
Harga minyak didukung oleh risiko geopolitik di Selat Hormuz dan pemotongan produksi OPEC+ yang diperpanjang hingga awal tahun depan. Produksi minyak AS tetap tinggi hampir 13,5 juta barel per hari, menyeimbangkan pasokan yang lebih ketat ditandai dengan penurunan inventaris 6,2 juta barel. Brent sensitif terhadap risiko jalur pelayaran Timur Tengah, sementara WTI dipengaruhi oleh produksi AS yang kuat. Gas alam menghadapi tekanan bearish akibat produksi AS yang tinggi dan cuaca musim semi yang ringan, meski permintaan musim panas bisa mengetatkan pasar. Investor memantau pergerakan harga dengan potensi WTI naik ke $109 dan Brent menguji resistensi $114.