









Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa emas masih memegang takhta sebagai aset safe haven sekaligus instrumen investasi yang sangat likuid di tengah ketidakpastian ekonomi.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Di sebuah mal di Shanghai, mesin kuning cerah milik Kinghood Group menjadi pusat perhatian. Mesin ini bukan ATM biasa; ini adalah Smart Gold Store Machine yang mampu menimbang, menguji kadar kemurnian, hingga mencairkan logam mulia secara otomatis dan transparan.
Beberapa poin menarik dari fenomena ini antara lain:
Transparansi Teknologi: Mesin ini menggunakan gelombang cahaya untuk mengukur puritas emas dan menampilkan timbangan secara live melalui video feed. Hal ini meningkatkan kepercayaan konsumen dibandingkan toko emas tradisional.
Keuntungan Berlipat Ganda: Seorang warga bernama Wu menceritakan pengalamannya menjual cincin warisan ayahnya. Cincin yang dulu dibeli seharga 1.000 yuan puluhan tahun lalu, kini laku terjual 10.000 yuan (sekitar US$1.400).
Proses Instan: Hanya dalam hitungan menit setelah emas dimasukkan dan diproses (dilebur dalam mesin), dana hasil penjualan langsung ditransfer ke rekening bank penjual di hari yang sama.
Emas di China memiliki ikatan emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan wilayah lain di dunia. Berdasarkan riset konsumen global tahun 2019:
70% konsumen di China percaya bahwa emas membawa keberuntungan (dibandingkan hanya 57% secara global).
Signifikansi Budaya: Emas melambangkan supremasi kaisar dan kemakmuran. Membeli emas bertema shio (seperti emas bertema Tikus pada tahun 2020) dianggap sebagai investasi spiritual untuk memulai rotasi 12 zodiak dengan baik.
Data dari National Bureau of Statistics selama dua dekade terakhir (1998–2019) menunjukkan pola yang konsisten: Desember adalah bulan puncak penjualan ritel emas.
Daya Beli: Peningkatan konsumsi emas didorong secara langsung oleh pembayaran bonus akhir tahun. Riset membuktikan adanya korelasi positif di mana pendapatan yang lebih tinggi menghasilkan konsumsi emas yang lebih besar.
Tradisi Gifting: Praktik memberikan amplop merah (Hongbao) berisi emas dari senior ke junior setelah ucapan "Gong Xi Fa Cai" menjadi motor penggerak utama volume penjualan perhiasan dan koin emas.
Permintaan fisik yang masif menjelang Imlek menciptakan tekanan pada pasokan, yang tercermin dalam angka-angka berikut:
Manufaktur perhiasan dan pemurni emas mulai sibuk sejak November untuk memenuhi stok ritel.
Kenaikan bulanan (m-o-m): Rata-rata penarikan emas dari SGE meningkat sebesar 22% setiap bulan November dalam sepuluh tahun terakhir.
China meningkatkan impor secara signifikan untuk menutupi celah antara produksi domestik dan permintaan musiman.
Pertumbuhan Impor: Rata-rata impor emas pada bulan November tercatat 18% lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober (data rata-rata tiga tahun terakhir).
Hukum permintaan dan penawaran bekerja secara nyata pada harga emas di China.
Lonjakan Premium: Selama 6 minggu menjelang Imlek, harga premium emas lokal rata-rata mencapai 65% lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan (berdasarkan data 2010–2019).
China adalah konsumen emas terbesar di dunia. Tradisi menyimpan emas sebagai mas kawin atau hadiah kelahiran kini bertransformasi menjadi strategi profit taking yang masif.
Saat harga emas menyentuh angka US$5.600, sentimen pasar beralih dari "akumulasi" menjadi "likuidasi". Bagi banyak keluarga di China, kenaikan harga ini bukan sekadar angka di layar monitor, melainkan kesempatan nyata untuk menambah dana pensiun atau memperkuat arus kas rumah tangga.
Lonjakan hingga level US$5.500 ini tidak terjadi tanpa alasan. Setidaknya ada tiga faktor makro yang saling berkaitan:
Ketidakpastian Politik "Trump 2.0": Kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump, termasuk ketegangan terkait isu pengambilalihan Greenland, membuat investor khawatir akan stabilitas perdagangan global dan melemahnya nilai tukar Dolar AS.
Tensi Geopolitik Global: Konflik di Ukraina dan Gaza yang belum mereda, ditambah gejolak politik di Washington, memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven utama.
Aksi Borong Bank Sentral & Paus Kripto: Bank sentral (terutama China) terus menambah cadangan emas. Selain itu, pemain besar digital seperti Tether kini memiliki cadangan emas yang dilaporkan melampaui cadangan beberapa negara kecil.
Meski sempat menyentuh awan, harga emas mengalami koreksi tajam (turun sekitar 10% dari puncaknya) dalam beberapa hari terakhir. Penyebab utamanya adalah:
Faktor Kevin Warsh & Stabilitas Fed: Ketakutan pasar bahwa Trump akan memilih Ketua The Fed yang terlalu "penurut" sempat memicu reli emas sebagai lindung nilai inflasi. Namun, munculnya nama Kevin Warsh sebagai calon kuat—yang dipandang pasar sebagai figur yang lebih moderat dan disiplin terhadap inflasi—memberikan rasa tenang. Investor pun mulai melakukan aksi profit taking (ambil untung) secara massal, yang memicu penurunan harga logam mulia secara cepat.
Emas dan perak sama-sama dianggap sebagai aset logam mulia (precious metals). Ketika dunia sedang tidak stabil (seperti isu tarif Trump atau konflik geopolitik yang disebutkan di artikel sebelumnya), investor akan menghindari aset berisiko seperti saham dan beralih ke logam mulia sebagai tempat berlindung. Karena emas menjadi sangat mahal, banyak investor ritel yang merasa "ketinggalan kereta" akhirnya beralih membeli perak sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Dalam dunia investasi, ada indikator yang disebut Gold-to-Silver Ratio (Rasio Emas terhadap Perak). Rasio ini mengukur berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas.
Ketika harga emas naik terlalu tinggi, rasio ini menjadi sangat lebar (emas dianggap terlalu mahal dibanding perak).
Investor melihat ini sebagai peluang arbitrase: mereka akan membeli perak karena menganggap perak "salah harga" atau masih terlalu murah (undervalued). Aksi beli massal inilah yang kemudian mendongkrak harga perak.
Perak sering disebut sebagai "emas dengan steroid".
Pasar perak jauh lebih kecil dan kurang likuid dibandingkan pasar emas.
Artinya, dengan jumlah uang yang sama, dampak kenaikan harga pada perak akan jauh lebih besar secara persentase.
Logikanya: Jika emas naik 1%, perak seringkali bisa naik 2% atau 3%. Inilah yang membuat perak sangat menarik bagi spekulan saat tren emas sedang bullish.
Berbeda dengan emas yang mayoritas digunakan untuk cadangan bank sentral dan perhiasan, lebih dari 50% permintaan perak berasal dari industri (elektronik, panel surya, dan kendaraan listrik).
Saat harga emas naik karena inflasi, perak mendapatkan dorongan ganda: dari sisi investasi (lindung nilai inflasi) dan dari sisi industri (ekonomi yang terus berjalan membutuhkan perak).
Meskipun terjadi volatilitas jangka pendek, harga emas saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Emas telah membuktikan perannya sebagai diversifikasi portofolio yang tangguh di dunia yang penuh ketidakpastian.
Manfaatkan Koreksi: Penurunan harga pasca-rekor bisa menjadi peluang untuk Buy on Weakness atau mencicil beli bagi kamu yang memiliki pandangan jangka panjang.
Tetap Diversifikasi: Emas adalah jangkar, namun tetap imbangi dengan aset lain untuk menjaga keseimbangan portofolio saat volatilitas komoditas sedang tinggi.


