ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Besok Tarif Trump Berlaku, Apakah Saham dan Emas Diuntungkan?
shareIcon

Besok Tarif Trump Berlaku, Apakah Saham dan Emas Diuntungkan?

23 Feb 2026, 8:58 AM
·
Waktu baca: 5 menit
shareIcon
Besok Tarif Trump Berlaku, Apakah Saham dan Emas Diuntungkan?
Dunia investasi kembali memasuki babak baru perang dagang akibat volatilitas kebijakan dari Gedung Putih. Hanya dalam hitungan jam setelah Mahkamah Agung AS (Supreme Court) membatalkan wewenang tarif darurat Presiden Donald Trump, sang presiden membalas dengan manuver yang lebih agresif.

Trump secara resmi mengumumkan kenaikan tarif global menjadi 15%, sebuah langkah yang tidak hanya menantang otoritas hukum tertinggi di Amerika, tetapi juga mengancam stabilitas perdagangan lintas batas. Bagi investor di platform seperti Pluang, pahami mengapa mekanisme di balik "Trump Trade" ini sangat krusial untuk menavigasi aset seperti saham Amerika, emas, hingga instrumen berbasis dolar.

Key Takeaways

  • Eskalasi Tarif: Trump meningkatkan rencana tarif global dari 10% menjadi 15% menggunakan Section 122 Trade Act 1974.
  • Legalitas Sementara: Kebijakan ini berlaku selama 150 hari tanpa persetujuan Kongres untuk mengatasi defisit neraca pembayaran.
  • Risiko Inflasi: Kenaikan biaya impor diprediksi menambah beban inflasi AS sebesar 0,7% – 0,9%, yang dapat menahan suku bunga The Fed tetap tinggi.
  • Dampak Portofolio: Saham sektor ritel dan teknologi paling berisiko, sementara emas dan komoditas strategis berpotensi menjadi safe haven.

Quick Facts Table

Fitur

Detail Kebijakan

Tarif Global Baru

15% (Naik dari rencana awal 10%)

Dasar Hukum

Section 122, Trade Act of 1974

Tanggal Efektif

Direncanakan mulai 24 Februari 2026

Durasi Berlaku

150 Hari (Sebelum memerlukan persetujuan Kongres)

Total Pajak Terkumpul

$130 Miliar (Estimasi dana yang harus di-refund pasca putusan MA)

Defisit Dagang AS

$1,2 Triliun (Meningkat 2,1% di awal 2026)

Kronologi Kejadian Pergolakan Tarif Trump

1. Kegagalan IEEPA & Lubang Pendapatan $130 Miliar

Sebelum dibatalkan Mahkamah Agung, Trump menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk mengumpulkan pajak impor.

  • Data Pemerintah: AS telah mengumpulkan sedikitnya $130 miliar (£96,4 miliar) dalam bentuk tarif melalui IEEPA.
  • Risiko Refund: Putusan pengadilan (6-3) menyatakan pengumpulan ini "tidak sah". Jika bisnis berhasil memenangkan gugatan pengembalian (refund), kas negara AS terancam defisit instan sebesar $130 miliar.
  • Koneksi Angka: Kenaikan tarif ke 15% (naik dari rencana awal 10%) adalah upaya Trump untuk "menutup kerugian" kas negara dan memberikan tekanan baru sebelum proses refund yang berbelit-belit dimulai.

2. Paradoks Defisit Perdagangan

Trump berargumen tarif akan menekan defisit perdagangan, namun data berkata sebaliknya:

  • Defisit 2024: Mencapai rekor tertinggi baru.
  • Pertumbuhan Defisit: Widening (melebar) sebesar 2,1% di awal 2026.
  • Angka Total: Defisit perdagangan AS kini menyentuh angka fantastis $1,2 triliun.
  • Analisis: Secara matematis, tarif 15% pada barang impor senilai triliunan dolar akan meningkatkan biaya input bagi manufaktur AS. Contohnya, jika bahan baku baja naik 15%, biaya produksi mobil AS akan naik sekitar $2.500 - $4.000 per unit, yang justru membuat ekspor AS kurang kompetitif dan berisiko memperlebar defisit lebih jauh.

3. Section 122: Batas Waktu Krusial 150 Hari

Trump beralih ke Section 122 yang memiliki batasan waktu ketat:

  • Durasi Tanpa Kongres: 150 hari (sekitar 5 bulan).
  • Batas Maksimum: 15% (inilah alasan mengapa Trump langsung melompat dari 10% ke 15%—ia ingin menggunakan "plafon tertinggi" yang diizinkan undang-undang tersebut).
  • Dampak Pasar: Investor harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi selama 5 bulan ke depan. Jika Kongres (terutama Demokrat dan Republik moderat) menolak memperpanjang tarif ini setelah 150 hari, pasar saham bisa mengalami rebound mendadak atau justru jatuh karena ketidakpastian regulasi.

Dampak Sektoral: Siapa yang Diuntungkan dan Tidak?

Sektor

Status

Dampak Angka & Sentimen

Ritel (Walmart, Target)

Negatif

Bergantung pada impor barang jadi. Margin laba diprediksi tergerus 3-5%.

Teknologi (Apple, Nvidia)

Campuran

Rantai pasok kompleks. Biaya komponen naik, namun permintaan tetap kuat.

Farmasi & Mineral

Pengecualian

Aman. Pemerintah mengecualikan obat-obatan dan mineral kritis dari tarif 15%.

Otomotif & Logam

Netral-Negatif

Tarif khusus baja/aluminium tetap berlaku secara terpisah dari putusan MA.

Dampak Spesifik pada Aset Investasi di Pluang

A. Saham Amerika (AS) (S&P 500 & Nasdaq)

Tarif 15% adalah "pajak" bagi perusahaan teknologi dan ritel.

  • Apple & Sektor Tech: Dengan asumsi sebagian besar komponen iPhone masih diimpor, tarif 15% bisa memangkas margin laba kotor sebesar 2-4% jika Apple tidak menaikkan harga jual.
  • Sektor Ritel: Perusahaan seperti Walmart (WMT) dan Target (TGT) memiliki eksposur impor yang tinggi. Kenaikan harga barang sebesar 15% dapat menurunkan volume penjualan karena daya beli konsumen tergerus inflasi.

B. Emas Digital (Gold)

Emas adalah pemenang alami dalam skenario ini.

  • Korelasi Inflasi: Tarif 15% bersifat inflasiner. Secara historis, setiap kenaikan inflasi sebesar 1%, harga emas cenderung merespons positif sebagai aset pelindung nilai.
  • Sentimen Geopolitik: Ancaman Uni Eropa untuk membekukan kesepakatan dagang dan penundaan negosiasi India di Washington menciptakan ketidakpastian global yang mendorong aliran dana ke safe haven.

C. Dolar (USD/IDR)

  • Efek Dolar: Tarif biasanya memperkuat Dolar karena AS menarik modal kembali ke dalam negeri. Namun, jika ekonomi melambat akibat biaya hidup yang tinggi, Dolar bisa melemah terhadap mata uang komoditas.
  • Rupiah: Investor di Indonesia perlu waspada. Dolar yang terlalu kuat akibat kebijakan Trump seringkali menekan Rupiah (mendekati level psikologis baru).

Tabel Perbandingan: Rencana 10% vs Kebijakan 15%

Indikator

Rencana Awal (10%)

Kebijakan Baru (15%)

Dampak bagi Investor

Biaya Impor Tahunan

~$300 Miliar

~$450 Miliar

Beban biaya meningkat 50% lebih tinggi dari estimasi awal.

Target Inflasi AS

+0,3% ke CPI

+0,7% - 0,9% ke CPI

Suku bunga The Fed berpotensi tetap tinggi (higher for longer).

Respon Global

Negosiasi

Pembekuan Kesepakatan

Risiko perang dagang terbuka dengan Uni Eropa dan India.

Legalitas

Lemah (IEEPA)

Kuat Jangka Pendek (Sec 122)

Kepastian tarif berlaku selama minimal 150 hari.

Reaksi Global: Sekutu Menjadi Musuh?

Kebijakan ini memicu ketidakpastian hebat bagi mitra dagang AS:

  • Inggris & Australia: Padahal sebelumnya sudah menyepakati tarif 10%. Kini, mereka harus menghadapi tarif 15% global. Padahal, Inggris menganggap dirinya memiliki "posisi dagang istimewa".
  • Uni Eropa: Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange, mengusulkan pembekuan ratifikasi kesepakatan dagang dengan AS. "Kesepakatan adalah kesepakatan," tegas mereka.
  • India: Delhi langsung menunda pembicaraan dagang di Washington minggu ini karena kebijakan yang dianggap "chaotic" (kacau).
  • China: Trump tetap dijadwalkan bertemu Xi Jinping pada 31 Maret. Saat ini, rata-rata tarif untuk produk China sudah mencapai 40%.

FAQ

  1. Kapan tarif ini mulai berlaku?
    Target implementasi adalah Selasa, 24 Februari 2026.
  2. Barang apa yang dikecualikan?
    Mineral kritis, logam mentah, dan produk farmasi dilaporkan akan mendapat pengecualian.
  3. Mengapa Trump menaikkan dari 10% ke 15%?
    Untuk menggunakan batas maksimal legalitas Section 122 demi menekan mitra dagang lebih keras.
  4. Apakah ini buruk untuk saham teknologi?
    Ya, bagi perusahaan yang mengimpor komponen (seperti chip atau hardware) dari luar negeri.
  5. Bagaimana pengaruhnya terhadap Emas?
    Biasanya positif, karena emas dianggap aset aman saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan inflasi.
  6. Apakah Inggris terkena dampak?
    Ya, meskipun ada kesepakatan sebelumnya, Trump menyatakan tarif global 15% berlaku untuk semua mitra.
  7. Apakah Mahkamah Agung bisa membatalkan ini lagi?
    Bisa, namun Section 122 memiliki dasar hukum perdagangan yang lebih spesifik dibandingkan IEEPA.
  8. Apakah harga iPhone akan naik?
    Secara matematis, biaya masuk bisa naik 15%, yang berpotensi diteruskan ke harga jual konsumen.

Risks & Considerations 

  • Risiko Pembalasan (Retaliation): Uni Eropa dan India telah mengancam akan membalas dengan tarif serupa pada produk AS, yang dapat memicu resesi global.
  • Volatilitas Mata Uang: Tarif dapat memicu penguatan Dolar AS secara artifisial, namun merugikan mata uang pasar berkembang seperti Rupiah.
  • Risiko Likuiditas: Ketidakpastian hukum mengenai refund pajak sebesar $130 miliar dapat mengganggu arus kas perusahaan besar di S&P 500.

Kesimpulan & Strategi Navigasi

Angka 15% bukan sekadar angka acak; itu adalah batas maksimal legalitas yang bisa digunakan Trump untuk membalas putusan Mahkamah Agung. Bagi investor di Pluang, strategi yang masuk akal adalah:

  1. Diversifikasi ke Emas: Untuk memitigasi risiko inflasi AS yang dipicu tarif.
  2. Pantau Sektor Pengecualian: Perusahaan di bidang Farmasi dan Mineral Kritis akan lebih stabil karena dikecualikan dari tarif 15% ini.
  3. Waspadai Tanggal 24 Februari: Ini adalah deadline pemberlakuan. Pergerakan harga di hari tersebut akan menentukan tren pasar untuk sisa kuartal pertama 2026.

Sources

  • Laporan BBC News
  • Bloomberg (Catherine Lucey)
  • Data Pemerintah AS mengenai IEEPA
  • Pernyataan resmi Gedung Putih (Februari 2026).
Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1