Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 4 menit

View
0

Apa Itu Leverage dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Leverage adalah kegiatan di mana investor bisa menambah exposure atas suatu aset dengan nilai yang lebih besar dari modal awalnya. Tetapi, mengapa kegiatan ini hadir? Dan mengapa investor harus melakukan leverage? Simak di artikel berikut!

Sekilas Pandang tentang Leverage

Leverage adalah sebuah instrumen yang didesain untuk meningkatkan eksposur para investor terhadap suatu aset tanpa perlu membayar seluruh eksposur dari ekuitas yang mereka miliki.

Sejatinya, ketika seorang investor memakai leverage dalam trading, mereka akan memiliki daya beli aset yang lebih besar dari uang yang mereka miliki.

Namun, apa alasan aktivitas leverage hadir di pasar?

Sobat Cuan tentu sadar bahwa masing-masing investor punya modal awal berbeda-beda dalam berinvestasi. Ada pelaku pasar bermodal cekak, namun ada pula yang menggelontorkan modal awal secara jor-joran.

Hanya saja, pelaku pasar bermodal kecil tentunya tak memiliki kesempatan cuan yang sama dengan mereka yang berkantong tebal. Keterpautan tersebut bahkan kian kentara ketika situasi pasar sedang cerah, di mana pelaku pasar bermodal cekak mendulang cuan lebih mini ketimbang mereka yang menggelontorkan modal awal jumbo.

Nah, sebagai solusinya, mereka yang bermodal kecil tersebut bisa memanfaatkan aktivitas leverage untuk memaksimalkan cuan di tengah kondisi tersebut.

Melalui leverage, pelaku pasar bisa memperluas keterpaparannya (exposure) di pasar modal dengan modal awal yang lebih sedikit. Dengan kata lain, leverage memungkinkan investor untuk memiliki posisi investasi dengan nilai lebih tinggi dari modal awalnya.

Memahami Cara Kerja Leverage

Meski terdengar menjanjikan, leverage bukanlah bagian dari skema investasi bodong. Pasalnya, perusahaan manajemen investasi top dunia juga menawarkan aktivitas tersebut ke pelanggannya lantaran cara kerjanya cukup jelas dan transparan.

Ketika mengelola aktivitas leverage, perusahaan manajemen investasi tidak berupaya menggembungkan modal awal yang disetor investor, melainkan hanya memperluas cakupan exposure-nya. Oleh karenanya, aktivitas leverage yang benar harus “dibangun” di atas satu aset dasar (underlying asset) tertentu, misalnya saham, obligasi, mata uang, dan komoditas.

Nantinya, perusahaan manajemen investasi akan meningkatkan kemampuan membeli investor atas underlying asset tersebut ke investor ketika menjalankan aksi leverage. Nah, aksi inilah yang menyebabkan exposure investor di pasar instrumen aset bisa lebih besar meski dengan modal yang lebih kecil.

Contoh Konsep Leverage

Agar lebih memahami konsep leverage, Sobat Cuan bisa menyimak ilustrasi berikut.

Perusahaan manajemen investasi A menawarkan aktivitas leverage 2x berbasis saham berkode ABC kepada investor. Hal itu bisa diartikan bahwa perusahaan A optimistis bisa menambah exposure terhadap saham tersebut sebanyak dua kali lipat dibanding modal awal yang disetor investor.

Di saat yang sama, harga saham ABC saat ini diperdagangkan di harga Rp1 juta per lembarnya. Sehingga, jika investor juga memiliki modal awal sebesar Rp1 juta, maka ia akan berkesempatan mengantongi dua lembar saham ABC bernilai Rp2 juta jika menempatkan uang di kegiatan leverage yang dimaksud.

Sobat Cuan perlu menyadari bahwa dari saham bernilai Rp2 juta tersebut, Rp1 juta merupakan saham ABC yang dimiliki investor sementara Rp1 juta sisanya disebut sebagai margin, yakni selisih antara jumlah modal “sebenarnya” dengan nilai posisi yang tercatat di portofolio.

Adapun perhitungan untung dan buntung kegiatan leverage tersebut sangat tergantung dengan pergerakan nilai saham ABC. Dalam kasus ini, anggap saja nilai saham ABC naik menjadi Rp1,2 juta per lembar. 

Jika sang investor membeli saham secara langsung, maka ia semestinya hanya mendulang cuan sebesar Rp200.000. Namun, mengingat sang investor memanfaatkan leverage perusahaan A, maka profit yang ia hasilkan akan menjadi Rp400.000 lantaran aktivitas tersebut punya daya ungkit exposure dua kali lebih besar dari modal aslinya.

Mekanisme yang sama juga berlaku ketika nilai saham ABC turun. Misalnya, ketika nilai saham itu turun menjadi Rp800.000 per lembar, maka sang investor akan didera kerugian sebesar Rp400.000 alih-alih sebesar Rp200.000.

Mengenal Konsep Overnight Fee

Ketika menjejakkan kaki di kegiatan leverage, investor nantinya akan dibebani dua jenis biaya, yakni modal awal disetor dan overnight fee, yakni biaya yang timbul ketika investor memutuskan menggunakan leverage dan “menginapkan” aset yang ia miliki selama lebih dari satu hari di perusahaan pialang.

Overnight fee muncul lantaran aktivitas transaksi leverage tetap berjalan meski jam perdagangan underlying asset-nya sudah usai. Sehingga, ada kemungkinan investor leverage yang memasang posisi lebih dari sehari tidak bisa mengelak dari tambahan biaya satu ini. 

Oleh karenanya, Sobat Cuan yang tertarik membenamkan dana di aktivitas leverage perlu memahami perhitungan overnight fee tersebut.

Sebagai contoh, seorang investor membeli satu lembar saham Alibaba (BABA) di aplikasi Pluang sebesar US$100 dengan harga penutupan US$100 di akhir perdagangan Senin. 

Ketika investor masih menggenggam saham tersebut setelah penutupan bursa dan memutuskan menahannya selama dua malam ke depan, atau hari Rabu, maka ia otomatis akan dibebani overnight fee setiap malamnya. Saat ini, Pluang mematok tarif overnight fee 0,03% per malamnya.

Kemudian, anggap saja harga saham Alibaba ditutup di US$120 di Selasa, maka sang investor bakal membayar overnight fee malam pertama sebesar US$0,03 alias 0,03% dari harga penutupan saham Alibaba di hari Senin. 

Namun, harga saham Alibaba ternyata turun menjadi US$110 per lembar di hari Rabu. Imbasnya, ia harus membayar overnight fee sebesar US$0,036 di malam kedua.

Aturan Leverage di Indonesia

Pemerintah Indonesia sudah mengakui keabsahan transaksi leverage di dalam negeri, seperti tertuang di Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

Dalam beleid tersebut, Indonesia mengakui kontrak berjangka sebagai suatu bentuk kontrak standar untuk membeli atau menjual Komoditi dengan penyelesaian kemudian sebagaimana ditetapkan di dalam kontrak yang diperdagangkan di Bursa Berjangka.

Adapun Komoditi, menurut UU tersebut, adalah barang, jasa, hak dan kepentingan lainnya, dan setiap derivatif dari komoditi, yang dapat diperdagangkan dan menjadi subjek Kontrak Berjangka, Kontrak Derivatif Syariah, dan/atau Kontrak Derivatif lainnya.

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, yaitu lembaga yang diamanatkan UU tersebut untuk membina, mengatur, mengembangkan, dan mengawasi perdagangan berjangka, kemudian mengakui dua jenis komoditi yang dapat dijadikan underlying asset kontrak berjangka, yakni keuangan dan non-keuangan.

Nah, beberapa contoh produk kontrak berjangka keuangan yang diakui adalah saham, obligasi, suku bunga, dan valuta asing.

Apakah Pluang Menyediakan Leverage?

Pluang menyediakan aktivitas leverage berbasis produk Contract for Differences (CFD) saham Amerika Serikat (AS) dengan daya ungkit exposure mencapai dua kali lipat. Namun, Sobat Cuan baru bisa memanfaatkan kegiatan ini jika memiliki nilai investasi bersih minimal sebesar Rp100 juta dan punya saldo yang cukup untuk memasang posisi leverage.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?