Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 4 menit

View
0

Mengenal Istilah dalam Kegiatan Leverage

Sama seperti kegiatan investasi lainnya, leverage memiliki beberapa istilah khusus yang hanya terdapat di dalamnya. Lantas, seperti apa contoh dari istilah-istilah tersebut? Yuk, pelajari lebih jauh di sini!

Manfaat Memahami Istilah Leverage

Terdapat sebuah peribahasa umum yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang” yang artinya kamu tidak mungkin bisa memahami sesuatu jika kamu tak mengenal seluk-beluknya. Nah, hal serupa juga terjadi di kegiatan leverage.

Pihak broker yang mengelola kegiatan leverage biasanya menggunakan istilah-istilah khusus ketika menawarkan jasanya ke investor. Jika sang investor tak memahaminya, maka ia bisa menjadi bingung untuk mengambil keputusan. Alih-alih mendapat untung, sang investor bisa berujung menjadi buntung!

Di samping itu, kamu juga bisa lebih mengerti mengenai konsep dan cara kerja kegiatan leverage jika memahami terma yang berlaku di dalamnya. Oleh karenanya, yuk perhatikan baik-baik istilah berikut!

Ragam Istilah Leverage

1. Margin

Margin adalah jumlah uang yang harus kamu keluarkan untuk membuka posisi dalam leverage. Sederhananya, margin adalah “modal awal” ketika kamu memutuskan terjun ke investasi ini.

Namun, nilai margin tentu berbeda-beda antara satu kegiatan leverage dengan aktivitas lainnya. Hal ini tergantung dengan volatilitas pasar, kondisi likuiditas pasar underlying asset, dan harga underlying asset yang berlaku saat kamu membuka posisi leverage.

Biasanya, broker menggunakan satu indikator bernama rasio margin terhadap ekuitas (margin-to-equity) untuk mengukur tingkat margin yang ia butuhkan ketika mengelola aset bernilai tertentu.

Sebagai contoh, satu perusahaan manajemen investasi ingin mengelola aset bernilai Rp100 juta dan membutuhkan margin sebesar Rp25 juta. Maka, rasio margin-to-equity dari kegiatan tersebut adalah Rp25 juta dibagi Rp100 juta, atau setara 25%.

Namun, jika kamu telah menyetor margin untuk membuka posisi leverage tetapi kegiatan itu belum diproses, maka hal itu kemudian disebut dengan Pending Margin.

2. Maintenance Margin, Free Margin, dan Buying Power

Maintenance Margin adalah persentase minimum dari jumlah margin disetor yang harus disimpan di dalam saldo margin investor.

Sebagai contoh, Pluang menetapkan Maintenance Margin di level 70%, mengindikasikan bahwa investor setidaknya harus “menjaga” 70% dari total margin yang telah disetornya di dalam akun miliknya.

Lantas, apa sih gunanya ketentuan Maintenance Margin?

Sang investor harus mengikuti ketentuan Maintenance Margin jika ia ingin terus membuka posisi di kegiatan leverage. Pasalnya, Maintenance Margin merupakan indikator bahwa sang investor benar-benar memiliki “bantalan” dana yang mumpuni jika risiko kerugian di kegiatan leverage sedang menanjak.

Dengan kata lain, kehadiran Maintenance Margin bertujuan melindungi investor dan perusahaan manajemen investasi dari kerugian berlebih, yang nantinya juga berkontribusi melindungi ekosistem jasa keuangan secara umum.

Adapun kebalikan dari Maintenance Margin adalah Free Margin, yakni sejumlah margin yang bebas digunakan investor untuk membuka posisi leverage baru. Tingkat Free Margin investor akan berkurang jika ia membuka posisi baru dan akan bertambah jika ia menutup posisinya atau memiliki laba/rugi yang belum terealisasi.

Cara menghitung Free Margin cukup mudah dengan rumus Ekuitas - (Margin + Pending Margin).

Kemudian, terdapat istilah lain bernama Buying Power yang menggambarkan seberapa besar potensi leverage yang bisa kamu raih dengan memanfaatkan sisa Free Margin yang kamu miliki. Cara mengukurnya pun simpel, kamu hanya perlu mengalikan Free Margin-mu dengan daya ungkit leverage maksimal yang ditawarkan sang broker.

Sebagai contoh, kamu memiliki sisa margin Rp5 juta sementara sang manajemen investasi pilihanmu menawarkan daya ungkit exposure atas modalmu maksimal sebesar 2x. Maka, Buying Power yang kamu miliki menjadi Rp10 juta.

3. Margin Level

Margin Level adalah indikator dalam bentuk persentase yang menggambarkan total jumlah uang yang telah kamu gunakan untuk leverage. Untuk mengetahuinya, kamu tinggal membandingkan ekuitas yang kamu miliki dengan margin yang telah kamu keluarkan dengan rumus sebagai berikut: (Ekuitas / (Margin + Pending Margin)) x 100%

Parameter ini bisa memberikan gambaran mengenai persentase jumlah “sisa” margin  yang bisa kamu gunakan untuk membuka posisi leverage baru. Semakin tinggi tingkat Margin Level, maka artinya Free Margin yang bisa kamu gunakan masih cukup lapang jika ingin menambah posisi baru.

4. Laba/Rugi Belum Terealisasi, Balance, dan Equity 

Ketiga istilah ini mencerminkan “kesehatan” kondisi modalmu pasca melakukan aksi leverage. Sehingga, kamu bisa menentukan keputusan apakah ingin konsisten berkecimpung di kegiatan leverage atau justru harus buru-buru keluar dari situ.

Sebagai langkah awal untuk mengetahuinya, kamu harus menghitung laba/rugi yang belum terealisasi dari kegiatan leverage. Caranya adalah dengan mengurangi harga underlying asset di saat kamu membuka posisi leverage dengan harga underlying asset tersebut pada saat ini. Secara sederhananya, kalkulasi laba/rugi belum terealisasi dapat digambarkan melalui rumus (harga beli x kuantitas produk) - (harga saat ini x kuantitas produk).

Jika hasil kalkulasi itu positif, maka artinya kamu berhasil mendulang laba belum terealisasi. Begitu pun sebaliknya. Kamu akan menerima rugi belum terealisasi jika selisih antara harga aset saat beli dan harga aset saat ini menunjukkan hasil negatif.

Tapi pertanyaannya, kenapa harus ada embel-embel “belum terealisasi” dalam kalkulasi tersebut?

Jawabannya cukup simpel, Sobat Cuan. Kamu masih belum akan beneran menerima hasil laba/rugimu jika posisi leverage-mu masih terbuka. Sehingga, laba/rugi tersebut akan berubah status menjadi “terealisasi”, alias benar-benar kamu terima, jika kamu memutuskan menutup posisi leverage-mu.

Setelah mendapatkan angka laba/rugi belum terealisasi, maka kemudian kamu bisa menghitung Balance, yakni total nilai portofoliomu saat ini. 

Cara menghitungnya adalah dengan melihat total margin-mu saat ini dikurangi laba/rugi belum terealisasi dan beban-beban lainnya, termasuk beban overnight fee dan beban transaksi, atau dengan rumus sebagai berikut: (Free Margin + Margin - Laba/Rugi Belum Terealisasi - Beban-beban lain)

Lebih lanjut, kamu juga bisa mengalikan Balance dengan laba/rugi yang belum terealisasi untuk mengukur nilai Equity, yaitu nilai total portofoliomu sesungguhnya yang dihitung sejak kamu melakukan aksi leverage.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?