ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Gagalnya "Penyelamat" Crypto: Mengapa Coinbase & Raksasa Industri Memboikot CLARITY Act?
shareIcon

Gagalnya "Penyelamat" Crypto: Mengapa Coinbase & Raksasa Industri Memboikot CLARITY Act?

20 Jan 2026, 7:44 AM
·
Waktu baca: 3 menit
shareIcon
Gagalnya "Penyelamat" Crypto: Mengapa Coinbase & Raksasa Industri Memboikot CLARITY Act?
Dunia aset digital Amerika Serikat sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Awalnya, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun di mana "kepastian hukum" akhirnya tiba melalui Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act). Namun, dalam sebuah plot twist yang mengguncang pasar, Coinbase bersama lingkaran industri kripto papan atas secara resmi menarik dukungan mereka pada pertengahan Januari 2026.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup Senat AS? Mengapa sebuah regulasi yang ditunggu-tunggu justru dianggap sebagai "surat kematian" bagi inovasi? Mari kita bedah secara mendalam.

Akar Masalah: Pergeseran dari "Regulasi" ke "Restriksi"

Pada awalnya, CLARITY Act dirancang untuk mengakhiri perselisihan antara SEC (Securities and Exchange Commission) dan CFTC (Commodity Futures Trading Commission). Namun, draf final yang bocor ke publik menunjukkan adanya lobi-lobi berat dari sektor perbankan tradisional yang masuk di menit-menit terakhir.

1. Ancaman Terhadap Ekonomi Stablecoin ($USDC)

Coinbase memiliki kepentingan besar dalam ekosistem stablecoin melalui kemitraannya dengan Circle. Data menunjukkan bahwa pendapatan bunga dari cadangan USDC menyumbang sekitar $1,4 miliar hingga $1,6 miliar (setara Rp22 - 25 Triliun) bagi pendapatan tahunan Coinbase.

Poin dalam CLARITY Act yang melarang penerbit stablecoin memberikan imbal hasil (yield) atau bunga kepada pengguna dianggap sebagai serangan langsung. Jika aturan ini disahkan, daya tarik stablecoin sebagai instrumen tabungan digital akan hilang, dan likuiditas sebesar $135 miliar di pasar stablecoin terancam bermigrasi ke luar AS (terutama ke Uni Eropa dan Hong Kong).

2. Pembunuhan Inovasi RWA (Real World Assets)

Sektor tokenization atau RWA diproyeksikan akan menjadi industri senilai $16 triliun pada tahun 2030. Namun, revisi terbaru CLARITY Act secara eksplisit membatasi perdagangan "saham yang ditokenisasi" di bursa kripto.

  • Dampaknya: Inovasi untuk memperdagangkan emas, properti, hingga saham perusahaan AS di atas blockchain akan terhenti total bagi investor ritel di Amerika. Ini memaksa protokol RWA untuk menutup akses bagi warga AS.

3. Erosi Privasi dan Protokol DeFi

Poin yang paling membuat komunitas kripto geram adalah kewajiban bagi setiap dompet self-custody (seperti MetaMask atau Coinbase Wallet) untuk memverifikasi identitas setiap transaksi di atas $3.000. Hal ini dianggap melanggar privasi finansial dan secara teknis hampir mustahil diterapkan pada protokol bursa terdesentralisasi (DEX).

Analisis Dampak: Bagaimana Ini Mempengaruhi Pasar?

Keputusan Coinbase untuk "lebih baik tanpa regulasi daripada regulasi yang buruk" memiliki dampak domino yang signifikan bagi investor:

A. Volatilitas Harga dan Sentimen "Lari ke Luar Negeri"

Begitu Coinbase menarik dukungannya, Bitcoin (BTC) sempat mengalami koreksi sebesar 6,5% dalam 24 jam karena pasar khawatir akan berlanjutnya aksi penindakan hukum oleh SEC tanpa payung hukum yang jelas. Investor mulai melihat tren "Brain Drain" di mana perusahaan kripto AS memindahkan kantor pusat mereka ke wilayah dengan regulasi yang lebih bersahabat seperti Uni Eropa (melalui MiCA) atau Dubai (VARA).

B. Persaingan dengan Perbankan Tradisional

Gagalnya CLARITY Act menunjukkan betapa kuatnya lobi perbankan tradisional. Bank-bank besar melihat stablecoin sebagai kompetitor bagi produk deposito mereka. Dengan menghambat RUU ini, industri kripto justru masuk ke mode "bertahan" melawan hegemoni sistem keuangan lama.

C. Dampak Bagi Investor Ritel (Termasuk di Pluang)

Bagi Anda investor di Indonesia melalui platform seperti Pluang, dinamika di AS ini tetap krusial:

  • Likuiditas Global: Karena AS adalah pasar likuiditas terbesar, ketidakpastian ini dapat membuat pergerakan harga kripto menjadi lebih liar dan sulit diprediksi secara teknikal.

  • Dominasi Altcoin: Narasi mengenai DeFi dan RWA mungkin akan mengalami kelesuan sementara di pasar AS, namun ini membuka peluang bagi proyek-proyek berbasis Asia atau Eropa untuk memimpin inovasi di siklus kali ini.

Kesimpulan: Sebuah Langkah Berani untuk Masa Depan

Brian Armstrong dan Coinbase mengambil risiko politik yang besar. Dengan membatalkan dukungan terhadap CLARITY Act, mereka menunda legalitas formal demi menjaga integritas desentralisasi.

Bagi industri, ini adalah pesan kuat kepada Washington: Kripto bukan lagi industri kecil yang bisa didikte oleh aturan perbankan tahun 1930-an. Meskipun dalam jangka pendek kita akan melihat ketidakpastian, dalam jangka panjang, penolakan terhadap regulasi yang cacat adalah langkah proteksi agar ekosistem aset digital tetap inklusif dan inovatif.

Apa langkah selanjutnya bagi investor? Tetap waspada terhadap rilis data inflasi AS dan pernyataan lanjutan dari Senat. Di tengah ketidakpastian regulasi, diversifikasi aset tetap menjadi kunci utama dalam mengelola portofolio kripto Anda di Pluang.

Ditulis oleh
channel logo
Marcella KusumaRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1