pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 7 menit

View
1050

CryptoPhunk, Jiplakan CryptoPunk yang Jadi Simbol Gerakan NFT

Selain proyek-proyek NFT hits seperti CryptoPunks dan Bored Ape, terdapat pula proyek NFT yang terbilang cukup idealis dan merupakan simbol perjuangan di kancah Web3 bernama CryptoPhunks. Yuk, mengenal CryptoPhunks lebih jauh di artikel berikut!

Apa Itu CryptoPhunks?

CryptoPhunks adalah versi punk dari CryptoPunk. Masing-masing karakter CryptoPhunk mirip seperti CryptoPunk, bahkan sama-sama berjumlah 10.000 gambar dan punya ciri khas tersendiri. Namun bedanya, wajah masing-masing avatar tersebut menoleh ke kiri, bukan ke kanan seperti CryptoPunk.

Sehingga, jika disimpulkan, CryptoPhunks bisa disebut sebagai tiruan dari CryptoPunk. Namun, kehadiran CryptoPunk bukanlah sekadar menjadi barang "bajakan" semata. Ia merepresentasikan gerakan baru di kancah Web3.

Mengapa Proyek NFT CrytoPhunk Menjadi Sorotan?

Saat ini, jagat Web3 dan NFT mengimplementasikan sistem hukum hak cipta yang sama dengan yang diterapkan di Web2. Dalam artian, pemilik NFT tidak bisa memanfaatkan karya seninya untuk kepentingan komersial karena dianggap bukan pemilik sah atas karya seni tersebut.

Padahal, mereka yang berkecimpung di dunia Web3 seharusnya benar-benar menjunjung tinggi semangat desentralisasi dan hak kepemilikan pribadi.

Berkaca pada peristiwa tersebut, CryptoPhunk percaya bahwa mereka harus bersuara dan mengambil tindakan terkait semangat anti-sensor, menegakkan semangat kebebasan berpendapat, dan menjunjung spirit desentralisasi di Web3. Dengan kata lain, CryptoPhunk hadir untuk menantang implementasi sistem Web2 di kancah Web3.

Lebih jauh lagi, CryptoPhunk juga bertujuan untuk "mendobrak batas-batas" yang ada demi menetapkan fondasi bagi jagat NFT yang ideal di masa depan, di mana NFT bisa menjadi daya ungkit bagi dua karakter utama teknologi blockchain: kepemilikan dan otentikasi.

Uniknya, pihak CryptoPhunks menyuarakan perjuangannya melalui selembar surat terbuka kepada pengembang CryptoPunk, Larva Labs. Sobat Cuan bisa membaca surat terbuka tersebut, yang ternyata dijual sebagai NFT senilai 5 ETH, di sini!

Kemudian, banyak tokoh tersohor, baik di dunia nyata maupun dunia kripto, yang tertarik memiliki CryptoPhunk. Biasanya, mereka membeli CryptoPhunks karena ingin menemai "saudara kembarnya" yang berupa CryptoPunk.

  1. Calvin Chu (Impossible Finance, Ex-Binance)
  2. VincentVanDough
  3. Starry Night collection
  4. 4156 (former Punk advocate)
  5. Crypto888crypto
  6. Tyga (T-Raww)
  7. Method Man (Wu Tang Clan)

Mengenal Lebih Jauh Gerakan CryptoPhunks

CryptoPhunks menyebut poin-poin berikut sebagai inti dari perjuangan mereka di dunia NFT.

  1. Web3 dan blockchain.
  2. Desentralisasi.
  3. Kebebasan pendapat dan penghilangan sensor.
  4. Masyarakat.
  5. Membinasakan platform NFT OpenSea karena dianggap menerapkan praktik sentralisasi dan melakukan etika bisnis yang dipertanyakan.

Meski awalnya berbentuk gerakan untuk "memurnikan" semangat Web3, CryptoPhunks kini justru menjelma menjadi proyek NFT yang sukses gara-gara semangat yang diusungnya. Beberapa konsep dasar yang menjadi kunci kesuksesan CryptoPhunks antara lain:

1. Gerakan Desentralisasi dan Web3

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, CryptoPhunks merepresentasikan perjuangan untuk menjunjung semangat desentralisasi dan Web3. Sehingga, jika kamu memasang karakter Phunk sebagai foto profil di media sosialmu, maka kamu akan dianggap sebagai mereka yang membela kebebasan Web3 dan menjunjung nilai-nilai kripto. 

2. Punya Nilai Sejarah

Setelah diluncurkan pada Juni 2021, CryptoPhunks pernah didepak dari platform NFT OpenSea pada tiga kesempatan berbeda. Bahkan, CryptoPhunks juga menjadi proyek NFT pertama yang memperoleh peringatan resmi terkait undang-undang hak cipta digital dari Larva Labs.

Namun, upaya sensor terhadap karya-karya CryptoPhunks tersebut membuat publik semakin sadar dan paham mengenai aksi yang ingin dilakukan Larva Labs. Nah, peristiwa "bersejarah" di kancah NFT inilah yang malah membuat kolektor ingin mengoleksi benda-benda besutan CryptoPhunks tersebut.

Tapi, aksi kolektor tersebut sebenarnya sah-sah saja, Sobat Cuan.

Biasanya, sebuah benda memang langsung terkenal jika menyimpan signifikansi sejarahnya tersendiri. Sehingga, bagi Cryptophunks, nilai karya-karyanya bukan terletak dari anggapan masyarakat terkait apakah bendanya benar-benar berharga atau tidak. Nilai CryptoPhunks justru terletak di kemampuannya dalam menciptakan kontroversi baru dan, tentu saja, menyebarkan semangat Phunks di jagat NFT.

3. Hak Cipta Karya dan Lisensinya

Di sebagian belahan dunia, undang-undang hak cipta disusun sebelum kelahiran internet, apalagi blockchain dan Web3. Makanya, tak heran jika beberapa proyek NFT masih menganut aturan hak cipta yang "kolot" tersebut meski proyeknya berada di jagat Web3, yang seharusnya sarat dengan semangat desentralisasi.

Ambil contoh kasus CryptoPunks.

Sebenarnya, ketika Sobat Cuan memiliki CryptoPunk, maka kamu hanya memiliki tokennya saja. Tetapi, kamu tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan komersial atau melisensikan kembali karya seni milik CryptoPunk. Pasalnya, hanya Larva Labs saja yang berhak menggunakan hak cipta dan mendulang cuan dari CryptoPunk meski karya seninya sudah jatuh ke tanganmu.

Kondisi berbeda akan terasa ketika kamu memiliki karya seni Bored Ape. Jika kamu memiliki satu karya seni Bored Ape, maka kamu bebas menggunakannya untuk kegiatan komersial apapun. Kamu bisa membuat Bored Ape milikmu jadi bintang iklan, model merchandise, dan sebagainya tanpa harus terbentur urusan hak cipta.

Nah, ternyata, Larva Labs tidak memberikan panduan yang jelas kepada kolektornya terkait hak cipta, lisensi, dan pemanfaatan komersial atas karya-karya seni digital tersebut. Alhasil, banyak pengguna yang menyampaikan kekesalannya ke Larva Labs lantaran lalainya sang pengembang dalam mengomunikasikan aspek tersebut.

Bahkan, ada kalanya Larva Labs cuek dengan permintaan kolektornya yang ingin meminta kejelasan terkait penggunaan hak cipta CryptoPunks.

Salah satu kasusnya terjadi pada Punk4156 yang membeli CryptoPunk senilai 650 ETH atau US$1,25 juta di Februari 2021, yang kala itu juga menjadi nilai penjualan CryptoPunk tertinggi sepanjang sejarah.

Setelah itu, Punk4156 ingin berkomunikasi langsung mengenai perkara hak cipta CryptoPunk mahalnya dengan Larva Labs. Sayangnya, Larva Labs tidak mengacuhkannya. Malahan, Larva Labs justru me-unfollow Punk4156 di media sosial Twitter. Akibatnya, Punk4156 jadi kesal dengan CryptoPunks, menjual karya seni CryptoPunk-nya, dan kemudian membeli CryptoPhunk.

Namun, kenapa pilihannya jatuh ke CryptoPhunks?

CryptoPhunks memberlakukan sistem hak cipta tersendiri bernama CC0, di mana setiap kolektornya punya hak penuh terhadap token plus hak cipta atas karya seni yang dimilikinya. CryptoPhunks percaya bahwa seluruh seni haruslah bersifat terbuka bagi publik untuk digunakan, dimodifikasi, atau ditransformasukan.

Jika Sobat Cuan tertarik membedah CC0, maka kamu bisa menuju laman berikut.

Disebut Jiplakan, Apakah CryptoPhunks Bakal Bernilai di Masa Depan?

Banyak pihak yang sinis dengan CryptoPhunks. Alih-alih menganggapnya sebagai gerakan, mereka mengatakan bahwa CryptoPhunks hanyalah karya seni yang malu-maluin karena bermodal copy-paste semata.

Di sisi lain, banyak pula pihak yang mendukung CryptoPhunks karena kesal dengan kebijakan hak cipta CryptoPunks. Apalagi, mereka juga tertarik dengan konsep seni dan parodi yang ditawarkan CryptoPhunks.

Hanya saja, perdebatan ini bisa dibilang cuma debat kusir semata dan tak akan ada habisnya. Jika Sobat Cuan menghindari perdebatan itu dan memilih mengobservasi jagat NFT secara detail, maka kamu bisa menemukan bahwa investor kawakan dan manajemen investasi NFT ternyata punya kelolaan aset dalam bentuk NFT CryptoPhunks dalam jumlah tak sedikit.

Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah memang CryptoPhunks benar-benar bernilai di masa depan meski hanya dianggap "jiplakan"?

Untuk mengetahui jawabannya, Sobat Cuan bisa menyimak teori-teori ihwal valuasi masa depan CryptoPhunks berikut!

1. Teori Alt-Punk

Di artikel mengenai CryptoPunk, Sobat Cuan telah membaca bahwa CryptoPunk bisa disebut sebagai "Bitcoin-nya" atau versi pionir dari NFT.

Tapi, layaknya terjadi di pasar aset kripto, dominasi BTC kemudian tergerus seiring maraknya koin-koin baru alternatif BTC yang kemudian disebut altcoin. Meski memang, pergerakan nilai altcoin tersebut sedikit banyak terikat dengan maju-mundurnya nilai BTC.

Nah, banyak pihak mengatakan bahwa hal tersebut juga akan terjadi di jagat NFT.

Kancah NFT adalah hal yang terbilang anyar, tidak seperti aset kripto. Sebagai bahan perbandingan, platform NFT paling hits OpenSea kini punya 650.000 pengguna sementara platform exchange kripto terbesar Coinbase memiliki 73 juta pengguna. Sehingga, ada kemungkinan bahwa semesta NFT nantinya akan berkembang dan terus dijejali proyek-proyek NFT baru.

Kemudian, meski jagat NFT terus menggembung, namun suplai CryptoPunk hanya tetap akan berjumlah 10.000 unit. Imbasnya, harga CryptoPunk pun bakal ikut menanjak. Sehingga, mereka yang baru menginjak dunia NFT dan punya ukuran kantong terbatas tentu akan melirik karya seni alternatif dari CryptoPunk, alias alt-punk.

Sebagai gambaran, saat ini harga dasar CryptoPunk bernilai 75 ETH sementara CryptoPhunk hanya senilai 2 ETH. Dengan kata lain, saat ini CryptoPhunk dijual dengan nilai hanya 3% dari CryptoPunk.

Namun, jika kamu percaya bahwa nilai karya seni CryptoPhunk, yang menjadi pemimpin gerakan alt-punk, bernilai setidaknya 10% dari CryptoPunk, maka kamu bisa berharap return 300% di masa depan. Cukup menggiurkan bukan, Sobat Cuan?

Tak ketinggalan, kamu juga bisa membaca artikel berikut untuk melihat sejarah alt-punk secara rinci.

2. Komunitas CryptoPhunk Punya Kekerabatan Erat

Komunitas adalah segalanya di jagat NFT. Bahkan, seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, NFT adalah simbol yang mempersatukan satu individu dengan individu lain yang punya semangat dan kegemaran yang sama.

Namun, komunitas CryptoPhunks terbilang cukup berbeda. Komunitas CryptoPhunks bukanlah sekadar kolektor NFT semata, namun mereka punya idealisme sama untuk menjunjung semangat desentralisasi di Web3. 

Selain itu, meski pun dicibir oleh banyak pihak, komunitas CryptoPhunk nyatanya masih tetap tahan banting dan kompak.

3. Meningkatnya Popularitas Meme dan "Memevesting"

Dalam dua tahun terakhir, dunia investasi dikejutkan dengan sebuah fenomena bernama memevesting alias meme investing. Tengok saja bagaimana investor berbondong-bondong mengoleksi koin meme seperti Dogecoin (DOGE) dan Shiba Inu (SHIB). Di samping itu, terdapat pula kasus nilai saham Gamestop yang melonjak drastis di awal 2021 setelah jadi buah bibir di forum Reddit.

Memang, fenomena memevesting susah dicerna otak orang awam karena tak dilandasi analisis fundamental yang mumpuni. Tapi, di saat yang sama, tidak ada yang bisa membendung dampak dari fenomena yang dimaksud.

Lagipula, inti dari memevesting bukanlah mengenai investasi semata. Namun, pusat dari fenomena memevesting adalah tentang komunitas. Pasalnya, kombinasi antara meme dan investasi adalah cara yang kuat untuk menyatukan kekuatan beberapa individu yang tergabung dalam satu komunitas tertentu.

Meme adalah sesuatu yang menyenangkan, viral, dan bisa dinikmati semua kalangan. Ketika komunitas meme menjadi besar dan memiliki pengaruh, maka tak heran jika komunitas tersebut mulai membangun produk di dalam ekosistemnya sendiri berdasarkan hal-hal yang mereka gemari bersama.

Ambil contoh Shiba Inu. Koin meme yang awalnya cuma jadi bahan lelucon tersebut kini sudah bisa menciptakan platform exchange desentralisasi tersendiri seperti Uniswap, membangun inkubator bisnisnya sendiri, mengembangkan ekosistem tokennya sendiri, meluncurkan proyek NFT-nya sendiri, hingga terdaftar di platform investasi beken seperti Binance dan Robinhood.

Kisah CryptoPhunk sendiri juga punya akar yang sama dengan meme, yakni buah cipta dari budaya masyarakat dan "parodi" atas apa yang terjadi di dunia ini. Maka, bukan tidak mungkin komunitasnya di masa depan bisa mengembangkan CryptoPhunks menjadi sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Salah satu proyek yang sudah dikembangkan komunitas CryptoPhunks adalah platform NFT mandiri berbasis komunitas pertama di dunia dengan nama yang agak menyindir, yakni Not Larva Labs. Komunitas CryptoPhunks melakukan hal tersebut lantaran OpenSea melarang penjualan karya seni CryptoPhunks.

Kehadiran Not Larva Labs juga menjadi indikasi ukuran kekuatan komunitas CryptoPhunk.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?