi sangat stabil. Tidak ada drama kurs mata uang yang naik-turun tajam seperti sekarang. Stabilitas ini membuat perdagangan internasional berjalan lancar. Namun, sistem ini punya satu syarat mutlak: pemerintah tidak boleh mencetak uang lebih banyak daripada jumlah emas yang mereka miliki di gudang.

Lalu, datanglah badai besar bernama Perang Dunia I.

Bab 2: Perang Menghancurkan Aturan Main

Tahun 1914, Eropa terbakar oleh perang. Perang membutuhkan biaya yang luar biasa besar untuk membangun tank, pesawat, dan memberi makan jutaan tentara. Masalahnya, cadangan emas negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Jerman tidak cukup untuk membiayai itu semua.

Pemerintah Eropa pun mengambil keputusan nekat:

  1. Meninggalkan Standar Emas: Mereka berhenti mengizinkan rakyat menukar uang dengan emas.

  2. Mencetak Uang Tanpa Henti: Mereka mencetak uang kertas sebanyak mungkin untuk membiayai perang, meski tidak ada emas tambahan sebagai jaminannya.

  3. Membuang Emas ke Amerika: Untuk membeli senjata dan gandum, Eropa mengirimkan cadangan emas mereka ke Amerika Serikat (yang saat itu masih netral di awal perang).

Apa dampaknya? Karena Eropa tidak lagi menggunakan emas sebagai cadangan uang, permintaan dunia terhadap emas menurun drastis. Emas jadi "murah" nilainya. Karena Amerika tetap setia pada standar emas, membanjirnya emas dari Eropa membuat jumlah uang di Amerika melonjak.

Hasilnya adalah Inflasi Besar. Harga barang-barang di Amerika naik dua kali lipat dalam hitungan tahun. Masyarakat mulai terbiasa hidup dengan harga barang yang mahal, mengira bahwa itulah "normal baru" mereka.

Bab 3: Ketenangan Semu di Tahun 1920-an

Setelah perang berakhir pada 1918, kondisi ekonomi dunia berantakan. Amerika Serikat sempat mengalami resesi singkat pada 1920-1922 saat mencoba menurunkan harga-harga kembali ke tingkat yang lebih masuk akal. Namun, di Eropa, kondisinya jauh lebih kacau. Jerman mengalami hiperinflasi (di mana uang tidak ada harganya sama sekali), sementara Inggris dan Prancis berjuang keras untuk pulih.

Selama tahun 1922 hingga 1928, dunia seolah-olah baik-baik saja. Ini adalah masa yang disebut "The Roaring Twenties". Orang-orang berpesta, industri berkembang, dan harga barang relatif stabil. Tapi, Hu McCulloch menekankan bahwa stabilitas ini adalah stabilitas semu.

Masalah utamanya adalah: dunia ingin kembali ke standar emas seperti sebelum perang, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang salah. Mereka menciptakan sistem "Standar Pertukaran Emas". Di sistem ini, negara-negara kecil tidak menyimpan emas asli, melainkan menyimpan Dollar atau Poundsterling sebagai cadangan. Mereka percaya bahwa Dollar dan Poundsterling "sama bagusnya dengan emas". Ini adalah fondasi yang sangat rapuh.

Bab 4: Perebutan Emas dan "Lubang Hitam" di Prancis

Bencana mulai mengetuk pintu ketika negara-negara Eropa mulai merasa tidak aman. Mereka ingin memiliki emas fisik di gudang mereka sendiri, bukan sekadar memegang Dollar milik orang lain.

Prancis menjadi aktor utama di sini. Setelah menstabilkan mata uang mereka (Franc), pemerintah Prancis mulai mengumpulkan emas dengan sangat agresif. Mereka menjual simpanan Dollar dan Poundsterling mereka untuk ditukarkan dengan emas batangan. Emas-emas ini kemudian dikunci rapat di gudang Bank Prancis dan tidak pernah dikeluarkan lagi ke pasar (proses ini disebut sterilisasi).

Prancis menjadi semacam "lubang hitam" yang menyedot emas dunia. Di saat yang sama, permintaan global terhadap emas melonjak karena semua negara ingin kembali ke standar emas yang ketat.

Sesuai hukum ekonomi dasar: ketika permintaan barang (emas) naik tapi jumlahnya terbatas, maka nilai barang tersebut akan melonjak tinggi.

Karena nilai emas melonjak, dan Dollar Amerika saat itu terikat mati pada harga emas ($20,67 per ounce), maka nilai Dollar otomatis ikut meroket. Jika nilai uang naik terlalu tinggi, maka harga barang harus jatuh. Inilah awal mula Deflasi Besar.

Bab 5: Mengapa Deflasi Lebih Menakutkan daripada Inflasi?

Banyak orang berpikir harga turun adalah berita bagus. Tapi dalam sistem ekonomi yang penuh utang, deflasi adalah racun.

Mari kita gunakan logika yang mudah. Bayangkan seorang pengusaha di tahun 1926 meminjam uang $10.000 untuk membangun pabrik. Saat itu, dia menjual sepatu seharga $10 per pasang. Artinya, dia butuh menjual 1.000 pasang sepatu untuk melunasi utangnya.

Tiba-tiba, di tahun 1930, terjadi deflasi karena rebutan emas tadi. Harga sepatu jatuh menjadi $5 per pasang. Apakah utang si pengusaha di bank ikut turun jadi $5.000? Tentu tidak. Utangnya tetap $10.000. Sekarang, dia harus menjual 2.000 pasang sepatu untuk membayar utang yang sama.

Inilah yang terjadi di seluruh Amerika dan dunia:

  • Petani tidak bisa bayar utang karena harga gandum anjlok.

  • Pabrik-pabrik tutup karena barang tidak laku dan utang menumpuk.

  • Bank-bank bangkrut karena orang yang meminjam uang tidak bisa bayar (kredit macet).

Ketika bank bangkrut, masyarakat panik dan menarik sisa uang mereka, yang akhirnya merobohkan seluruh sistem keuangan.

Bab 6: Kesalahan Terbesar yang Terlambat Disadari

Hu McCulloch berpendapat bahwa kesalahan utama Amerika bukanlah hanya pada apa yang dilakukan The Fed (Bank Sentral AS) di dalam negeri, tapi karena Amerika terjebak dalam kebijakan emas dunia yang kacau.

Amerika Serikat "mengimpor" deflasi dari Eropa. Selama Amerika bersikeras mempertahankan harga emas di angka $20,67 per ounce sementara dunia sedang rebutan emas, maka ekonomi Amerika dipastikan akan hancur.

Ada beberapa hal yang seharusnya bisa dilakukan untuk mencegah keparahan ini:

  1. Kerja Sama Internasional: Seharusnya negara-negara tidak perlu rebutan menyimpan emas fisik terlalu banyak.

  2. Deflasi Bertahap: Inggris seharusnya tidak memaksa menaikkan nilai uangnya secara mendadak, melainkan perlahan-lahan dalam waktu 10-15 tahun.

  3. Fleksibilitas: Pemerintah seharusnya menyadari bahwa standar emas yang kaku tidak lagi cocok untuk dunia yang baru saja hancur karena perang.

Bab 7: Depresi Besar vs Krisis Modern (2008 & Pandemi)

Mungkin kamu bertanya, "Kenapa krisis 2008 atau krisis ekonomi saat pandemi kemarin tidak separah Depresi Besar?"

Jawabannya adalah karena kita sudah belajar dari sejarah. Di tahun 2008, dunia tidak lagi menggunakan standar emas. Ketika bank-bank mulai tumbang, Bank Sentral (seperti The Fed) bisa langsung mencetak uang dan menyuntikkan likuiditas ke pasar untuk mencegah harga-harga jatuh terlalu dalam.

Pada tahun 1929, tangan pemerintah terikat. Jika mereka mencetak uang tanpa ada emas tambahan, mereka melanggar hukum standar emas. Mereka lebih memilih menjaga nilai emas daripada menyelamatkan perut rakyat yang lapar. Itulah perbedaan besarnya.

Penutup: Pelajaran dari Masa Lalu

Depresi Besar adalah pengingat pahit bahwa ekonomi bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi soal bagaimana kebijakan global berdampak pada piring makan setiap orang. Perang Dunia I menghancurkan fondasi ekonomi tua, dan upaya keras manusia untuk kembali ke masa lalu (kembali ke standar emas yang kaku) justru menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Emas memang berkilau dan melambangkan kekayaan, namun dalam sejarah Depresi Besar, ia menjadi beban yang menyeret seluruh dunia ke dasar samudera kemiskinan.

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1