Berita & Analisis
Iran Berencana Gantikan Dolar dengan Yuan dalam Transaksi Minyak Global










Setelah eskalasi serangan militer antara AS-Israel dan Iran yang memuncak pada akhir Februari lalu, Teheran mengeluarkan kartu truf yang tidak diprediksi banyak pihak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, namun dengan syarat yang mengguncang pilar ekonomi Barat: Pembayaran minyak hanya diterima dalam Yuan Tiongkok (RMB), apabila hal ini terjadi akan ada de-dollarisasi secara instan.
Indikator | Nilai/Status | Dampak |
Volume Minyak Hormuz | 20% Pasokan Dunia | Krisis Energi Global |
Harga Minyak Brent | $126 / barel | Inflasi Tinggi |
Harga Emas Spot | $5.175 / oz | Bullish Jangka Panjang |
Harga Perak Spot | $87 – $93 / oz | Volatilitas Tinggi |
Mata Uang Transaksi | Yuan (RMB) | De-dollarisasi |
Selama 52 tahun, dominasi global Amerika Serikat bersandar pada sistem Petrodolar. Sejak kesepakatan tahun 1974, minyak dunia dijual dalam USD, yang memaksa setiap negara menyimpan cadangan Dolar untuk membeli energi.
Langkah Iran mensyaratkan Yuan adalah upaya sistematis untuk memutus rantai tersebut:
"Selat Hormuz terbuka... namun hanya bagi mereka yang tidak menyerang kami, dan mereka yang membayar dengan mata uang yang kami tentukan." — Abbas Araghchi, Menlu Iran.
Dampak Pasar: Membaca Pergerakan Emas dan Logam Mulia
Di tengah ketidakpastian ini, pasar komoditas mengalami volatilitas ekstrem. Dengan harga minyak Brent sempat menyentuh $126 per barel, investor kini beralih ke aset safe haven.
Berikut adalah analisis instrumen metal yang perlu Anda cermati:
Status: Bullish Jangka Panjang Meskipun sempat terkoreksi ke level $5.085 karena penguatan Dolar jangka pendek (akibat sentimen perang), fundamental emas tetap solid. J.P. Morgan memproyeksikan target $6.300 pada akhir 2026. Jika krisis Hormuz memicu resesi global, emas akan menjadi pemenang utama.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Status: Volatilitas Tinggi dengan Potensi Besar Perak sering disebut sebagai "emas liar". Selain sebagai aset lindung nilai, perak sangat dibutuhkan dalam industri teknologi dan energi hijau. Jika inflasi energi terus meroket, perak berpotensi memimpin reli lebih kuat daripada emas karena rasio harga yang masih dianggap "murah".
Status: Wait and See Iran adalah eksportir tembaga yang signifikan. Gangguan rantai pasok akan mengerek harga ke atas, namun risiko resesi global akibat oil shock bisa menekan permintaan industri. Pantau ketat pergerakan ekonomi China sebagai konsumen tembaga terbesar.
Kesimpulan: Peluang di Balik Krisis
Kita tidak sedang melihat krisis geopolitik biasa yang akan selesai dalam hitungan minggu. Ini adalah pergeseran struktural kekuasaan dari Barat ke Asia. Pasar saat ini mungkin terlihat "bingung", namun bagi investor jeli, ini adalah jendela masuk (entry point) sebelum reli besar terjadi.
Sejarah mencatat bahwa dalam setiap keruntuhan sistem moneter lama, aset keras (hard assets) seperti logam mulia adalah tempat terbaik untuk mengamankan kekayaan.
Siap Posisikan Portofoliomu?
Jangan menunggu sampai reli besar dimulai. Pantau dan miliki eksposur pada aset-aset strategis melalui platform terpercaya.
Bagaimana pandangan Anda? Apakah Yuan mampu menumbangkan dominasi Dolar di Selat Hormuz? Berikan komentar Anda di bawah.


