Gugatan ini menjadi langkah hukum pertama yang diambil oleh perusahaan besar Amerika tepat setelah Mahkamah Agung (SCOTUS) membatalkan wewenang Presiden Donald Trump dalam menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk memberlakukan tarif secara sepihak.
Di sisi investasi, sejak satu bulan terakhir, saham FedEx naik 26.03%, apabila ditarik ke belakang selama 1 tahun, performa sahamnya positif 51.34%.
Key Takeaways
- Langkah Hukum Pionir: FedEx menjadi perusahaan besar pertama yang menggugat pemerintah AS secara resmi hanya beberapa hari setelah Mahkamah Agung menyatakan tarif Trump ilegal.
- Dasar Putusan: Mahkamah Agung membatalkan tarif yang diberlakukan di bawah International Emergency Economic Powers Act (IEEPA), menyatakan Presiden melampaui kewenangannya.
- Potensi Refund Miliaran Dolar: Meski nilai spesifik gugatan tidak disebutkan, FedEx sebelumnya memproyeksikan dampak kebijakan perdagangan ini mencapai $1 miliar pada pendapatan mereka.
- Ketidakpastian Prosedur: Belum ada mekanisme resmi dari Bea Cukai AS (CBP) untuk mencairkan pengembalian dana, yang berarti proses hukum ini bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Poin Penting Gugatan FedEx
- Target Gugatan: FedEx menyebut Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) serta Komisaris Rodney Scott sebagai tergugat.
- Landasan Hukum: Gugatan diajukan di Pengadilan Perdagangan Internasional AS di New York, pengadilan yang oleh Mahkamah Agung ditegaskan memiliki "yurisdiksi eksklusif" atas kasus ini.
- Nilai Kerugian: Meski jumlah spesifik tidak disebutkan dalam dokumen 11 halaman tersebut, FedEx sebelumnya memperkirakan kebijakan perdagangan ini memberikan dampak negatif sekitar $1 miliar terhadap pendapatan tahunan mereka.
Gelombang Gugatan "Protektif" Perusahaan Raksasa Amerika
Sebelum putusan Mahkamah Agung keluar pada Jumat lalu, beberapa perusahaan besar lainnya seperti Costco, Revlon, dan Bumble Bee Foods sebenarnya sudah lebih dulu mengajukan gugatan serupa. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya "protektif" untuk memastikan hak pengembalian dana mereka tetap terjaga sebelum proses likuidasi bea cukai selesai.
Namun, tindakan FedEx pada hari Senin ini dipandang signifikan karena merupakan respons langsung pertama dari korporasi skala global setelah hukum secara resmi berpihak pada para importir.
"FedEx telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak perusahaan sebagai importer of record guna mencari pengembalian bea dari CBP," tulis manajemen FedEx dalam pernyataan di situs resminya.
Ketidakpastian Proses Refund
Meskipun Mahkamah Agung menyatakan tarif tersebut ilegal, mereka tidak merinci prosedur bagaimana pemerintah harus mengembalikan dana yang sudah terlanjur dipungut. Diperkirakan ada lebih dari $160 miliar dana tarif yang kini menjadi sengketa.
Hingga saat ini, belum ada mekanisme resmi yang ditetapkan oleh regulator maupun pengadilan untuk proses refund. Hakim Brett Kavanaugh dalam pendapatnya bahkan sempat memperingatkan bahwa proses pengembalian ini kemungkinan besar akan menjadi "kekacauan" (a mess) yang memakan waktu lama.
Comparison Table: Posisi Perusahaan Terkait Tarif
Perusahaan | Status Gugatan | Strategi Utama |
FedEx | Baru diajukan (Pasca-SCOTUS) | Agresif; Menuntut pengembalian penuh segera. |
Costco | Pending (Diajukan sebelum putusan) | Protektif; Menjaga hak sejak awal kebijakan dimulai. |
Walmart | Dalam Peninjauan | Diplomasi korporat; Menunggu kejelasan prosedur CBP. |
Risks & Considerations
- Risiko Likuiditas Pemerintah: Jika semua perusahaan menang, pemerintah AS harus mengeluarkan ratusan miliar dolar, yang bisa memicu defisit anggaran baru atau penundaan pembayaran.
- Jangka Waktu (Timeline): Proses litigasi di Pengadilan Perdagangan Internasional seringkali memakan waktu 2 hingga 5 tahun sebelum dana benar-benar cair.
- Ketidakpastian Politik: Ada risiko legislasi baru dari Kongres yang mungkin mencoba memvalidasi tarif tersebut secara retrospektif (meski sulit secara hukum).
FAQ
- Mengapa FedEx menggugat sekarang?
Karena putusan Mahkamah Agung pekan lalu memberikan dasar hukum yang kuat bahwa tarif tersebut ilegal. - Berapa banyak uang yang diminta FedEx?
Belum ada angka pasti dalam dokumen gugatan, namun estimasi dampak total mencapai $1 miliar. - Apakah perusahaan lain akan mengikuti?
Ya, diperkirakan ribuan perusahaan Amerika akan mengajukan gugatan serupa dalam beberapa minggu ke depan. - Apa itu "Importer of Record"?
Entitas (seperti FedEx) yang bertanggung jawab memastikan barang impor sesuai hukum dan membayar bea masuknya. - Apakah konsumen akan mendapatkan uang kembali?
Secara langsung tidak. Pengembalian diberikan kepada perusahaan yang membayar tarif, meski perusahaan mungkin menurunkan harga setelahnya. - Di mana kasus ini disidangkan?
Di U.S. Court of International Trade di New York. - Apakah pemerintah bisa banding?
Karena ini sudah melewati level Mahkamah Agung, pemerintah hanya bisa berdebat mengenai cara dan jumlah pengembalian, bukan legalitas tarifnya. - Apakah tarif ini masih berlaku sekarang?
Tidak, putusan Mahkamah Agung secara efektif menghentikan pemungutan tarif tersebut.
Respons Gedung Putih
Presiden Trump dilaporkan menunjukkan resistensi terhadap pembayaran cepat. Dalam pernyataannya pekan lalu, ia mengisyaratkan bahwa masalah ini mungkin akan terus berlanjut di pengadilan selama dua hingga lima tahun ke depan. Sementara itu, pihak CBP dan Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait gugatan spesifik dari FedEx ini.
Sources & Methodology
CNBC, FedEx sues for refund of Trump tariffs, days after Supreme Court ruling. Diakses pada 24 Feb 2026