Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 2 menit

View
0

Menentukan Strategi Investasi Leverage

Potensi cuan yang ditawarkan kegiatan leverage memang menggiurkan. Kendati demikian, imbalan yang diterima dari aktivitas ini bakal lebih maksimal jika sang investor melancarkan strategi investasi yang jitu. Lantas, bagaimana caranya memasang strategi leverage yang tepat? Simak selengkapnya di artikel berikut!

Menentukan Strategi Tepat Leverage

1. Hanya Dipakai Saat Pasar dalam Kondisi Uptrend

Seperti yang telah disinggung di artikel sebelumnya, cuan leverage akan mengalir deras ketika harga aset sedang menanjak. Sebaliknya, aksi leverage justru akan jadi momok ketika harga aset babak belur.

Nah, oleh karenanya, investor sebaiknya melakukan aksi leverage jika yakin bahwa harga sang underlying asset akan memasuki fase uptrend

Namun pertanyaannya, apa ciri-ciri utama dari tahapan uptrend? Sekadar informasi, syarat utama fase uptrend adalah ketika harga sebuah aset membentuk pola Higher High Higher Low (HH HL), seperti tercermin di ilustrasi di bawah ini!

Contoh pola HH HL

Lebih lanjut, kegiatan leverage di aplikasi Pluang memiliki fitur posisi Buy atau Long yang membantu Sobat Cuan dalam memanfaatkan momentum uptrend demi mendulang cuan optimal. Kendati begitu, kamu tetap disarankan memahami analisis teknikal terlebih dulu agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan di aktivitas satu ini.

2. Perhatikan Kondisi Makroekonomi!

Sama seperti kegiatan investasi di aset lainnya, aspek makroekonomi juga menjadi faktor kunci bagi investor sebelum berkutat di kegiatan leverage. 

Sebab, memahami kondisi makroekonomi akan membantu investor untuk memutuskan apakah harus masuk atau keluar dari aktivitas leverage. Di samping itu, mengetahui situasi ekonomi terkini juga bisa membantu investor menenukan saham sektor apa yang perlu di-leverage demi meraih profit yang oke.

Sebagai contoh, jika Sobat Cuan memperhatikan bahwa harga komoditas masih bertengger di puncak, maka tidak ada salahnya kamu mencari peruntungan dengan melakukan leverage atas saham-saham sektor tersebut.

Namun, ketika harga komoditas memuncak, justru Sobat Cuan harus menghindari saham-saham sektor konsumsi. Sebab, hal itu akan membuat biaya bahan baku produksi mereka semakin mahal dan ujungnya menekan profitabilitas sektor tersebut ke depan.

3. Menentukan Batas Stop Loss dan Take Profit

Sebelum melakukan aksi beli dan jual, investor sebaiknya menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan membeli suatu aset. 

Begitu pun sebaliknya. Pelaku pasar juga harus menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan menjual asetnya, baik yang bertujuan untuk membatasi kerugian (stop loss) dan mengambil untung (take profit).

Contoh area Stop Loss dan Take Profit

Namun, investor harus menentukan dua titik tersebut sebelum melakukan aksi apapun di kegiatan leverage dengan berbasiskan analisis teknikal dan fundamental.

Hal ini dianggap penting lantaran aksi leverage menyimpan risiko volatilitas yang tinggi. Jika investor tidak buru-buru memasang titik kerugiannya, maka mereka bisa didera rugi besar ketika harga aset yang mereka koleksi terjun bebas.

Selain itu, memasang titik stop loss dan take profit di awal diharapkan bisa mencegah investor dari bersikap rakus dan gelap mata ketika harga aset tengah melonjak.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?