ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
IHSG vs S&P 500, Siapa Lebih Unggul di Tahun Kuda?
shareIcon

IHSG vs S&P 500, Siapa Lebih Unggul di Tahun Kuda?

1 hour ago
·
Waktu baca: 5 menit
shareIcon
IHSG vs S&P 500, Siapa Lebih Unggul di Tahun Kuda?
Dalam dunia investasi, kita sering mendengar istilah “Sell in May and Go Away” atau “January Effect”. Namun, ada satu lagi fenomena yang sering menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan investor Asia: siklus Shio atau Chinese Zodiac.

Data historis selama 35 tahun terakhir (1990-2025) mengungkapkan sebuah anomali yang mencolok. Biasanya, Wall Street (S&P 500) tampak "alergi" dengan Tahun Kuda, sedangkan Bursa Efek Indonesia (IHSG) justru seringkali menemukan momentum emasnya di tahun yang sama. Mengapa sang Kuda berlari kencang di pasar saham Jakarta tetapi justru terpeleset di pasar New York?

Key Takeaways

  • Anomali Tahun Kuda: Secara historis, Tahun Kuda adalah periode terburuk bagi S&P 500 (AS) dengan rata-rata return negatif -0,2% hingga -6,0% (tergantung rentang data).
  • Resiliensi IHSG: Berbeda dengan Amerika, IHSG (Indonesia) justru tampil perkasa di Tahun Kuda dengan rata-rata return positif yang signifikan sebesar 15,3%.
  • Peringkat Performa: Di bursa domestik (IHSG), Tahun Kuda berada di papan tengah atas (peringkat 7 dari 12), sedangkan di bursa Amerika, ia menempati posisi juru kunci (peringkat 12 dari 12).
  • Divergensi Pasar: Ketimpangan ini menunjukkan bahwa siklus ekonomi negara berkembang (emerging markets) sering kali tidak berjalan selaras dengan pasar negara maju (developed markets).

Mengapa S&P 500 Cenderung Underperform di Tahun Kuda?

Bagi investor saham di Amerika Serikat, Tahun Kuda secara statistik adalah periode yang cukup menantang. Berdasarkan data dari S&P Global dan riset Audrey Wang (CFA), rata-rata pengembalian tahunan S&P 500 di Tahun Kuda sejak 1929 berada di angka negatif, yakni sekitar -0.2%.

Jejak Kelam Tahun Kuda di Wall Street

Jika kita melihat ke belakang, beberapa Tahun Kuda memang bertepatan dengan krisis besar di AS:

  1. 1930 (Tahun Kuda Logam): Puncak dari Great Depression. S&P 500 ambruk hingga -28.5%.
  2. 1966 (Tahun Kuda Api): Pasar mengalami bear market akibat pengetatan moneter dari Federal Reserve.
  3. 2002 (Tahun Kuda Air): Ini adalah salah satu tahun terburuk dalam sejarah modern. Pasca tragedi 9/11 dan pecahnya gelembung Dot-com, S&P 500 merosot tajam sebesar -23.4%.

Secara statistik, Tahun Kuda menduduki peringkat terbawah dalam performa zodiak di Wall Street, jauh di bawah Tahun Babi yang rata-rata mencetak return +18.1%.

IHSG Outperform di Tahun Kuda

Berbanding terbalik dengan S&P 500, data dari Pluang Research (1990-2025) menunjukkan bahwa IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) justru mencatatkan performa yang cukup solid di Tahun Kuda dengan rata-rata return mencapai 15.3%.

Meskipun angka ini tidak setinggi Tahun Ayam (Rooster) yang fenomenal dengan 50.3%, performa 15.3% di Tahun Kuda menempatkan IHSG jauh di atas performa rata-rata S&P 500 yang justru minus di periode yang sama.

Apa yang Terjadi pada Tahun Kuda di Indonesia?

Contoh paling nyata adalah Tahun Kuda Kayu (2014). Saat itu, pasar modal Indonesia tengah mengalami gairah luar biasa. Berikut adalah beberapa faktor pemicunya:

  • Euphoria Politik (Jokowi Effect): Tahun 2014 adalah tahun pemilu. Optimisme investor terhadap transisi kepemimpinan ke Presiden Joko Widodo memberikan sentimen positif yang masif. IHSG bahkan melonjak hingga 21.15% sepanjang tahun tersebut, menutup perdagangan di level 5.178.
  • Stabilitas Ekonomi Domestik: Meskipun ekonomi global saat itu dihantui oleh penghentian stimulus fiskal (taper tantrum) di AS, fundamental Indonesia tetap solid dengan surplus neraca perdagangan yang terjaga.
  • Arus Modal Asing (Foreign Inflow): Data OJK menunjukkan pada tahun 2014 terjadi capital inflow yang signifikan ke pasar saham Indonesia karena investor melihat potensi pertumbuhan emerging markets lebih menarik dibanding pasar maju yang sedang jenuh.

Mengapa Kinerja S&P500 dan IHSG Berbeda?

Perbedaan performa yang kontras ini bukan sekadar masalah keberuntungan rasi bintang. Ada perbedaan fundamental dalam "DNA" kedua pasar ini:

1. Komposisi Sektoral

S&P 500 sangat bergantung pada sektor Teknologi dan Pertumbuhan (Growth). Sektor ini sangat sensitif terhadap suku bunga The Fed. Di sisi lain, IHSG didominasi oleh sektor Perbankan dan Konsumsi. Di Tahun Kuda seperti 2014, sektor perbankan Indonesia mencatatkan laba yang kuat, mendorong indeks naik meskipun pasar global sedang volatil.

2. Siklus Ekonomi vs Siklus Politik

Pasar saham Amerika seringkali dipengaruhi oleh siklus bisnis global dan kebijakan moneter internasional. Sedangkan Indonesia, sebagai emerging market, seringkali didorong oleh faktor domestik—seperti belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan siklus pemilu—yang secara kebetulan seringkali memuncak pada Tahun-tahun Kuda dalam beberapa dekade terakhir.

Performa IHSG vs S&P 500 (1990-2025)

Shio (Zodiac)

Return IHSG (%)

Return S&P 500 (%)

Selisih (Gap)

Ayam (Rooster)

50,3%

9,8%

+40,5%

Kelinci (Rabbit)

26,5%

14,6%

+11,9%

Kuda (Horse)

15,3%

-6,0%

+21,3%

Babi (Pig)

21,1%

22,2%

-1,1%

Naga (Dragon)

-9,4%

8,9%

-18,3%

Risks & Considerations (Penting bagi Investor)

  • Data Historis Bukan Jaminan: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Faktor makroekonomi saat ini lebih relevan daripada pola zodiak.
  • Risiko Nilai Tukar: Meskipun IHSG naik 15,3%, jika nilai tukar Rupiah terhadap USD melemah tajam, keuntungan investor global dalam denominasi Dollar bisa tergerus.
  • Variabel Hitam (Black Swan): Kejadian tak terduga seperti pandemi atau konflik geopolitik mendadak dapat mematahkan pola statistik shio mana pun.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Apakah Tahun Kuda selalu buruk bagi saham Amerika?
    Tidak selalu, namun secara rata-rata sejak 1929, performanya paling rendah dibandingkan 11 shio lainnya.
  2. Mengapa return IHSG di Tahun Kuda sangat tinggi (15,3%)?
    Didorong oleh stabilitas makroekonomi domestik dan seringnya terjadi rebound setelah tahun-tahun yang sulit.
  3. Shio apa yang paling menguntungkan bagi IHSG?
    Berdasarkan data 1990-2025, Shio Ayam (Rooster) adalah pemenangnya dengan rata-rata return 50,3%.
  4. Apakah investor harus beli saham hanya berdasarkan shio?
    Sangat tidak disarankan. Shio hanyalah salah satu cara melihat statistik historis, bukan alat prediksi tunggal.
  5. Kapan Tahun Kuda berikutnya akan terjadi?
    Tahun Kuda berikutnya jatuh pada tahun 2026 (Kuda Api).
  6. Mengapa ada perbedaan data antara riset Pluang dan S&P Global?
    Perbedaan terjadi karena rentang waktu yang digunakan (Pluang: 1990-2025; S&P Global: 1929-2025).

Apakah Investor Saham Harus Mengacu pada Shio?

Melihat data ini, apakah kita harus menjual semua saham S&P 500 dan pindah ke IHSG saat Tahun Kuda tiba? Tentu tidak sesederhana itu. Namun, ada beberapa pelajaran berharga:

  1. Diversifikasi adalah Kunci: Data membuktikan bahwa saat pasar AS sedang lesu (seperti di Tahun Kuda), pasar negara berkembang seperti Indonesia seringkali memberikan kompensasi keuntungan. Memiliki aset di kedua pasar (IHSG dan S&P 500) membantu menyeimbangkan risiko.
  2. Jangan Abaikan Faktor Domestik: Bagi investor Indonesia, sentimen lokal (seperti pemilu atau kebijakan infrastruktur) seringkali lebih berpengaruh daripada tren global.
  3. Analisis Fundamental Tetap Utama: Meskipun statistik shio menarik untuk disimak, performa saham tetap akan kembali ke kinerja emiten dan kondisi makroekonomi (inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan PDB).

Kesimpulan

Tahun Kuda memang membawa nasib yang berbeda bagi kedua bursa. Di Wall Street, kuda mungkin tampak kelelahan dan sering terjatuh, namun di Indonesia, kuda tersebut justru mendapatkan asupan energi dari dinamika ekonomi domestik yang kuat.

Dengan rata-rata return 15.3% di IHSG dibandingkan -0.2% di S&P 500, Tahun Kuda menjadi pengingat bagi investor bahwa peluang seringkali muncul di tempat yang tidak terduga. Jadi, saat pasar global tampak mendung, jangan lupa untuk menengok bursa sendiri—siapa tahu sang kuda sedang bersiap untuk melompat lebih tinggi.

Sumber Data:

  • Pluang Research: IHSG vs S&P 500 Returns by Zodiac (1990-2025)
  • S&P Global & Macrobond: Average Annual Return by Chinese Zodiac (1929-2025)
  • Data Historis Bursa Efek Indonesia & OJK (2014)
Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1