









Lonjakan harga perak terjadi dalam konteks perubahan struktural yang lebih luas di pasar global. Tekanan pasokan yang berkepanjangan, permintaan industri yang terus meningkat, serta perubahan lanskap makro—terutama terkait arah suku bunga dan ketidakpastian geopolitik—menjadi fondasi utama reli ini. Tidak seperti emas yang dominan sebagai aset lindung nilai, perak berada di titik temu antara fungsi moneter dan peran industri strategis. Karakter inilah yang membuat perak memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap siklus ekonomi, inovasi teknologi, dan transisi energi global.
Pergerakan Harga Perak: Data dan Skala Reli
Pada 14 Januari 2026, harga perak melonjak sekitar 7,5% dalam satu hari perdagangan, mencapai US$93,42 per ounce pada level intraday. Ini merupakan breakout pertama kali dalam sejarah pasar modern di mana perak mampu menembus dan bertahan di atas US$90. Sebelum level tersebut, harga juga sempat menyentuh US$91,55 per ounce, menandakan bahwa permintaan beli sangat kuat bahkan setelah resistance jangka panjang ditembus.
Momentum tidak berhenti di sana. Menjelang 23 Januari 2026, harga perak resmi menembus level US$100 per ounce, dengan kisaran tertinggi dilaporkan berada di US$101–US$103 tergantung pada referensi pasar. Level ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengonfirmasi bahwa pasar sedang memasuki fase super cycle, di mana kenaikan harga didorong oleh faktor struktural, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Dalam 12 bulan terakhir, harga perak telah mencatatkan reli lebih dari 147%, menjadikannya salah satu aset komoditas dengan performa terbaik dalam satu dekade. Bahkan sejak awal 2026 saja, sebelum reli menuju US$100, harga perak sudah naik lebih dari 40%. Skala kenaikan ini jauh melampaui rata-rata historis silver dan menempatkannya sejajar dengan aset berisiko tinggi, meskipun secara fundamental ia tetap tergolong logam mulia.
Fundamental Silver: Mengapa Reli Ini Terjadi?
Salah satu pendorong utama reli silver adalah ketatnya pasokan fisik global. Stok perak di pusat perdagangan utama seperti LBMA (London Bullion Market Association) dan COMEX (Amerika Serikat) berada di level yang sangat rendah dibandingkan rata-rata historis. Yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah karakter produksi perak itu sendiri.
Lebih dari 70% produksi perak global berasal sebagai produk sampingan dari tambang logam lain seperti tembaga, emas, dan seng. Artinya, ketika harga perak naik, produsen tidak bisa dengan cepat meningkatkan produksi hanya karena harga silver lebih tinggi. Respons pasokan menjadi lambat, sehingga setiap lonjakan permintaan langsung tercermin ke harga.
Berbeda dengan emas, perak memiliki peran krusial dalam sektor industri modern. Ia digunakan secara luas dalam:
Transisi energi global dan ekspansi teknologi membuat permintaan perak bersifat struktural dan jangka panjang, bukan siklikal. Bahkan pada harga tinggi, banyak sektor industri tidak memiliki substitusi yang efisien untuk perak, sehingga permintaan relatif tidak elastis terhadap kenaikan harga.
Dalam lingkungan global yang ditandai oleh ketidakpastian geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, serta volatilitas pasar finansial, investor mulai mereposisi perak sebagai aset makro strategis. Silver kembali dipandang sebagai:
Perubahan persepsi inilah yang mendorong arus modal masuk secara agresif ke pasar perak, baik melalui pasar fisik maupun instrumen keuangan.
Dampak ke Saham Pertambangan dan Pasar Keuangan
Reli harga perak dengan cepat diterjemahkan ke pasar ekuitas, khususnya saham pertambangan. Saham miner perak cenderung memiliki leverage operasional yang tinggi, di mana setiap kenaikan harga perak langsung meningkatkan pendapatan per ounce, sementara biaya produksi relatif stabil. Akibatnya, margin laba melonjak dan valuasi saham sering naik lebih cepat dibandingkan harga logamnya sendiri.
Selain saham, arus modal juga mengalir ke produk ETF berbasis perak, yang memungkinkan investor mendapatkan eksposur tanpa harus menyimpan logam fisik.
ETF Silver dan Peran iShares Silver Trust (SLV)
Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan investor global adalah iShares Silver Trust (SLV) yang dikelola oleh Blackrock sejak tahun 2006. Blackrock merupakan salah satu fund manager terbesar di dunia dengan total dana kelolaan US$14 triliun per Januari 2026.
ETF ini dirancang untuk melacak harga perak fisik, di mana setiap unitnya didukung oleh kepemilikan silver bullion. Dalam fase reli menuju dan melewati US$100 per ounce, SLV mencatatkan peningkatan volume perdagangan dan aliran dana yang signifikan, mencerminkan meningkatnya minat investor institusional maupun ritel.
Bagi investor, SLV menawarkan beberapa keunggulan:
Bagi investor Indonesia, momentum silver 2026 dapat diakses secara praktis melalui ETF iShares Silver Trust (SLV) yang tersedia di aplikasi Pluang. Melalui satu platform, investor dapat:
Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.
Kesimpulan
Lonjakan harga perak pada awal 2026 menandai titik penting dalam siklus jangka panjang logam mulia ini. Dorongan struktural berupa keterbatasan pasokan, permintaan industri yang terus menguat, serta perubahan rezim makro telah membawa perak ke level harga historis. Meski volatilitas masih menjadi ciri utama, perak kini memiliki peran yang semakin relevan dan strategis dalam portofolio investasi global ke depan.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang ini secara efisien, ETF seperti SLV melalui aplikasi Pluang menjadi salah satu instrumen yang relevan untuk mengakses potensi silver dalam fase super cycle 2026.


