pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 7 menit

View
1680

Mengapa NFT Bernilai Tinggi?

Sobat Cuan sering kali sering mendengar bahwa satu karya seni Non-Fungible Token (NFT) ternyata bisa berharga ratusan juta rupiah. Lantas, kenapa harga NFT bisa sangat mahal sekali? Padahal NFT sebenarnya "cuma" karya seni berbentuk .jpeg semata? Nah, ketahui jawabannya di artikel berikut!

Alasan Di Balik Mahalnya Harga NFT

Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, NFT memiliki kegunaan yang beragam. Apalagi, terdapat berbagai jenis NFT yang tersebar di dunia maya. Nah, karena masing-masing NFT punya nilai guna yang berbeda, maka harganya pun berbeda.

Konsep ini sejatinya mirip di aset kripto. Nilai Bitcoin dan Ethereum berbeda satu sama lain lantaran masing-masing memiliki nilai guna yang berbeda satu sama lain. Nah, berkaca pada hal tersebut, maka kadar kemahalan NFT sebenarnya terletak dari nilai intrinsiknya.

Oleh karenanya, tak heran jika harga karya seni seperti Bored Ape, Digital Real Estate, dan Fidenza masing-masing berbeda satu sama lain. Sebab, masing-masing di antaranya punya "nuansa" seni yang berbeda pula.

Kendati demikian, terdapat pula beberapa alasan lain yang menentukan mahal-murahnya harga NFT. Berikut penjelasannya!

1. Ukuran Komunitas dan Kegunaan NFT

Harga sebuah NFT bisa saja ditentukan oleh kemampuannya untuk mengantar pemiliknya ke satu komunitas yang punya skala besar. Mereka yang bergabung ke dalam komunitas tersebut pun tentu akan mendapatkan manfaat-manfaat eksklusif, yang nilainya pun ikut disertakan ke dalam kalkulasi harga NFT.

Ambil contoh NFT Bored Ape. Secara kasat mata, Bored Ape sepertinya hanya menjual foto-foto profil sekelompok kera yang terlihat sedang bosan dengan hidupnya. Namun, jika Sobat Cuan teliti lebih jauh, NFT Bored Ape sebenarnya adalah kartu keanggotan klub NFT paling hits sejagat bernama Bored Ape Yacht Club.

Adapun manfaat yang bisa Sobat Cuan terima jika bergabung dengan Bored Ape Yacht Club antara lain:

  1. Airdrop gratis bernilai US$10.000.
  2. Mendapatkan aset kripto gratis untuk ikut serta di tata kelola jaringannya.
  3. Akses gratis dan luas untuk bertemu sosok-sosok tersohor.
  4. Bisa menjalin koneksi langsung dengan individu-individu yang memiliki kekayaan bersih bernilai jumbo.
  5. Mendapatkan akses merchandise yang bisa bernilai tinggi jika dijual kembali.

Setiap komunitas yang terhubung dengan NFT tentu memberikan manfaat yang berbeda-beda bagi anggota. Sehingga, harga NFT Bored Ape mungkin akan jauh berbeda dibandingkan NFT komunitas lain yang menawarkan manfaat lebih kecil.

Selain itu, potensi manfaat NFT di masa depan juga terbilang tak terbatas. Pasti Sobat Cuan tak sabar untuk melihat perkembangan NFT berbasis komunitas ini ke depan, bukan?

2. Kemampuan NFT Untuk Mendulang Pendapatan

Seperti yang disinggung di artikel sebelumnya, pemilik NFT bisa mendapatkan manfaat dalam bentuk "bagi hasil" pendapatan atas sebuah karya atau barang tertentu. Nah, seberapa tinggi kemampuan karya tersebut dalam mendulang cuan pun ikut menentukan harga NFT yang bakal dilempar ke publik, lho!

Misalnya, jika Sobat Cuan memiliki NFT milik Lil Pump, maka kamu berkesempatan mendapatkan akumulasi royalti dari hasil streaming, lisensi, dan lainnya. Namun, kamu harus membeli NFT dengan harga lebih mahal jika NFT tersebut juga memungkinkanmu menerima pendapatan dari sumber lain selain streaming dan lisensi.

3. Aset Metaverse dan Kegunaannya

Metaverse adalah versi daring dari segala kegiatan yang umum dilakukan masyarakat di dunia. Berkaca dari premis tersebut, maka penghuni metaverse tentu bisa memiliki aset layaknya kehidupan di dunia nyata.

Nah, aset-aset digital ini tentu dibeli menggunakan aset kripto, sehingga mereka pun punya nilai pasarnya masing-masing. Bahkan, aset-aset tersebut juga memberikan nilai kebermanfaatan di jagat metaverse. Beberapa contoh aset tersebut antara lain:

  1. Benda-benda (item) yang dapat meningkatkan kemampuan karakter di metaverse.
  2. Mobil, kapal pesiar, dan alat transportasi pribadi yang lalu lalang di kancah metaverse.
  3. Hewan virtual yang bisa dikembangbiakkan untuk melahirkan hewan baru yang punya tipe fisik dan karakteristik yang bisa dimodifikasi sesuai keinginan "majikannya". 

4. NFT Merupakan Representasi dari Real Estat Digital

Kadang, beberapa NFT hadir dalam bentuk, atau terikat, dengan properti yang tersedia di metaverse. Sehingga, nilai NFT yang terkait dengan aset properti akan berharga mahal jika properti metaverse tersebut juga ditaksir bernilai tinggi.

Hanya saja, apakah lahan virtual benar-benar punya nilai layaknya tanah di dunia nyata?

Saat ini, lahan virtual di metaverse terbilang lapang. Namun, banyak pihak percaya bahwa apresiasi harga lahan di metaverse akan meningkat di masa depan seiring pesatnya pertumbuhan jagat investasi kripto.

Nah, dua faktor tersebut bikin orang memborong lahan di metaverse, karena mereka merasa bahwa membeli tanah virtual saat ini ibarat membeli beberapa bidang tanah di Manhattan, New York pada 1750-an silam. Dengan kata lain, apresiasi harga aset tersebut baru akan terasa signifikan di tahun-tahun mendatang.

Terlebih, dunia metaverse seperti Decentraland, The Sandbox, atau Cryptovoxels memiliki suplai lahan yang terbatas. Sehingga, jika permintaan lahan di dunia metaverse meningkat, maka ketatnya suplai tersebut akan membawa harga lahan metaverse membumbung tinggi di masa depan.

Selain karena apresiasi harga tanah yang diramal bakal meroket, komunitas kripto juga memborong lahan metaverse atas alasan monetisasi. Ya, ketika mereka sudah memiliki kavling di metaverse, mereka bisa memanfaatkannya untuk kegiatan komersial, misalnya membangun dan menyewakan kantor virtual atau toko virtual ke penghuni metaverse lainnya.

5. Harga NFT Ditentukan oleh Kemampuannya untuk Membangun Citra Publik Pemiliknya

Jenis NFT seperti foto profil (Profile Pictures/PFP) dan aset metaverse adalah sarana bagi pemiliknya untuk menunjukkan identitas dirinya masing-masing. Selain itu, NFT jenis tersebut juga memungkinkan pemiliknya untuk membangun image publik.

Sebagai contohnya, anggap saja Sobat Cuan memasang foto profil akun Instagram-mu dengan bergaya di atas puncak gunung. Secara tidak langsung, melalui foto tersebut, tentu kamu ingin orang lain menganggap bahwa kamu adalah sosok yang menyukai alam dan petualangan.

Nah, NFT jenis PFPs dan aset di metavese juga punya kemampuan serupa.

Kadang, beberapa pemilik NFT ingin menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang pintar, sukses, keren, dan berselera tinggi. Makanya, mereka rela merogoh kocek hingga jutaan Dolar AS hanya demi mendapatkan NFT PFPs yang sesuai dengan citra yang ingin mereka bangun.

Kondisi ini serupa dengan membeli jam Rolex seharga US$50.000. Para pembeli arloji tersebut tentu tidak membeli Rolex karena manfaatnya sebagai penunjuk waktu. Malahan, mereka membeli arloji tersebut sebagai sinyal bahwa mereka adalah orang-orang sukses dan mampu membeli benda-benda mahal.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat pun kini mulai menganggap penting citranya di ranah digital. Memang, mereka tidak bisa memamerkan jam Rolex mewahnya ke orang lain di kehidupan dunia maya. Namun, ketika mereka memasang foto profil seperti Cryptopunk atau Bored Ape, mereka ingin memberitahu orang lain bahwa mereka adalah golongan individu paling awal yang menggunakan NFT di dunia ini.

6. Harga NFT Ditentukan oleh Kelangkaannya

Saat ini, orang-orang tajir sejagat sedang kepincut untuk berkecimpung di jagat kripto. Contoh gampangnya adalah punggawa Tesla sekaligus miliarder Elon Musk yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada dunia kripto.

Layaknya orang kaya pada umumnya, mereka pun tentu akan mengoleksi benda-benda eksklusif dan langka yang tersedia di jagat maya. Misalnya, jika mereka doyan berburu lukisan-lukisan mahal di dunia nyata, maka tentu mereka juga akan melakukan hal tersebut di dunia maya, bukan?

Nah, di jagat kripto, NFT karya seni digital, PFPs, dan aset metaverse kerap dikumpulkan oleh para kolektor lantaran benda-benda tersebut bersifat langka dan punya relevansi secara sejarah. Tak heran jika kemudian kelompok tajir tersebut juga rela menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk mengantongi benda-benda eksklusif tersebut.

Namun pertanyaannya, apakah permintaan akan barang-barang langka tersebut benar-benar bakal meningkat di masa depan?

Memang, terdapat beberapa pihak yang sangsi mengenai aspek kelangkaan dari benda-benda koleksi digital. Mereka berargumen bahwa benda-benda tersebut tidak bisa dirasakan secara fisik dan bisa direproduksi dengan mudah karena sifatnya yang digital.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa Bitcoin (BTC) juga tak punya bentuk fisik dan nilainya terus bertumbuh sejak pertama kali diluncurkan pada 2009 silam. Hal ini membuktikan bahwa konsep "nilai" atas sebuah benda kini sudah bergeser ke kancah digital.

Apakah NFT Bisa Disalin?

Potensi harga NFT memang menggiurkan ya, Sobat Cuan. Namun, khusus bagi mereka yang tak mampu membeli NFT, apakah mereka secara otomatis bisa mendapatkan NFT (misalnya NFT PFPs) hanya dengan mengambil screenshot atas karya seni itu di ponsel mereka?

Upaya tersebut sejatinya patut diacungi jempol. Tapi, hal itu tak serta merta bikin mereka menjadi pemilik sesungguhnya dari NFT yang dimaksud.

Konsepnya mirip seperti contoh berikut. Anggap saja kamu googling lukisan Mona Lisa di ponselmu dan mengunduhnya. Sementara itu, di waktu yang sama, kamu ternyata juga memiliki teman yang bahkan rela terbang jauh-jauh ke Paris, Perancis hanya untuk mengambil foto Mona Lisa secara langsung.

Setelah melakukan hal tersebut, apakah kamu bisa dibilang sebagai pemilik sah lukisan Mona Lisa? Atau malah temanmu yang pergi ke Paris yang justru dinobatkan sebagai pemilik sah Mona Lisa? Jawabannya, sudah pasti bukan dua-duanya.

Sehingga, kalau pun kamu menjual hasil tangkapan layar atau foto Mona Lisa asli dari Paris ke orang lain, maka harganya pun paling bernilai recehan.

Sekadar informasi, nilai NFT terletak dari aspek kepemilikan NFT orisinilnya. Jadi, kamu boleh saja mengambil tangkapan layar Cryptopunk, tapi hanya pemilik Cryptopunk yang asli sajalah yang mampu menjualnya dengan harga hingga jutaan Dolar AS.

Masih menyoal tentang karya seni, ternyata kehadiran NFT berhasil memecahkan dua masalah "kronis" menyangkut benda-benda koleksi. Masalah tersebut adalah:

  1. Orang lain bisa membuktikan kepemilikan dan keaslian dari benda-benda koleksi. Selama ini, banyak kolektor tertipu dengan benda-benda koleksi bodong. Nah, hal tersebut tak berlaku jika karya seni ditransformasikan ke dalam bentuk NFT.
  2. Karena data terkait kepemilikan dan keaslian benda koleksi berada di blockchain publik, maka semua orang bisa mengakses data-data tersebut.

Kenapa NFT Disebut Sebagai 'Hal Fenomenal di Masa Depan'?

Memang, tak semua orang awam memahami logika di balik NFT. Mereka pasti berpikir bahwa sebenarnya benda-benda digital tersebut tak berharga lantaran hanya berbentuk digital. Mungkin, mereka juga menganggap bahwa mengoleksi NFT adalah hal percuma lantaran barangnya saja tidak bisa disentuh.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa keraguan serupa juga pernah menyerang Bitcoin pada 2011. Saat itu, banyak pihak meragukan kemampuan Bitcoin sebagai aset digital. Tapi, kini kamu bisa melihat sendiri bahwa anak-anak nongkrong di kafe bahkan menginginkan Bitcoin sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ini menjadi alasan mengapa banyak pihak menyamakan aksi borong NFT saat ini sebagai aksi beli Bitcoin di 2011 silam. NFT adalah sebuah benda yang tengah berkembang dengan potensi-potensi baru di masa depan yang belum bisa dirasakan umat manusia saat ini. Tentu saja, potensi-potensi tersebut diharapkan akan menghasilkan cuan bagi pemiliknya.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?