Table of Contents1. Q4 Earnings Season Dimulai, Sektor Finansial Siap Pamer Prestasi Keuangan2. AS Rilis Data Inflasi, Investor Perlu Cermati3. Klaim Bantuan Pengangguran AS Diprediksi Naik4. RSI Divergensi Negatif, S&P 500 Berpotensi Turun5. Pekan Krusial bagi Dunia Kripto, Investor Menanti Keputusan SEC6. Kalender Perekonomian AS 7. Kalender Crypto1. Q4 Earnings Season Dimulai, Sektor Finansial Siap Pamer Prestasi Keuangan Musim perilisan laporan keuangan perusahaan kuartal IV 2023 (Earnings Season) akan dimulai pekan ini yang diawali dengan hujan perilisan laporan keuangan dari perusahaan sektor keuangan ngetop AS seperti JPMorgan Chase & Co (JPM), Wells Fargo & Co (WFC), BlackRock Inc (BLK), Bank of America (BAC) dan Citigroup Inc (C). Kelima perusahaan tersebut dijadwalkan akan menerbitkan laporan keuangannya pada Jumat (12/1) dan diharapkan dapat memengaruhi nilai indeks saham S&P 500 di akhir pekan mengingat keempatnya memiliki nilai kapitalisasi pasar yang sangat besar.Secara lebih rinci, Sobat Cuan bisa menyimak ringkasan estimasi laba per saham (EPS) kedua perusahaan tersebut pada tabel di bawah ini! Analyst EPS EstimatePotential UpsideJPMorgan Chase & Co (JPM)$3.576+3.34%BlackRock Inc (BLK)$8.771+1.93%Wells Fargo & Co (WFC)$1.096+2.87%Citigroup Inc (C)$0.791+3.43%Bank of America (BAC)$0.697+2.43% *disclaimer: rata-rata kenaikan diambil dari nilai sehari setelah rilis laporan keuangan selama 8 periode sebelumnya jika berhasil mengalahkan estimasi pasarSelain tiga korporasi tersebut, Sobat Cuan juga bisa melihat jadwal lengkap emiten yang akan merilis laporan keuangannya pada minggu ini di tabel berikut! DateEventsSenin, 8 Januari 2024Jefferies Financial Group IncSelasa, 9 Januari 2024National Energy Services ReuniAlbertsons Cos IncAehr Test SystemsJumat, 12 Januari 2024Bank of America CorpWells Fargo & CoJPMorgan Chase & CoCitigroup IncBlackRock IncUnitedHealth Group IncDelta Air Lines IncBank of New York Mellon Corp/TMullen Automotive Inc 2. AS Rilis Data Inflasi, Investor Perlu CermatiBiro Statistik AS (Bureau of Labor Statistics) akan merilis data inflasi AS Desember berdasarkan indeks harga konsumen (IHK) pada Kamis (11/1). Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg memprediksi bahwa tingkat inflasi tahunan AS bulan lalu akan berada di level 3,2%, naik tipis dibandingkan sebulan sebelumnya di 3,1%.IHK atau Consumer Price Index (CPI) adalah ukuran statistik yang mencerminkan perubahan harga rata-rata sekelompok barang dan jasa yang biasa dikonsumsi oleh rumah tangga. Adapun perbandingan CPI satu periode dengan periode sebelumnya akan menghasilkan tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi di dalam suatu ekonomi.Proses penghitungan IHK melibatkan pemantauan harga sejumlah barang dan jasa yang mencakup berbagai sektor ekonomi. Item-item ini mencakup makanan, perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan barang-barang lainnya yang umumnya dibeli oleh konsumen.US Inflation CPI Rate, Sumber: Trading Economics (2024)Namun, meski inflasi AS diprediksi melandai, investor sejatinya tetap perlu berhati-hati. Sebab, jika realisasi inflasi ternyata lebih tinggi dari prediksi, maka hal itu bisa saja menghantam pergerakan pasar modal pekan ini.3. Klaim Bantuan Pengangguran AS Diprediksi NaikDepartemen ketenagakerjaan AS (US Department of Labor) akan mengumumkan data pengajuan klaim bantuan pengangguran (Initial Jobless Claim) pada Kamis (11/1). Pada perilisan tersebut, ekonom memperkirakan terdapat 211.000 pengangguran yang mengajukan klaim bantuan tunakarya dari pemerintah AS di pekan ini, lebih tinggi dari sepekan sebelumnya yakni 202.000 pengajuan.Asal tahu saja, Initial Jobless Claim adalah indikator yang menggambarkan jumlah tunakarya yang mengajukan tunjangan pengangguran dari pemerintah AS lantaran sudah tidak memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan yang dalam waktu sepekan. Ekonom dan analis biasanya menggunakan data ini untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja serta mencari sinyal mengenai kondisi ekonomi AS secara keseluruhan.Jumlah klaim yang tinggi memberi isyarat bahwa situasi ekonomi AS sedang lesu sehingga nilai tukar Dolar AS pun berpotensi melemah. Begitu pun sebaliknya, jumlah pengajuan bantuan tunakarya yang menurun mengindikasikan ekspansi ekonomi AS.US Initial Jobless Claims, Sumber: Trading Economics (2024)4. RSI Divergensi Negatif, S&P 500 Berpotensi TurunPertumbuhan indeks S&P 500 dalam dua bulan terakhir tahun 2023 yang melonjak sekitar 15% disertai dengan peristiwa teknis yang cenderung bearish, yaitu divergensi negatif pada Indeks Kekuatan Relatif (RSI). Hal ini terjadi ketika aset berada dalam wilayah overbought (di atas 70) dan mencatat rekor harga tinggi baru, tetapi gagal mencatat rekor yang lebih tinggi yang sesuai dalam RSI. Pada akhir Desember 2023, SPX mencapai rekor tinggi 52 minggu terbaru di 4778 dan RSI berada di sekitar 80, kemudian minggu berikutnya SPX mencapai rekor tinggi baru 52 minggu sebesar 4793, sementara RSI menurun nilainya seperti yang terlihat pada grafik di bawah. Divergensi negatif ini seringkali dapat menunjukkan bahwa momentum bullish entah sedang terhenti atau mungkin berpotensi berubah menjadi negatif. Perlu dicatat bahwa indikator bearish ini tidak menjamin apapun atau dalam kata lain pasti terjadi penurunan, namun terakhir kali divergensi negatif dalam RSI muncul adalah pada akhir Juli dan SPX kemudian mengalami penurunan lebih dari 10% dalam dua bulan berikutnya. Level resistensi kunci indeks S&P 500 berada di 4800, adapun level support kunci berada di 4600.Grafik Indeks S&P 500, Sumber: TradingView (2024)Caption5. Pekan Krusial bagi Dunia Kripto, Investor Menanti Keputusan SECOptimisme pegiat kripto terhadap persetujuan Exchange-Traded Funds (ETF) Spot Bitcoin sempat mengerek harga Bitcoin ($BTC) menuju rekor baru sejak April 2022 pada pekan lalu. Level harga per unit BTC sempat menembus 711 juta rupiah per unit. Persetujuan crypto ETF baik BTC maupun ETH diyakini akan segera diresmikan pada 10 Januari 2024.Pekan ini, harga Bitcoin cs terkontraksi. Setidaknya sampai artikel ini ditulis, harga BTC menurun hingga ke level sekitar 670 juta rupiah. Salah satu faktor kuat penyebab melemahnya harga bitcoin adalah kecemasan investor jelang keputusan BTC ETF ini benar-benar diputuskan. Beberapa tokoh atau institusi belakangan juga ada yang memberikan sentimen negatif kepada BTC, diantaranya Matrixport dan salah satu pemerhati kripto Jim Cramer. Grafik Harga Bitcoin, Sumber: TradingView (2024)Caption6. Kalender Perekonomian AS DateEventsSelasa, 9 Januari 2024Trade BalanceRabu, 10 Januari 2024MBA Mortgage ApplicationsWholesale Inventories MoMKamis, 11 Januari 2024CPI MoMCPI Ex Food and Energy MoMCPI YoYCPI Ex Food and Energy YoYInitial Jobless ClaimsContinuing ClaimsJumat, 12 Januari 2024Monthly Budget StatementPPI Final Demand MoMPPI Ex Food and Energy MoMPPI Final Demand YoYPPI Ex Food and Energy YoYKalender Perekonomian AS, Sumber: Bloomberg (2023)7. Kalender CryptoDateEventsSelasa, 9 Januari 2024$CSPR - Network Peregrine V1.5.5$CAKE - Q1 Roadmap AMA$ ELON - Solana Phase 2 AirdropRabu, 10 Januari 2024$MASK - AMA$SSV - Mainnet CallKamis, 11 Januari 2024$LINK - Chainlink Q&A SpaceUS - CPIJumat, 12 Januari 2024US - PPIKalender Crypto, Sumber: CoinMarketCal, Bloomberg (2023)