keuangan
Baru Nabung? Yuk, Ramal Tabunganmu di Masa Depan dengan Kalkulator Ini!

Last Updated: 18 Agustus 2026
Penulis: Dewi A Zuhriyah (Content Writer, Pluang) — profil penulis: [tautan Author Profile Page, CMS]
WACC adalah metode menghitung biaya modal rata-rata tertimbang berdasarkan proporsi utang dan ekuitas perusahaan untuk menilai kelayakan investasi. Istilah ini merupakan singkatan dari Weighted Average Cost of Capital.
WACC (Weighted Average Cost of Capital) atau Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang adalah metode penghitungan biaya modal berdasarkan perbandingan antara utang (debt) dan ekuitas (equity) suatu perusahaan. Rumus ini digunakan untuk mengevaluasi kelayakan investasi berdasarkan struktur modal perusahaan, khususnya komponen utang dan modal.
Jika perusahaan hanya menggunakan modal sendiri sebagai sumber pendanaan, biaya modalnya setara dengan biaya ekuitas (cost of equity). Namun, apabila pendanaan berasal dari utang, biaya modalnya setara dengan biaya utang (cost of debt). Dalam praktiknya, sebagian besar perusahaan menggunakan kombinasi keduanya, sehingga WACC menjadi rata-rata tertimbang dari kedua biaya tersebut.
Tujuan WACC. WACC membantu manajemen mengevaluasi apakah pembelian aset baru sebaiknya dibiayai dengan ekuitas atau utang, karena keputusan ini berdampak pada profitabilitas perusahaan dan harga saham secara keseluruhan. WACC juga menjadi indikator untuk menyeimbangkan harga saham, ekspektasi return investor, dan total biaya pembelian aset, serta membantu menilai dampak keputusan merger dan kelayakan perusahaan memperoleh pinjaman atau investasi.
WACC bekerja dengan menjumlahkan biaya dari dua sumber pendanaan utama perusahaan — ekuitas dan utang — masing-masing dibobot sesuai porsinya terhadap total struktur modal. Dua komponen utamanya:
Biaya Ekuitas (Cost of Equity) adalah biaya kesempatan (opportunity cost) bagi pemegang saham atas investasi yang mereka lakukan di suatu perusahaan — kompensasi atas risiko yang mereka tanggung. Biaya ini umumnya dihitung menggunakan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM): Tingkat Risiko Bebas (risk-free rate) ditambah hasil kali Beta Ekuitas dengan premi risiko pasar.
Biaya Utang (Cost of Debt) adalah tingkat bunga yang harus dibayarkan perusahaan kepada pemberi pinjaman (kreditur), dihitung berdasarkan tingkat bunga yang ditetapkan saat jatuh tempo. Rumusnya: (Tingkat Risiko Bebas + Premi Risiko Kredit) x (1 – Tarif Pajak). Tarif pajak yang berlaku mengikuti ketentuan jenis pajak di Indonesia yang relevan bagi badan usaha.
Sebagai konteks, tingkat risiko bebas (risk-free rate) yang lazim dipakai dalam perhitungan CAPM di Indonesia mengacu pada BI Rate. Bank Indonesia menetapkan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur April 2026 (sumber: CNBC Indonesia, 22 April 2026, mengutip Bank Indonesia). Angka ini bersifat historis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan moneter terkini.
Rumus lengkap WACC:
WACC = (E/V x Re) + [(D/V x Rd) x (1 – T)]
Variabel | Keterangan |
E | Nilai pasar ekuitas perusahaan |
D | Nilai pasar utang perusahaan |
V | Total struktur modal (V = D + E) |
Re | Biaya ekuitas (cost of equity) |
Rd | Biaya utang (cost of debt) |
T | Tarif pajak perusahaan |
Berikut langkah menghitung WACC secara mandiri:
1. Tentukan nilai pasar ekuitas (E) dan nilai pasar utang (D) perusahaan, lalu jumlahkan keduanya menjadi total struktur modal (V).
2. Hitung persentase porsi ekuitas (E/V) dan porsi utang (D/V) terhadap total struktur modal.
3. Tentukan biaya ekuitas (Re) menggunakan metode CAPM, dan biaya utang (Rd) berdasarkan tingkat bunga pinjaman yang berlaku.
4. Masukkan tarif pajak perusahaan (T) untuk menghitung manfaat pajak atas biaya utang, yaitu (1 – T).
5. Gabungkan seluruh komponen ke dalam rumus WACC = (E/V x Re) + [(D/V x Rd) x (1 – T)] untuk mendapatkan hasil akhir dalam bentuk persentase.
Contoh Ilustrasi Perhitungan (angka hipotetis, bukan data perusahaan riil):
Perusahaan XYZ ingin berekspansi dan memerlukan modal Rp2,5 miliar. Perusahaan ini menerbitkan 1 juta lembar saham dengan harga Rp2.000 per lembar. Pemegang saham menginginkan return saham sekitar 20%, dan perusahaan juga meminjam dana sebesar Rp500 juta dengan tingkat bunga 10%. Tarif pajak perusahaan diasumsikan 10%.
Variabel | Nilai |
Rd (biaya utang) | 10% |
Re (biaya ekuitas) | 20% |
D (nilai pasar utang) | Rp500 juta |
E (nilai pasar ekuitas) | Rp2.000 x 1 juta lembar = Rp2 miliar |
V (total struktur modal) | Rp500 juta + Rp2 miliar = Rp2,5 miliar |
T (tarif pajak) | 10% (0,1) |
Maka, perhitungan WACC-nya:
(Rp2 miliar/Rp2,5 miliar x 20%) + [(Rp500 juta/Rp2,5 miliar x 10%) x (1 – 0,1)]
= 0,16 + (0,04 x 0,9) = 0,16 + 0,036 = 0,196 atau 19,6%
Artinya, secara ilustratif, rata-rata biaya modal Perusahaan XYZ dari seluruh sumber pendanaannya adalah 19,6%. Angka ini adalah contoh perhitungan, bukan proyeksi atau rekomendasi terhadap saham maupun perusahaan tertentu.
Kelebihan:
• Membantu investor memproyeksikan tingkat return yang wajar dari suatu investasi dan membandingkan kelayakan antarperusahaan berdasarkan struktur modalnya.
• Membantu manajemen perusahaan menentukan opsi pendanaan aset baru, menetapkan target minimal return proyek, dan mengukur kinerja manajerial.
• Menjadi salah satu variabel standar dalam valuasi perusahaan dan analisis kelayakan merger maupun akuisisi.
Risiko dan Keterbatasan:
• WACC bergantung pada asumsi seperti beta ekuitas, premi risiko pasar, dan tingkat bunga, yang jika kurang akurat dapat memengaruhi hasil perhitungan.
• Nilai WACC yang tinggi umumnya mencerminkan risiko perusahaan yang lebih tinggi, sehingga tidak serta-merta menunjukkan kinerja perusahaan buruk atau baik.
• Perhitungan WACC bersifat historis dan berbasis asumsi struktur modal saat ini, sehingga tidak dapat digunakan untuk memprediksi arah harga saham atau pasar di masa depan.
1. Kumpulkan data struktur modal perusahaan (nilai pasar ekuitas dan utang) dari laporan keuangan atau data bursa.
2. Hitung biaya ekuitas dan biaya utang menggunakan metode CAPM dan tingkat bunga pinjaman yang relevan.
3. Gunakan hasil WACC sebagai salah satu tolok ukur, bukan satu-satunya faktor, saat membandingkan kelayakan investasi pada beberapa perusahaan.
4. Pelajari dasar-dasar literasi keuangan lain seperti perencanaan dan pengelolaan dana melalui Akademi Pluang sebelum mengambil keputusan investasi.
Untuk memperdalam pemahaman literasi keuangan sebelum berinvestasi, kamu juga bisa membaca panduan cara menjadi kaya dan melek finansial serta memanfaatkan kalkulator tabungan untuk merencanakan target dana investasimu. Data emiten dan valuasi perusahaan di pasar modal Indonesia dapat dicek lebih lanjut melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia (BI).
WACC (Weighted Average Cost of Capital) adalah metode menghitung biaya modal rata-rata tertimbang suatu perusahaan berdasarkan proporsi utang (debt) dan ekuitas (equity) dalam struktur modalnya. Angka ini digunakan untuk menilai kelayakan investasi, menentukan tingkat pengembalian minimum suatu proyek, dan menjadi tolok ukur dalam valuasi perusahaan atau keputusan pendanaan aset baru.
Rumus WACC adalah (E/V x Re) + [(D/V x Rd) x (1-T)]. E adalah nilai pasar ekuitas, D nilai pasar utang, V adalah total E+D, Re biaya ekuitas, Rd biaya utang, dan T tarif pajak perusahaan. Hasil akhirnya berupa persentase yang mencerminkan rata-rata biaya modal perusahaan dari seluruh sumber pendanaan.
Cost of Equity adalah biaya kesempatan (opportunity cost) yang ditanggung pemegang saham atas investasi mereka, umumnya dihitung dengan metode CAPM. Cost of Debt adalah tingkat bunga yang dibayarkan perusahaan kepada kreditur, dihitung dari tingkat risiko bebas ditambah premi risiko kredit, dikurangi manfaat pajak dari bunga utang.
WACC penting bagi investor karena membantu memproyeksikan tingkat return yang wajar dari suatu investasi dan membandingkan kelayakan antarperusahaan. Bagi perusahaan, WACC menjadi acuan minimum return suatu proyek, indikator kelayakan pendanaan lewat utang atau ekuitas, serta salah satu variabel dalam valuasi dan keputusan merger maupun akuisisi.
WACC yang tinggi tidak selalu buruk; nilainya lebih mencerminkan tingkat risiko perusahaan. Perusahaan baru atau yang berada di industri berisiko tinggi umumnya memiliki WACC lebih tinggi karena investor menuntut kompensasi risiko lebih besar. WACC perlu dibandingkan dengan tingkat pengembalian proyek (ROI), bukan dinilai baik-buruk secara berdiri sendiri.
CAPM (Capital Asset Pricing Model) adalah metode untuk menghitung Cost of Equity, salah satu komponen WACC. Rumusnya menjumlahkan tingkat risiko bebas (risk-free rate) dengan hasil kali beta ekuitas dan premi risiko pasar. CAPM membantu mengukur ekspektasi return investor sesuai tingkat risiko saham perusahaan dibanding pasar secara keseluruhan.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.








