
Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan senjata senilai lebih dari $8,6 miliar ke sekutu Teluk yaitu UAE, Israel, Qatar, dan Kuwait dengan alasan darurat keamanan nasional di tengah gencatan senjata rapuh dengan Iran. Paket terbesar adalah $4,01 miliar untuk sistem misil Patriot Qatar dan $2,5 miliar untuk Sistem Komando Tempur Terpadu Kuwait. Penjualan ini terjadi saat pengeluaran militer global mencapai rekor $2,9 triliun pada 2025, dengan AS juga mendukung Ukraina dan mempertahankan kesepakatan senjata strategis meski ketegangan regional meningkat. Langkah ini menunjukkan komitmen AS terhadap keamanan Timur Tengah di tengah ketidakpastian hubungan dengan Iran.