Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Mengapa Lonjakan Parabolik Bitcoin Berikutnya Menunggu Data Manufaktur?
shareIcon

Mengapa Lonjakan Parabolik Bitcoin Berikutnya Menunggu Data Manufaktur?

19 Jan 2026, 5:39 AM·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Kategori
Mengapa Lonjakan Parabolik Bitcoin Berikutnya Menunggu Data Manufaktur?

Pernahkah Anda merasa lelah memantau setiap pidato pejabat Federal Reserve hanya untuk menebak arah pasar kripto? Banyak investor terjebak dalam kebisingan suku bunga, padahal ada sinyal yang jauh lebih kuat namun sering diabaikan oleh massa: ISM Manufacturing PMI.

Saat ini, Bitcoin tampak seperti "pegas yang tertekan" (coiled spring). Harganya mungkin terlihat berkonsolidasi membosankan, namun sejarah mencatat bahwa momentum besar biasanya terjadi bukan karena narasi semata, melainkan saat ekonomi manufaktur beralih dari fase kontraksi ke ekspansi. Jika Anda ingin tahu kapan Bitcoin akan kembali masuk ke fase parabolik, jawabannya ada pada "Garis 50".

Takeaway 1: Keajaiban Angka 50 pada Indeks PMI

ISM Manufacturing PMI adalah survei bulanan yang melacak denyut nadi sektor manufaktur. Angka 50 adalah "batas suci": di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 berarti kontraksi. Sebagai analis strategi makro, saya melihat indikator ini sebagai termometer risk-appetite global.

Berdasarkan data historis (2013, 2017, 2021), tepat ketika PMI menyeberang dari zona kontraksi (<50) kembali ke zona ekspansi (>50), Bitcoin memasuki tren kenaikan yang violent (agresif). Menariknya, kita tidak perlu menunggu angka PMI rilis untuk mendapatkan sinyal. Saat ini, harga logam industri seperti tembaga, seng, dan nikel—yang merupakan lead indicator bagi manufaktur—sudah mulai merangkak naik. Ini adalah kode keras bahwa penembusan Garis 50 sudah di depan mata.

"Bitcoin adalah aset yang sangat sensitif terhadap siklus bisnis. Ia bereaksi lebih awal dan lebih tajam dibandingkan aset tradisional karena Bitcoin berfungsi sebagai likuiditas murni yang merespons percepatan ekonomi sebelum tercermin di laporan laba perusahaan saham."

Takeaway 2: Bukan Sekadar Halving, Tapi Likuiditas Global

Narasi populer selalu mendewakan halving sebagai penggerak tunggal. Namun, jika kita membedah data lewat Global Liquidity Index (GLI) milik Michael Howell, terlihat bahwa "bahan bakar" utamanya adalah likuiditas global yang kini menyentuh angka fantastis $200 triliun.

Kita harus memahami bahwa 77% pinjaman global saat ini berbasis kolateral (agunan). Artinya, sistem finansial kita bukan lagi tentang meminjam uang untuk investasi baru, melainkan tentang siklus pembiayaan kembali utang (debt refinancing cycle). Bitcoin, dengan kelangkaan absolutnya, menjadi penyerap utama dari fenomena monetisasi utang ini. Jika likuiditas global adalah bahan bakarnya, maka rebound PMI adalah percikan api yang menyalakannya.

Takeaway 3: Pergeseran Dominasi Institusi (Efek ETF)

Siklus kali ini berbeda secara struktural. Bitcoin bukan lagi sekadar aset spekulasi ritel; ia telah menjadi komponen portofolio institusi besar seperti Wells Fargo, dana abadi Harvard, hingga Morgan Stanley.

Beberapa poin krusial yang mendasari pergeseran ini:

  • Dominasi Arus Dana: Sejak 2023, aliran dana masuk ke ETF menjelaskan hampir 50% dari seluruh pergerakan harga Bitcoin.
  • Alokasi Agresif: Institusi konservatif kini beralih dari perdebatan "apakah Bitcoin layak beli" menjadi "berapa persen alokasi yang tepat" (biasanya di kisaran 1-4%).
  • Filter Makro: Manajer dana besar hanya akan menekan tombol "buy" secara agresif ketika kondisi makro mendukung—dan akselerasi PMI adalah lampu hijau utama bagi mereka.

Takeaway 4: Matinya Siklus 4 Tahun dan Munculnya Siklus 65 Bulan

Banyak yang masih berpegang pada rumus klasik: 17 bulan reli pasca-halving diikuti 12 bulan pasar bearish. Jika kita mengikuti pola ini, Bitcoin seharusnya terancam jatuh ke area $30.000 pada akhir 2026. Namun, data makro terbaru menunjukkan teori ini mungkin sudah usang.

Kita kini memasuki Siklus Likuiditas 65 Bulan yang mengikuti jatuh tempo utang global. Untuk menentukan posisi kita, mari bedah empat rezim alokasi aset:

  1. Rebound: Awal kebangkitan; sektor teknologi dan Bitcoin memimpin.
  2. Calm (Tenang): Fase stabil; ekuitas dan kredit berkinerja solid.
  3. Speculation: Puncak siklus; komoditas dan kripto melonjak gila-gilaan.
  4. Turbulence: Fase penurunan; uang tunai (cash) dan obligasi adalah pemenangnya.

Saat ini kita berada di transisi antara Late Calm menuju Speculation. Meskipun secara "waktu" siklus 4 tahun memperingatkan risiko, indikator kesehatan internal (on-chain composite) masih berada di angka nol—artinya belum ada tanda-tanda euforia irasional yang biasanya menandai puncak pasar.

Takeaway 5: Perang Modal Global—Bitcoin vs Emas

Secara geopolitik, dunia sedang berada dalam Capital War. Blok AS memanfaatkan teknologi stablecoin sebagai alat "redolarisasi" digital. Ini adalah strategi jenius untuk memberikan akses ke US Treasury bagi eksportir di negara-negara yang tidak stabil (seperti China atau Rusia) yang ingin menghindari penyitaan aset (sequestration).

Di sisi lain, China secara rahasia terus mengakumulasi emas (diperkirakan sudah mencapai 5.000 ton lebih) sebagai jangkar kredibilitas moneter mereka. Dalam konteks ini, Michael Howell memberikan analogi yang sempurna:

"Emas adalah pemiliknya, dan Bitcoin adalah anjing yang terikat tali tuntun (leash). Secara jangka panjang mereka berjalan ke arah yang sama (melawan inflasi moneter), namun secara jangka pendek mereka sering bergerak menjauh satu sama lain."

Investor cerdas harus memiliki keduanya: Bitcoin sebagai proksi teknologi dan likuiditas, serta Emas sebagai pelindung nilai moneter klasik.

Kesimpulan: Pandangan ke Depan

Meskipun potensi kenaikan sangat besar, kita harus tetap waspada terhadap gangguan jangka pendek di pasar repo (terlihat dari lonjakan SOFR spreads). Namun, mata kita harus tetap tertuju pada Dinding Jatuh Tempo Utang (Debt Maturity Wall) tahun 2025-2026. Pemerintah tidak punya pilihan selain melakukan inflasi moneter besar-besaran untuk menutupi defisit tersebut.

Bitcoin bukan sekadar aset "narasi". Ia adalah aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas yang tertanam dalam siklus bisnis global. Ketika sektor manufaktur dunia mulai memanas dan menembus Garis 50, pegas yang tertekan itu akan terlepas dengan kekuatan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Pertanyaan penutup untuk Anda: Jika Bitcoin adalah termometer yang mengukur suhu likuiditas global, apakah portofolio Anda sudah siap saat suhu manufaktur dunia mulai mendidih?

Ditulis oleh
channel logo

Jason Gozali

Right baner

Jason Gozali

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1