
Hermes mengalami perlambatan penjualan tajam pada kuartal pertama 2026 akibat konflik Timur Tengah, dengan volume penjualan stagnan dan pendapatan dari Timur Tengah turun 6%, meski pendapatan keseluruhan naik 6% karena kenaikan harga. Harga saham turun signifikan, menurunkan valuasi dari sekitar 51-52x menjadi 38,3x P/E, menciptakan peluang beli. Profitabilitas tetap kuat, dan reaksi pasar dianggap berlebihan, sehingga investor jangka panjang bisa mendapat keuntungan dari model bisnis Hermes yang tangguh dan posisi premium. Dampak konflik menantang permintaan barang mewah, tapi fundamental tetap kokoh untuk pertumbuhan masa depan.