ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Gen Z & Milenial Makin Menggemari Investasi Emas di 2026
shareIcon

Gen Z & Milenial Makin Menggemari Investasi Emas di 2026

14 hours ago
·
Waktu baca: 6 menit
shareIcon
Gen Z & Milenial Makin Menggemari Investasi Emas di 2026
Belum genap satu kuartal, dunia investasi di tahun 2026 mengalami beragam fenomena yag mengejutkan. Dari anjloknya harga Bitcoin, lalu kelangkaan aset perak, hingga emas yang mengalami harga tertinggi sepanjang sejarah (ATH). Di sisi lain, kita juga melihat adopsi teknologi finansial yang mencapai puncaknya dengan AI dan aset digital. Menariknya, ada sebuah anomali yang menarik dimana generasi muda seperti Gen Z dan Milenial justru semakin memperkuat posisi mereka pada aset "kuno", yaitu emas alih-alih di aset  modern seperti crypto.

Menurut Pluang Research Team, telah terjadi pergeseran paradigma yang signifikan dimana emas bukan lagi sekadar warisan atau pelengkap pernikahan (sentiment), melainkan bagian inti dari alokasi aset investasi.

Mari kita bedah secara mendalam mengapa fenomena ini terjadi dan bagaimana Gen Z dan Milenial mengelola aset aman (safe haven) ini.

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Key Takeaways

  • Utamakan Proyeksi Return Emas: 7 dari 10 anak muda mengutamakan nilai imbal hasil (returns) dibandingkan kenyamanan emosional saat membeli emas (Smytten PulseAI survey)
  • Strategi Akumulasi Mikro: Lebih dari 60% pembelian emas dilakukan dalam unit kecil (di bawah 5 gram) sebagai bentuk cicilan investasi  (Smytten PulseAI survey)
  • Emas sebagai Alat Keamanan Finansial: 43% konsumen mengasosiasikan emas dengan investasi aman, jauh melampaui sekadar perhiasan gaya hidup  (Smytten PulseAI survey)
  • Dominasi Fisik: Meski era digital berkembang, 86% transaksi masih terjadi di platform  offline seperti toko emas karena faktor kepercayaan dan autentikasi  (Smytten PulseAI survey)

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Pergeseran Stigma Emas, dari Aset Kuno ke Aset Investasi Aman

Selama dekade terakhir, emas sering dianggap sebagai aset "malas" oleh investor muda yang lebih menyukai volatilitas tinggi di pasar kripto atau saham teknologi. Namun, data tahun 2026 menunjukkan kembalinya rasionalitas.

Sekitar 7 dari 10 responden menyatakan bahwa logika dan ekspektasi imbal hasil (expected returns) kini jauh lebih menentukan keputusan pembelian dibandingkan kenyamanan emosional atau tekanan keluarga. Hanya kurang dari 5% pembeli yang mengaku membeli emas karena tekanan keluarga.

Data ini mengonfirmasi bahwa Gen Z dan Milenial membeli emas karena mereka paham fungsinya, bukan karena disuruh orang tua. Sebanyak 43% konsumen mengasosiasikan emas dengan investasi aman, sementara 26% secara spesifik menghubungkannya langsung dengan keamanan finansial (financial security).

Emas sebagai "Safe Haven" di Tengah Ketidakpastian Global

Mengapa kepercayaan ini begitu kuat? Jawabannya terletak pada kondisi makroekonomi. Harapan akan pemotongan suku bunga The Fed dan data pekerjaan AS yang fluktuatif telah membuat harga emas dan perak melonjak lebih dari 6% dalam periode singkat di awal 2026.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian:

  • 66% investor menganggap investasi emas sebagai pilihan paling aman (safest choice).
  • Ketika diberikan modal fiktif sebesar Rs 25,000 (atau setara Rp 4,7 juta), mayoritas responden memilih emas karena stabilitasnya dibandingkan aset lain yang lebih volatil.

Bagi Milenial, emas berfungsi sebagai pelindung (protective asset). Sekitar 9% dari kelompok ini secara spesifik menyebut emas sebagai cadangan (backup) untuk masa-masa sulit. Sementara bagi Gen Z, kepemilikan emas sering kali dimulai sejak mereka mendapatkan penghasilan rutin pertama mereka (28% Gen Z menghubungkan emas dengan keamanan finansial sejak dini).

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Strategi "Micro-Investing" Emas 

Salah satu temuan paling krusial dalam laporan ini adalah munculnya tren akumulasi bertahap. Era membeli emas dalam satuan kilogram atau ratusan gram secara sekaligus mungkin sudah lewat bagi investor ritel muda.

Data menunjukkan pergerakan menuju pembelian dalam jumlah kecil namun sering:

  • 44% konsumen telah membeli emas dalam 6 bulan terakhir.
  • 62% dari total emas yang dibeli berada di bawah unit 5 gram.
  • Khusus untuk Gen Z, angka ini bahkan lebih tinggi dimana 56% pembelian mereka adalah emas di bawah 5 gram.

Ini mencerminkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yang diaplikasikan pada aset fisik. Investor muda lebih memilih membangun portofolio emas mereka sedikit demi sedikit (2 hingga 10 gram) daripada menunggu dana besar terkumpul. Ini adalah pendekatan yang sangat terstruktur dan inklusif secara finansial.

Perhiasan vs Emas Batangan

Meskipun instrumen investasi murni seperti koin dan batangan tersedia luas, perhiasan emas tetap memegang posisi dominan di hati konsumen muda.

Format Emas

Persentase Preferensi

Tujuan Utama

Perhiasan (Simpanan Jangka Panjang)

42%

Investasi & Simpanan

Perhiasan (Keperluan Acara/Seremonial)

30%

Budaya & Estetika

Koin dan Batangan (Logam Mulia)

18%

Investasi Murni

Emas Digital

5%

Kemudahan Akses

Data ini menunjukkan bahwa 72% preferensi masih tertuju pada perhiasan. Mengapa? Karena bagi investor muda, perhiasan memberikan "utilitas ganda" yaitu bisa dipakai untuk meningkatkan status sosial atau estetika, namun tetap memiliki nilai intrinsik yang bisa dijual kembali saat butuh likuiditas.

Tantangan Digitalisasi dan Dominasi Saluran Offline

Meskipun kita berada di era digital, laporan ini mengungkapkan fakta mengejutkan: 86% rumah tangga masih membeli emas melalui toko fisik (offline).

Kepercayaan tetap menjadi komoditas termahal dalam perdagangan emas. Ada beberapa hambatan utama yang membuat penetrasi emas digital masih rendah:

  1. Kemurnian dan Autentikasi (31%): Kekhawatiran apakah emas yang dibeli online benar-benar asli.
  2. Biaya Tersembunyi (29%): Ketidakjelasan mengenai biaya tambahan dalam transaksi digital.

Menariknya, Gen Z menunjukkan preferensi yang seimbang antara toko perhiasan bermerek (branded chains) dan toko lokal, dengan masing-masing meraih 39%. Sementara Milenial lebih loyal kepada toko lokal dan toko perhiasan keluarga, masing-masing 28% dan 14%.

Hanya 3% Gen Z dan 8% Milenial yang sudah sepenuhnya beralih ke pembelian online untuk perhiasan, koin, dan batangan. Ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi platform teknologi finansial untuk meningkatkan transparansi dan edukasi mengenai keamanan investasi emas digital.

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Mengenal Fenomena "Buyer's Remorse"

Walau emas merupakan aset ‘safe haven’, tetapi investasi emas tidak selamanya mulus. Sekitar 67% pembeli melaporkan pernah mengalami keraguan atau penyesalan setelah membeli emas. Penyebabnya bukan karena emasnya itu sendiri, melainkan faktor teknis:

  • 39% menyesal karena harga yang dibayar: Mereka merasa membeli di waktu yang salah (saat harga puncak).
  • 34% tidak puas dengan bentuk emas yang dipilih: Misalnya, membeli perhiasan yang biaya pembuatannya (making charges) terlalu tinggi sehingga nilai investasinya berkurang.

Hal ini menekankan pentingnya bagi investor muda untuk memahami perbedaan antara harga emas dunia dan harga eceran, serta biaya-biaya tambahan yang menyertai setiap format emas.

Emas Perhiasan vs Emas Batangan vs Emas Digital

Fitur

Perhiasan

Emas Batangan (Fisik)

Emas Digital

Tujuan

Gaya hidup + Investasi

Investasi Murni

Aksesibilitas & Likuiditas

Biaya Pembuatan

Tinggi (10-20%+)

Rendah

Tidak Ada

Kemudahan Jual

Sedang (perlu cek kadar)

Tinggi (dengan sertifikat)

Sangat Tinggi (Instan)

Penyimpanan

Mandiri (Risiko Hilang)

Brankas/Safety Box

Dikelola Platform

Modal Awal

Tinggi

Sedang

Sangat Rendah (Mulai Rp10rb)

Risks & Considerations

Investasi emas bukan tanpa risiko. Sebagai investor yang bijak, pertimbangkan hal berikut:

  • Risiko Penurunan Harga: Harga emas fluktuatif mengikuti kebijakan moneter global dan nilai tukar Dolar Amerika (USD).
  • Likuiditas & Biaya: Menjual perhiasan sering kali dikenakan potongan biaya pembuatan yang besar, sehingga nilai investasinya bisa berkurang.
  • Keamanan Fisik: Menyimpan emas di rumah berisiko terhadap pencurian. Gunakan Safe Deposit Box jika jumlahnya signifikan.
  • Biaya Tersembunyi: Hati-hati dengan biaya admin atau biaya penyimpanan tahunan pada platform emas digital yang tidak transparan.

FAQ 

  1. Mengapa investasi emas dianggap lebih aman dibanding saham?
    Emas adalah aset fisik dengan nilai intrinsik yang cenderung stabil atau naik saat pasar saham sedang jatuh (safe haven).
  2. Apakah 2026 waktu yang tepat untuk berinvestasi emas?
    Dengan adanya harapan pemotongan suku bunga, emas cenderung menguat. Namun, pembelian bertahap selalu lebih baik daripada all-in.
  3. Berapa persen alokasi emas yang ideal dalam portofolio?
    Umumnya, para ahli menyarankan 5% hingga 15% dari total portofolio Anda.
  4. Mengapa Gen Z lebih suka membeli emas di bawah 5 gram?
    Karena lebih terjangkau secara arus kas (cash flow) dan memudahkan likuidasi sebagian jika dibutuhkan dana mendesak.
  5. Apakah emas perhiasan termasuk investasi yang bagus?
    Bagus sebagai simpanan jangka panjang, namun kurang efisien dibanding batangan karena adanya biaya pembuatan yang tidak kembali saat dijual.
  6. Apa penyebab utama harga emas naik di tahun 2026?
    Faktor utamanya adalah harapan penurunan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, dan inflasi global.
  7. Bisakah saya berinvestasi emas tanpa menyimpannya di rumah?
    Ya, melalui emas digital atau tabungan emas di platform seperti Pluang yang menjamin keamanan investasi dan penyimpanan emas.
  8. Mengapa masih banyak orang ragu membeli emas secara online?
    Data menunjukkan 31% khawatir soal kemurnian dan 29% soal biaya tersembunyi. Penting untuk memilih platform yang terdaftar secara resmi.

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Strategi untuk Investor Muda di Tahun 2026

Berdasarkan data di atas, emas telah bertransformasi dari sekadar simbol tradisi menjadi alat strategis untuk bertahan di tengah gejolak ekonomi. Gen Z dan Milenial membuktikan bahwa mereka adalah investor yang cerdas dengan menggabungkan kearifan aset klasik dengan strategi pembelian modern yang bertahap.

Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak mereka dalam membangun portofolio emas yang kokoh, berikut adalah beberapa tips strategis:

  1. Fokus pada Kemurnian: Jika tujuan utama Anda adalah investasi murni, pertimbangkan koin atau batangan (Logam Mulia) yang memiliki spread (selisih harga jual-beli) lebih kecil dibanding perhiasan.
  2. Manfaatkan Momentum Harga: Jangan terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out). Gunakan data historis dan pantau berita ekonomi global (seperti kebijakan Fed) sebelum melakukan pembelian besar.
  3. Akumulasi Bertahap: Jangan menunggu punya dana puluhan juta. Manfaatkan opsi pembelian unit kecil (di bawah 5 gram) secara konsisten setiap bulan untuk mendapatkan harga rata-rata yang optimal.
  4. Pilih Platform Terpercaya: Untuk mengatasi kekhawatiran soal kemurnian (31%) dan biaya tersembunyi (29%), pastikan Anda berinvestasi di platform yang transparan, memiliki sertifikasi resmi, dan diawasi oleh otoritas terkait, seperti Pluang.

Emas mungkin merupakan salah satu aset tertua di dunia, namun di tangan Gen Z dan Milenial, ia menjadi instrumen finansial yang sangat relevan untuk masa depan yang lebih aman.

Sources: 

Laporan Smytten PulseAI: "From Shaadi Gold To Strategy Gold: How modern India buys its most trusted asset" (Februari 2026).

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1