pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 9 menit

View
0

Apa Saja Kegunaan NFT?

Non-Fungible Token (NFT) disebut sebagai hal yang revolusioner dalam hal kepemilikan aset. Namun, apa saja kegunaan NFT? Yuk, simak bersama di artikel berikut!

Mengenal Pemanfaatan NFT

Kancah NFT memang baru berusia seumur jagung, sehingga tak ada seorang pun yang memprediksi potensi penuh dari aset digital satu ini di masa depan.

Kendati demikian, NFT saat ini ternyata sudah dimanfaatkan untuk beberapa hal, yang mungkin sejatinya masih belum bisa dicerna pemikiran masyarakat awam pada umumnya.

Berikut adalah kilasan mengenai potensi masa depan NFT plus pemanfaatan NFT oleh masyarakat saat ini

1. Aset Gaming dan Metaverse

Saat ini, banyak pihak yang tak henti-hentinya memuja metaverse.

Beberapa sosok-sosok cemerlang di dunia, seperti punggawa Facebook Mark Zuckerberg, menganggap bahwa metaverse adalah masa depan dunia. Selain itu, Greyscale juga mendapuk metaverse sebagai potensi bisnis bernilai US$1 triliun setelah penggunanya meningkat 10 kali lipat antara Januari hingga Juli 2021.

Sobat Cuan memang tak perlu mempercayai pendapat tersebut sepenuhnya. Tapi, kamu juga tak bisa menafikkan fakta bahwa game digital seperti Axie Infinity ternyata dimainkan oleh 2 juta pengguna di seluruh dunia dan kini punya valuasi sebesar US$3 miliar. Tentu saja, jutaan pemain tersebut telah membeli aset digital di jagat Axie Infinity dalam bentuk NFT. Potensi ekonomi yang cukup besar, bukan?

Nah, di dalam kancah metaverse, NFT dan teknologi blockchain adalah dua motor utamanya. Sebab, di dalam metaverse, nilai tukar resminya berbentuk mata uang kripto sementara asetnya hadir dalam bentuk NFT. Tapi, mengapa dua hal tersebut dimanfaatkan di metaverse?

Seperti yang Sobat Cuan ketahui, semua yang terjadi di jagat kripto memiliki semangat desentralisasi. Sehingga, alat tukar dan asetnya pun tidak boleh dikendalikan atau diatur oleh satu entitas tertentu.

Dari segi alat tukar, misalnya, sirkulasi uang fiat tentu diatur dan dikendalikan oleh bank sentral. Dengan sifat yang demikian, maka uang fiat tak cocok digunakan sebagai alat tukar resmi di dunia metaverse. Sehingga, metaverse tentu akan memilih menggunakan mata uang kripto sebagai alat tukar resminya.

Hal yang sama juga berlaku untuk kepemilikan aset di metaverse. Sebab, bentuk desentralisasi dari aset di jagat maya, tentu saja, adalah NFT.

Selain itu, kehadiran NFT di game digital pun sejatinya membantu pemain untuk memiliki item-item yang tak bisa mereka miliki sebelumnya.

Kelebihan tersebut, ternyata, merupakan solusi atas salah satu isu paling "kronis" dari permainan game digital Web2. Yakni, ketidakmampuan pemainnya untuk benar-benar memiliki item-item game tersebut meski mereka sudah menghabiskan sekitar US$40 miliar per tahun untuk berbelanja aset game virtual.

Hal ini terjadi lantaran perusahaan pengembang permainan virtual masih menguasai kepemilikan atas benda-benda tersebut. Padahal, pemainnya sudah menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk membeli item-item game yang dimaksud.

Kondisi tersebut tentu akan merugikan pemain jika game Web2 tiba-tiba berhenti beroperasi secara mendadak. Sebagai contoh, jika Roblox tiba-tiba berhenti beroperasi esok hari, maka seluruh aset game Roblox yang dimiliki sang gamer akan berpotensi ikut hilang tanpa jejak di saat yang sama.

Nah, kondisi mengenaskan itu tak akan terjadi jika para pemain game tersebut juga mampu memiliki item game virtual yang sudah dibeli untuk dirinya sendiri. Caranya, pengembang game perlu memanfaatkan NFT sebagai representasi kepemilikan benda-benda yang dimaksud.

Di samping itu, kehadiran NFT juga mengubah paradigma umum mengenai game digital.

Setelah kemunculan NFT, banyak pengembang menciptakan game berdasarkan aset-aset yang telah dimiliki oleh para pemainnya. Misalnya, anggap saja Sobat Cuan kini mampu membeli lahan virtual, memasang avatar, skins, artefak, dan lain-lain yang sebelumnya tidak bisa dimiliki di game tradisional.

Nah, potensi tersebut bisa mengubah kekayaanmu di game yang selama ini kamu anggap fana menjadi kekayaan "nyata" yang benar-benar bisa dimanfaatkan di kegiatan ekonomi normal.

Lebih lanjut, salah satu kesempatan paling seru dari Web3 adalah integrasi antara protokol dan token di dalamnya.

Sobat Cuan mungkin sudah melihat hal ini di jagat decentralized finance (DeFi), di mana masing-masing protokolnya dibangun di atas protokol DeFi yang sudah ada. Hal tersebut ternyata terbukti membawa inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan jaringan blockchain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Hal serupa ternyata digadang juga bisa terjadi di industri metaverse dan gaming. Siapa tahu, nantinya akan ada inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan NFT di sektor tersebut. Saat ini, Loot dan ekosistem yang berada di sekitarnya sudah menjadi pionir atas hal yang dimaksud.

2. Seni

Salah satu masalah terbesar dari industri seni adalah kehadiran barang bajakan dan bukti kepemilikan yang tidak jelas. Untungnya, masalah tersebut bisa terpecahkan oleh kehadiran NFT dan blockchain. Sebab, NFT memungkinkan karya seni, beserta data historisnya, tersimpan di jaringan blockchain selamanya.

Selain itu, kehadiran NFT juga memungkinkan seniman untuk mendapatkan royalti jika karya seninya dijual kembali oleh seorang kolektor ke kolektor lainnya. Adapun sebelumnya, seniman tidak bisa memungut royalti atas penjualan karya seni fisik ciptaannya yang terjadi di pasar sekunder.

Kemudian, pemanfaatan NFT di kancah seni juga melahirkan satu cabang seni rupa dua dimensi baru bernama seni generatif. Seni generatif merupakan satu bidang seni di mana karya-karyanya dihasilkan dari proses algoritma pemrograman yang sebelumnya sudah diprogram oleh sang artis. Sobat Cuan bisa melihat salah satu contohnya melalui lukisan Fidenza karya Tyler Hobbs di bawah ini.

Proses penciptaan karya seni generatif pun terbilang cukup menarik. Ketika sang kolektor melakukan mints atas satu karya seni digital, maka algoritma pemrograman tersebut akan dioperasikan demi menghasilkan karya tersebut. Hasil akhir karya seni tersebut akan "dibungkus" dalam bentuk NFT dan akan dikirimkan langsung ke sang kolektor.

Uniknya, tidak ada seorang pun yang tahu hasil akhir karya seni dari algoritma tersebut hingga karya seni tersebut benar-benar rampung. Makanya, banyak yang menggemari hasil karya seni generatif karena hasil akhirnya terbilang mengejutkan. Hasil akhir yang tidak bisa ditebak ini juga menjadi daya tarik utama dari karya-karya seni generatif.

Banyak orang beranggapan bahwa karya seni generatif saat ini, khususnya yang diciptakan oleh seniman kawakan, akan menjadi benda-benda bernilai sejarah yang signifikan di masa depan. Ibaratnya, benda-benda ini akan memiliki status yang kurang lebih sama dengan karya lukisan milik Leonardo da Vinci atau Vincent van Gogh di masa depan.

Pelaku pasar utama yang memanfaatkan NFT untuk karya seni terdiri dari Art Blocks, The Blocks of Art, dan GEN.ART

3. Musik

Banyak pihak memprediksi bahwa pemanfaatan NFT untuk seni musik akan berkembang, seperti layaknya industri seni rupa dua dimensi. Pasalnya, baik di kancah seni rupa maupun seni musik, penciptanya selama ini hanya memperoleh royalti yang kecil atas karya yang mereka ciptakan.

Beberapa musisi seperti Shawn Mendes, Grimes, dan Snoop Doggs telah menjejaki NFT sebagai cara bagi mereka untuk memonetisasi musik sekaligus berinteraksi dengan penggemarnya. Sementara itu, band rock Kings of Leon masih belum nyaman merilis album dalam bentuk NFT, namun mereka sangat antusias saat mengetahui bahwa karya seninya dalam bentuk NFT diputar di luar angkasa.

NFT karya musik juga menjadi satu aset kelas baru bagi investasi. Hal ini memungkinkan pencipta karya musik untuk membagi pendapatan royalti lagunya dan memungkinkan masyarakat awam untuk berinvestasi dalam menciptakan lagu atau meluncurkan musisi baru.

Dalam kancah NFT musik, Audius dan Opulous adalah pemimpin pasarnya.

4. Event dan Penjualan Tiket

Seiring perkembangan zaman, penjualan dan percetakan tiket event, baik musik maupun pameran, pun bergeser dari tiket fisik menjadi tiket digital. Bahkan, kini NFT pun dipergunakan untuk mendukung digitalisasi tiket tersebut.

Namun, apa untungnya membeli tiket sebuah acara dalam bentuk NFT? Untuk memahaminya, mari simak ilustrasi berikut.

Bayangkan jika Sobat Cuan ingin datang ke konser band Coldplay. Karena Coldplay adalah grup musik yang cukup kondang, tak heran jika banyak fans yang ingin menonton konser mereka. Hanya saja, para penggemar tersebut mungkin akan berujung membeli tiket palsu atau terjebak penipuan saking ngebetnya menonton penampilan band asal Inggris tersebut.

Nah, masalah itu bisa terpecahkan jika tiket konser yang dimaksud dijual dalam bentuk NFT. Pasalnya, oknum-oknum tak bertanggungjawab akan kesulitan untuk memalsukan tiket-tiket konser tersebut mengingat satu NFT dengan NFT lain bersifat tak identik,.

Kemudian, terdapat manfaat lain yang bisa didapatkan fans jika mereka membeli tiket Coldplay dalam bentuk NFT, yakni:

  1. Mendapatkan tiket dengan desain grafis ala Coldplay berkualitas tinggi dibanding tiket fisik.
  2. Bisa dikoleksi sebagai memorabilia yang, bisa saja, bernilai tinggi di masa depan. Apalagi, bentuk tiket digital tidak akan kusam dimakan waktu lantaran tersimpan di dompet-dompet kripto.
  3. NFT bisa digunakan untuk membeli kudapan atau minuman di dalam event.
  4. Jika Sobat Cuan membeli tiket NFT premium alias VIP, maka kamu bisa mengakses backstage Coldplay atau mendapatkan akses eksklusif ke cendera mata digital yang jumlahnya terbatas.
  5. Tiket NFT membuka peluang bisnis baru. Sama seperti penggunaan NFT di belantika musik, masyarakat tidak hanya sekadar menjadi penonton konser Coldplay. Namun, mereka juga menjadi "pemegang saham" atas konser tersebut. Sehingga, mereka berkemungkinan untuk memperoleh keuntungan konser Coldplay meski dalam persentase kecil.
  6. Tiket dalam bentuk NFT tersebut bisa digunakan oleh masyarakat untuk menentukan lagu apa saja yang harus diputar Coldplay atau menentukan konsep konser yang seharusnya Coldplay mainkan saat perhelatan itu berlangsung. Hal ini menjadi mungkin lantaran tiket dalam bentuk NFT tersebut memungkinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari Decentralised Autonomous Organization (DAO) konser Coldplay.
  7. Berkat kehadiran smart contracts, hasil penjualan tiket NFT konser Coldplay bisa didistribusikan secara merata. Misalnya, 40% dari pendapatan tersebut untuk membayar Coldplay, sementara sisanya digunakan untuk membayar kru panggung, tata panggung, tata cahaya, dan pihak lain yang terlibat dalam konser tersebut.

Terdapat beberapa perusahaan yang mulai menggeluti konsep ini. Salah satunya adalah klub basket Dallas Mavericks yang menerbitkan NFT sebagai hadiah kepada pengunjung pertandingan mereka. Selain itu, terdapat pula Sony dan AMC yang memberikan NFT kepada beberapa pembeli pertama tiket film Spiderman.

5. Komunitas NFT dan Identitas Digital

Lebih lanjut, NFT juga bisa menjadi benda yang mempersatukan satu orang dengan orang lain untuk bergabung ke dalam satu organisasi atau komunitas tertentu. Sehingga, masing-masing individu bisa saling bertemu dengan individu lain yang memiliki kepercayaan, visi, atau kegemaran yang sama.

Nah, NFT bagi kepentingan komunitas sudah dimanfaatkan oleh pengusaha AS, Gary Vaynerchuck. Ia menerbitkan NFT bernama VeeFriends NFT yang bisa digunakan pemiliknya untuk mengakses VeeCon dan bertemu Vaynerchuck secara langsung dan eksklusif.

6. Fesyen

Dewasa ini, masyarakat semakin sering menghabiskan waktu secara daring. Oleh karenanya, jangan heran jika mereka tak hanya membeli barang-barang fisik, namun juga semakin banyak mengoleksi barang-barang digital di masa depan.

Lagipula, akan muncul kecenderungan di mana masyarakat juga akan mengoleksi versi digital dari benda-benda yang mereka sudah miliki dalam bentuk fisik.

Sebagai ilustrasi, bayangkan jika Sobat Cuan membeli sepasang sepatu Air Jordan.

Sepatu tersebut tentu bakal membuatmu berpenampilan lebih kece di dunia nyata. Hanya saja, sepatu mahal tersebut tak bisa membuatmu tampil penuh gaya di kancah metaverse. Solusinya? Tentu saja kamu akan membeli sepasang sepatu Air Jordan yang baru, namun dalam versi digital.

Melihat fenomena tersebut, beberapa jenama fesyen tersohor kini juga menyediakan versi NFT dari produk-produk besutannya, yang penjualannya acapkali dipaketkan dengan versi fisik dari produk-produk fesyen tersebut.

Salah satu contoh jenama yang memanfaatkan NFT adalah rumah adibusana Dolce & Gabbana. Pada September 2021, Dolce & Gabbana menjual satu koleksi busana berisikan sembilan setel pakaian, plus versi NFT dari koleksi tersebut, yang diberi nama "Collezione Genesi" dengan harga US$5,7 juta.

Sama seperti yang terjadi di kancah musik dan event, NFT juga bisa membuka jalan baru bagi perancang busana untuk memonetisasi karyanya dengan lebih baik dan memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi langsung di industri fesyen.

7. Digitalisasi Barang-Barang Fisik Lainnya

Seiring bergesernya aktivitas dunia ke ranah digital, maka bukan tidak mungkin jika kepemilikan aset fisik masyarakat akan terwakili secara daring dalam bentuk NFT. Berikut adalah beberapa contohnya.

a. NFT DeFi

Jika masyarakat memiliki aset fisik yang didigitalisasi dalam bentuk NFT, maka mereka bisa menggunakannya sebagai agunan dalam meminjam aset kripto di platform DeFi.

Agar memudahkan pemahamanmu, bayangkan jika kamu bisa meminjam uang dari Aave dengan mengajukan agunan berupa CryptoPunk. Bagaimana jika kamu terjebak dalam situasi gagal bayar? Nah, berkat teknologi smart contract, CryptoPunk milikmu akan dikirimkan secara otomatis ke platform DeFi yang bertindak sebagai kreditur.

b. NFT untuk Menyimpan Identitas dan Data Pribadi

Banyak pihak beranggapan bahwa Web2 telah gagal dalam mengelola data pribadi penggunanya. Sebagai buktinya, kamu tentu sering mendengar kasus di mana seorang atau beberapa oknum tak dikenal sukses membobol keamanan database web2 dan membocorkan data-data pribadi penggunanya, seperti informasi pribadi, identitas, dan kata sandi, ke internet.

Bahkan, faktanya, jumlah orang yang datanya belum "dicolong" akan melebihi jumlah orang yang sudah pernah menjadi korban pembocoran data di masa depan. Kondisi ini tentu akan menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi oknum-oknum yang punya niatan jahat.

Untungnya, hal itu diharapkan tak akan terjadi di jaringan Web3.

Di jaringan tersebut, pengguna memiliki kontrol penuh atas data-datanya masing-masing yang tersimpan di dunia maya. Dengan kata lain, Web3 tak memiliki database tersentralisasi, sehingga memangkas kemungkinan beberapa pihak untuk membajak atau menjual data-data pribadi penggunanya.

Selain itu, data-data yang tersimpan di Web3 bakal memiliki sifat interoperabilitas di masa depan. Artinya, Sobat Cuan bisa menyimpan sebagian data pribadimu ke dalam NFT. Selain itu, kamu juga bisa membatasi beberapa situs tertentu untuk melihat data pribadimu secara keseluruhan.

Bahkan, ada kemungkinan history di akun mesin pencarian dan preferensimu di beberapa aplikasi juga bakal memiliki sifat interoperabilitas.

Sebagai contoh, bayangkan kamu menggunakan dua platform streaming, Netflix dan Disney+. Kemudian, history tontonan beserta rekomendasi filmmu di Netflix bisa kamu pindahkan seluruhnya ke akun Disney+ milikmu jika kamu login menggunakan data yang sama. Keren banget kan, Sobat Cuan?

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?