Berita & Analisis
Gen Z & Milenial Makin Menggemari Investasi Emas di 2026










Menurut Pluang Research Team, telah terjadi pergeseran paradigma yang signifikan dimana emas bukan lagi sekadar warisan atau pelengkap pernikahan (sentiment), melainkan bagian inti dari alokasi aset investasi.
Mari kita bedah secara mendalam mengapa fenomena ini terjadi dan bagaimana Gen Z dan Milenial mengelola aset aman (safe haven) ini.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Key Takeaways
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Pergeseran Stigma Emas, dari Aset Kuno ke Aset Investasi Aman
Selama dekade terakhir, emas sering dianggap sebagai aset "malas" oleh investor muda yang lebih menyukai volatilitas tinggi di pasar kripto atau saham teknologi. Namun, data tahun 2026 menunjukkan kembalinya rasionalitas.
Sekitar 7 dari 10 responden menyatakan bahwa logika dan ekspektasi imbal hasil (expected returns) kini jauh lebih menentukan keputusan pembelian dibandingkan kenyamanan emosional atau tekanan keluarga. Hanya kurang dari 5% pembeli yang mengaku membeli emas karena tekanan keluarga.
Data ini mengonfirmasi bahwa Gen Z dan Milenial membeli emas karena mereka paham fungsinya, bukan karena disuruh orang tua. Sebanyak 43% konsumen mengasosiasikan emas dengan investasi aman, sementara 26% secara spesifik menghubungkannya langsung dengan keamanan finansial (financial security).
Mengapa kepercayaan ini begitu kuat? Jawabannya terletak pada kondisi makroekonomi. Harapan akan pemotongan suku bunga The Fed dan data pekerjaan AS yang fluktuatif telah membuat harga emas dan perak melonjak lebih dari 6% dalam periode singkat di awal 2026.
Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian:
Bagi Milenial, emas berfungsi sebagai pelindung (protective asset). Sekitar 9% dari kelompok ini secara spesifik menyebut emas sebagai cadangan (backup) untuk masa-masa sulit. Sementara bagi Gen Z, kepemilikan emas sering kali dimulai sejak mereka mendapatkan penghasilan rutin pertama mereka (28% Gen Z menghubungkan emas dengan keamanan finansial sejak dini).
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Salah satu temuan paling krusial dalam laporan ini adalah munculnya tren akumulasi bertahap. Era membeli emas dalam satuan kilogram atau ratusan gram secara sekaligus mungkin sudah lewat bagi investor ritel muda.
Data menunjukkan pergerakan menuju pembelian dalam jumlah kecil namun sering:
Ini mencerminkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yang diaplikasikan pada aset fisik. Investor muda lebih memilih membangun portofolio emas mereka sedikit demi sedikit (2 hingga 10 gram) daripada menunggu dana besar terkumpul. Ini adalah pendekatan yang sangat terstruktur dan inklusif secara finansial.
Meskipun instrumen investasi murni seperti koin dan batangan tersedia luas, perhiasan emas tetap memegang posisi dominan di hati konsumen muda.
Format Emas | Persentase Preferensi | Tujuan Utama |
Perhiasan (Simpanan Jangka Panjang) | 42% | Investasi & Simpanan |
Perhiasan (Keperluan Acara/Seremonial) | 30% | Budaya & Estetika |
Koin dan Batangan (Logam Mulia) | 18% | Investasi Murni |
Emas Digital | 5% | Kemudahan Akses |
Data ini menunjukkan bahwa 72% preferensi masih tertuju pada perhiasan. Mengapa? Karena bagi investor muda, perhiasan memberikan "utilitas ganda" yaitu bisa dipakai untuk meningkatkan status sosial atau estetika, namun tetap memiliki nilai intrinsik yang bisa dijual kembali saat butuh likuiditas.
Meskipun kita berada di era digital, laporan ini mengungkapkan fakta mengejutkan: 86% rumah tangga masih membeli emas melalui toko fisik (offline).
Kepercayaan tetap menjadi komoditas termahal dalam perdagangan emas. Ada beberapa hambatan utama yang membuat penetrasi emas digital masih rendah:
Menariknya, Gen Z menunjukkan preferensi yang seimbang antara toko perhiasan bermerek (branded chains) dan toko lokal, dengan masing-masing meraih 39%. Sementara Milenial lebih loyal kepada toko lokal dan toko perhiasan keluarga, masing-masing 28% dan 14%.
Hanya 3% Gen Z dan 8% Milenial yang sudah sepenuhnya beralih ke pembelian online untuk perhiasan, koin, dan batangan. Ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi platform teknologi finansial untuk meningkatkan transparansi dan edukasi mengenai keamanan investasi emas digital.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Walau emas merupakan aset ‘safe haven’, tetapi investasi emas tidak selamanya mulus. Sekitar 67% pembeli melaporkan pernah mengalami keraguan atau penyesalan setelah membeli emas. Penyebabnya bukan karena emasnya itu sendiri, melainkan faktor teknis:
Hal ini menekankan pentingnya bagi investor muda untuk memahami perbedaan antara harga emas dunia dan harga eceran, serta biaya-biaya tambahan yang menyertai setiap format emas.
Fitur | Perhiasan | Emas Batangan (Fisik) | Emas Digital |
Tujuan | Gaya hidup + Investasi | Investasi Murni | Aksesibilitas & Likuiditas |
Biaya Pembuatan | Tinggi (10-20%+) | Rendah | Tidak Ada |
Kemudahan Jual | Sedang (perlu cek kadar) | Tinggi (dengan sertifikat) | Sangat Tinggi (Instan) |
Penyimpanan | Mandiri (Risiko Hilang) | Brankas/Safety Box | Dikelola Platform |
Modal Awal | Tinggi | Sedang | Sangat Rendah (Mulai Rp10rb) |
Investasi emas bukan tanpa risiko. Sebagai investor yang bijak, pertimbangkan hal berikut:
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Berdasarkan data di atas, emas telah bertransformasi dari sekadar simbol tradisi menjadi alat strategis untuk bertahan di tengah gejolak ekonomi. Gen Z dan Milenial membuktikan bahwa mereka adalah investor yang cerdas dengan menggabungkan kearifan aset klasik dengan strategi pembelian modern yang bertahap.
Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak mereka dalam membangun portofolio emas yang kokoh, berikut adalah beberapa tips strategis:
Emas mungkin merupakan salah satu aset tertua di dunia, namun di tangan Gen Z dan Milenial, ia menjadi instrumen finansial yang sangat relevan untuk masa depan yang lebih aman.
Sources:
Laporan Smytten PulseAI: "From Shaadi Gold To Strategy Gold: How modern India buys its most trusted asset" (Februari 2026).


