ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Keruntuhan "Black Friday" Logam Mulia: Mengapa Harga Emas dan Harga Silver Jatuh Serentak?
shareIcon

Keruntuhan "Black Friday" Logam Mulia: Mengapa Harga Emas dan Harga Silver Jatuh Serentak?

0 minutes ago
·
Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Keruntuhan "Black Friday" Logam Mulia: Mengapa Harga Emas dan Harga Silver Jatuh Serentak?
Pasar komoditas global baru saja mencatatkan sejarah kelam yang akan diingat selama beberapa dekade ke depan. Pada perdagangan Jumat malam kemarin, apa yang dimulai sebagai koreksi sehat berubah menjadi aksi jual massal yang brutal (panic selling). Harga emas dan harga silver, dua aset yang selama ini dianggap sebagai pelindung nilai terkuat di tahun 2025, terjun bebas dalam hitungan jam.

Kejadian ini mengejutkan investor yang telah terbiasa dengan reli "parabolik" selama setahun terakhir. Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar bursa New York hingga Shanghai, kita perlu membedah kombinasi antara politik Washington, pergerakan mata uang, dan perilaku spekulan global.

Beli SLV di Sini!

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Key Takeaways: Ringkasan Krisis Pasar

  • Sentimen Utama: Nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve memicu lonjakan Dolar AS, yang secara langsung menekan harga emas dan perak.

  • Skala Kejatuhan: Silver mencatatkan penurunan harian terburuk sejak 1980 (turun lebih dari 26%), sementara emas turun 9% dalam satu hari.

  • Pemicu Teknis: Terjadi fenomena forced selling (penjualan paksa) akibat margin call pada kontrak berjangka yang menggunakan daya ungkit (leverage) tinggi.

  • Faktor Eksternal: Penguatan Dolar mematahkan narasi "debasement trade" (perdagangan melawan penurunan nilai mata uang) yang selama ini mendukung logam mulia.

Data Pergerakan Harga Emas dan Harga Silver (Jumat Malam)

Berikut adalah rincian data penutupan pasar untuk memberikan gambaran skala volatilitas yang terjadi:

InstrumenHarga Penutupan (Spot)Perubahan PersentaseStatus Pasar
Spot Gold (XAU/USD)$4,895.22 /oz-9%Penurunan Terburuk 1 Dekade
Gold Futures$4,745.10 /oz-11.4%Deep Correction
Spot Silver (XAG/USD)$83.45 /oz-28%Penurunan Rekor Sejarah
Silver Futures$78.53 /oz-31.4%Terendah sejak Maret 1980

1. Efek Kevin Warsh: Angin Segar bagi Dolar, Petaka bagi Emas

Pemicu awal yang menyulut api di pasar adalah berita mengenai pilihan Presiden Donald Trump untuk kursi pimpinan Federal Reserve mendatang. Nama Kevin Warsh muncul sebagai kandidat kuat menggantikan Jerome Powell.

Pasar merespons nominasi Warsh sebagai sinyal "hawkish" atau kebijakan moneter yang lebih ketat. Warsh dikenal sebagai sosok pragmatis yang sangat menjunjung tinggi independensi bank sentral dan stabilitas nilai tukar. Hal ini secara instan memperkuat Dolar AS (Dollar Index naik sekitar 0,8%), yang membuat investasi pada harga emas menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.

Selama ini, investor membeli emas karena takut akan intervensi politik terhadap Fed atau pelemahan Dolar yang berkepanjangan. Namun, figur Warsh menenangkan kekhawatiran tersebut dan merusak teori bahwa logam mulia akan menggantikan greenback sebagai cadangan devisa utama dunia.

2. Peran Spekulan Tiongkok: Dari Reli ke Keruntuhan

Sepanjang Januari 2026, harga emas dan harga silver didorong oleh gelombang uang panas dari spekulan di Tiongkok. Dari investor ritel hingga dana ekuitas besar di Shanghai dan Shenzhen, semua bertaruh pada kenaikan harga logam sebagai pelarian dari ketidakpastian ekonomi domestik.

Namun, ketika berita dari AS memicu pembalikan arah, para spekulan ini menjadi yang pertama keluar dari pintu darurat. Di pusat perdagangan logam Shuibei, Tiongkok, dilaporkan bahwa antrean pembeli yang sebelumnya mengular kini mulai mereda, berganti dengan sikap "tunggu dan lihat". Ketika pasar Shanghai ditutup dan bursa AS dibuka, aksi ambil untung (profit taking) berubah menjadi kepanikan massal.

3. Badai Margin Call dan Penjualan Paksa

Matt Maley, ahli strategi ekuitas di Miller Tabak, menggambarkan situasi ini sebagai "kegilaan". Banyak day trader masuk ke pasar perak dengan tingkat leverage yang sangat tinggi karena tergiur reli 135% sepanjang tahun 2025.

Ketika harga turun melewati level teknis tertentu, pialang secara otomatis melakukan margin call. Investor yang tidak mampu menambah dana jaminan dipaksa menjual posisi mereka (forced selling). Inilah yang menjelaskan mengapa penurunan perak jauh lebih ekstrem (lebih dari 30% pada kontrak berjangka) dibandingkan emas; pasar perak jauh lebih kecil dan lebih cair, sehingga tekanan jual sedikit saja bisa meruntuhkan harga dengan sangat cepat.

Analisis Fundamental: Apakah Narasi Logam Mulia Sudah Berakhir?

Meskipun kejatuhan ini terlihat seperti kiamat bagi trader harian, banyak pakar melihat ini sebagai "reassessment" atau penilaian ulang terhadap risiko konsentrasi. Katy Stoves dari Mattioli Woods menyamakan posisi emas saat ini dengan saham teknologi AI. Keduanya mengalami "crowding" atau penumpukan posisi di mana semua orang bertaruh pada arah yang sama. Ketika narasi tersebut sedikit saja goyah, terjadi efek domino yang sangat kuat.

Namun, secara fundamental, beberapa faktor pendukung jangka panjang masih ada:

  1. Ketegangan Geopolitik: Konflik yang melibatkan wilayah seperti Greenland, Iran, hingga Venezuela tetap menjadi faktor risiko yang bisa sewaktu-waktu memicu pembelian kembali aset safe haven.

  2. Diversifikasi Cadangan Devisa: Meski melandai, bank-bank sentral dunia (terutama di pasar berkembang) masih memiliki kecenderungan untuk melakukan diversifikasi di luar aset AS akibat kebijakan perdagangan Trump yang agresif.

  3. Permintaan Fisik: Penurunan harga ini justru bisa menjadi peluang bagi pembeli perhiasan dan emas batangan di Asia menjelang perayaan Imlek, di mana harga yang lebih rendah sering dianggap sebagai "diskon" besar.

Apa yang Harus Diperhatikan Investor Selanjutnya?

Pasar saat ini sedang menunggu pembukaan perdagangan di Shanghai untuk melihat apakah investor Tiongkok akan melakukan "buy the dip" (membeli saat harga turun) atau justru melanjutkan aksi jual. Bank-bank besar di Tiongkok, seperti ICBC dan CCB, telah mulai menerapkan kendali kuota dan menaikkan batas deposit minimum untuk produk emas guna meredam risiko spekulasi berlebih.

Bagi Anda yang memantau harga emas dan harga silver, penting untuk diingat bahwa volatilitas setinggi ini jarang sekali berakhir dalam satu malam. Perlu waktu bagi pasar untuk membentuk basis harga baru setelah mengalami guncangan sebesar 26-30%.

Beli SLV di Sini!

Beli Produk Emas Pluang Di SIni!

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1