
Fibonacci retracement adalah alat analisis teknikal yang membagi jarak antara dua titik harga ekstrem (swing high dan swing low) ke dalam level-level persentase berbasis rasio Fibonacci, untuk memetakan area harga yang berpotensi menjadi support atau resistance. Menurut TradingView Help Center (diakses 28 September 2026), level bawaan alat ini adalah 23,6%, 38,2%, 61,8%, dan 100%, dan banyak trader menambahkan level 50% serta 78,6%. Sebagai ilustrasi, pada kenaikan harga hipotetis dari Rp1.000 ke Rp2.000, level retracement 61,8% berada di Rp1.382.
Artikel ini adalah lanjutan dari modul Fibonacci, Perhitungan Rasio Andalan Para Trader. Di sini kamu akan belajar cara menarik garis Fibonacci retracement, cara menghitung levelnya secara manual, cara membaca Fibonacci extension, serta keterbatasan yang perlu dipahami sebelum memakainya.
Rasio Fibonacci adalah perbandingan antar-angka dalam deret Fibonacci, yaitu deret yang setiap angkanya merupakan hasil penjumlahan dua angka sebelumnya: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, dan seterusnya. Rasio yang dipakai dalam trading bukan deret angkanya itu sendiri, melainkan hasil bagi antar-angka dalam deret tersebut.
Level | Cara memperoleh (contoh) | Hasil |
23,6% | 21 ÷ 89 (angka dibagi angka tiga posisi setelahnya) | 0,236 |
38,2% | 34 ÷ 89 (angka dibagi angka dua posisi setelahnya) | 0,382 |
50% | Bukan rasio Fibonacci; titik tengah yang lazim ditambahkan trader | 0,500 |
61,8% | 89 ÷ 144 (angka dibagi angka tepat setelahnya), disebut golden ratio | 0,618 |
78,6% | Akar kuadrat dari 0,618 | 0,786 |
161,8% | 144 ÷ 89 (kebalikan dari 0,618), dipakai untuk extension | 1,618 |
Semakin jauh dalam deret, hasil baginya semakin mendekati angka di atas. Level 50% tidak berasal dari deret Fibonacci, tetapi tetap sering ditampilkan karena banyak trader memperhatikan titik tengah suatu pergerakan.
Fibonacci retracement berfungsi untuk memetakan seberapa jauh harga berpotensi terkoreksi (retrace) sebelum melanjutkan tren sebelumnya. Alat ini termasuk bagian dari analisis teknikal dan bisa diterapkan pada berbagai aset yang diperdagangkan secara aktif, seperti saham, kripto, komoditas, dan valuta asing.
Ada tiga fungsi utama Fibonacci retracement:
1. Memetakan area koreksi. Dalam tren naik, level Fibonacci menunjukkan area tempat penurunan sementara berpotensi tertahan.
2. Membantu merencanakan titik keluar. Level yang ditembus bisa menjadi acuan untuk menempatkan stop loss.
3. Memperkuat analisis lain. Level Fibonacci lebih bermakna jika berdekatan dengan garis support dan resistance historis atau indikator lain.
Yang perlu diingat, Fibonacci retracement memetakan area kemungkinan, bukan alat untuk menentukan harga di masa depan.
Cara menggunakan Fibonacci retracement adalah dengan mengidentifikasi tren, menarik garis dari titik ekstrem awal ke titik ekstrem akhir pergerakan, lalu membaca reaksi harga di setiap level. Berikut enam langkahnya.
Cek apakah aset sedang berada dalam tren yang jelas, naik atau turun. Fibonacci retracement kurang bermakna saat harga bergerak mendatar (sideways) tanpa arah.
Swing low adalah titik dasar sementara sebelum harga berbalik naik, sedangkan swing high adalah titik puncak sementara sebelum harga berbalik turun. Pilih dua titik yang jelas terlihat pada rentang waktu (timeframe) yang kamu analisis.
1. Tren naik: tarik garis dari swing low ke swing high.
2. Tren turun: tarik garis dari swing high ke swing low.
Platform charting akan otomatis menampilkan level 0% hingga 100%. Sebagian platform menampilkan 0% di posisi atas dan 100% di bawah (atau sebaliknya) serta menyediakan opsi untuk membalik urutannya, jadi selalu cek label persentasenya, bukan hanya posisinya.
Rumus untuk tren naik: Level = Swing high − (Swing high − Swing low) × rasio.
Rumus untuk tren turun: Level = Swing low + (Swing high − Swing low) × rasio.
Perhatikan apakah harga melambat, memantul, atau justru menembus level tertentu. Konfirmasi reaksi tersebut dengan volume transaksi, pola candlestick, atau indikator seperti RSI dan moving average.
Sebelum bertransaksi, tentukan batas kerugian yang siap kamu tanggung. Level di bawah area yang kamu amati (pada tren naik) sering dipakai sebagai acuan stop loss. Setelah pergerakan baru terbentuk, tarik ulang garis Fibonacci karena titik swing sudah berubah.
Pada kenaikan harga hipotetis dari swing low Rp1.000 ke swing high Rp2.000 (jarak Rp1.000), level retracement 38,2% berada di Rp1.618, level 50% di Rp1.500, dan level 61,8% di Rp1.382. Tabel berikut merinci perhitungannya.
Level retracement | Perhitungan (Rp) | Harga level (Rp) |
0% | 2.000 − (1.000 × 0) | 2.000 |
23,6% | 2.000 − (1.000 × 0,236) | 1.764 |
38,2% | 2.000 − (1.000 × 0,382) | 1.618 |
50% | 2.000 − (1.000 × 0,500) | 1.500 |
61,8% | 2.000 − (1.000 × 0,618) | 1.382 |
78,6% | 2.000 − (1.000 × 0,786) | 1.214 |
100% | 2.000 − (1.000 × 1) | 1.000 |
Ilustrasi menggunakan angka hipotetis, bukan harga aset tertentu. Satuan: rupiah per unit.
Cara membacanya: jika harga terkoreksi dan tertahan di sekitar Rp1.618 (38,2%), koreksinya tergolong dangkal. Jika koreksi berlanjut hingga sekitar Rp1.382 (61,8%), koreksinya lebih dalam. Jika harga menembus Rp1.000 (100%), seluruh kenaikan sebelumnya sudah terhapus dan tren naik yang dianalisis tidak lagi berlaku.
Fibonacci extension adalah level di luar rentang 0%–100% yang dipakai trader untuk memetakan area kelanjutan pergerakan setelah tren menembus titik swing sebelumnya. Level yang umum dipakai adalah 127,2%, 161,8%, dan 261,8%.
Rumus sederhana untuk tren naik: Level extension = Swing low + (Swing high − Swing low) × rasio extension.
Dengan contoh yang sama (swing low Rp1.000, swing high Rp2.000):
1. Extension 127,2%: Rp1.000 + (Rp1.000 × 1,272) = Rp2.272.
2. Extension 161,8%: Rp1.000 + (Rp1.000 × 1,618) = Rp2.618.
3. Extension 261,8%: Rp1.000 + (Rp1.000 × 2,618) = Rp3.618.
Perhatikan bahwa extension dihitung dari jarak pergerakan, bukan dengan mengalikan harga di level 100% dengan 161,8%. Cara perkalian langsung terhadap harga akan menghasilkan angka yang keliru.
Metodologi: level extension dihitung dengan rumus di atas menggunakan angka hipotetis. Ini hanya simulasi. Hasil sebenarnya dapat berbeda. Simulasi ini disusun oleh Pluang untuk tujuan edukasi dan bukan prediksi harga aset tertentu.
Keterbatasan utama Fibonacci retracement adalah hasilnya sangat bergantung pada titik swing yang dipilih, dan level-levelnya tidak memiliki dasar ekonomi yang menjelaskan kenapa harga harus bereaksi di sana. Berikut kesalahan dan keterbatasan yang sering ditemui:
1. Subjektif. Dua trader yang memilih titik swing berbeda akan mendapat level yang berbeda pula.
2. Terlalu banyak level. Dengan lima hingga tujuh garis, harga hampir selalu "dekat" dengan salah satu level, sehingga mudah melihat pola yang sebenarnya kebetulan.
3. Bekerja karena diperhatikan banyak orang. Jika level Fibonacci dihormati pasar, penyebabnya lebih mungkin karena banyak trader menempatkan order di sekitar level yang sama, bukan karena sifat matematis rasionya.
4. Kurang bermakna saat sideways atau berita besar. Rilis laporan keuangan, keputusan suku bunga, atau sentimen ekstrem bisa membuat harga menembus semua level dengan cepat, terutama pada aset dengan volatilitas tinggi.
5. Keliru menghitung extension. Seperti dijelaskan di atas, extension dihitung dari jarak pergerakan, bukan dari harga.
Karena itu, gunakan Fibonacci sebagai salah satu alat bantu, bukan dasar tunggal keputusan transaksi.
Kamu bisa mempraktikkan analisis Fibonacci pada grafik aset yang tersedia di Pluang, yaitu Saham Indonesia, Saham AS & ETF, dan Crypto. Setiap produk memiliki manfaat, risiko, syarat, dan biaya yang berbeda:
Aspek | Saham Indonesia | Saham AS & ETF | Aset Kripto |
Minimum transaksi | Beli minimum 1 lot (100 lembar) | USD1,00 (Market Order); USD1,5 (Limit Order, Stop Order, Stop Limit Order) | Beli minimum Rp10.000; jual minimum Rp5.000 |
Manfaat | Kepemilikan saham emiten BEI; potensi dividen dan capital gain | Akses ke saham dan ETF AS secara fraksional | Transaksi pecahan unit, dari nominal kecil |
Risiko utama | Harga dapat turun; risiko likuiditas; auto rejection | Volatilitas harga; risiko nilai tukar USD/IDR | Volatilitas sangat tinggi; nilai dapat turun signifikan dalam waktu singkat |
Syarat | Akun Pluang terverifikasi dan rekening efek | Akun Pluang terverifikasi | Akun Pluang terverifikasi |
Biaya | Komisi broker (bervariasi antar-sekuritas), levy BEI (diatur regulator), dan PPh Final 0,1% atas penjualan sesuai ketentuan perpajakan pasar modal, bukan komponen biaya sekuritas | Mengikuti ketentuan yang tertera di aplikasi saat transaksi | Mengikuti ketentuan yang tertera di aplikasi saat transaksi |
Saham Indonesia: Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Saham AS & ETF: Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek. Seluruh transaksi dicatat di Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI). PT PG Berjangka juga merupakan Pialang Berjangka yang berizin dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Aset Kripto: Pluang sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh transaksi tercatat di Central Finansial X (CFX) dan Kliring Komoditi Indonesia (KKI).
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Fibonacci retracement adalah alat analisis teknikal yang membagi jarak dua titik harga ekstrem ke level 23,6%, 38,2%, 50%, 61,8%, dan 78,6% untuk memetakan area support atau resistance potensial.
Level 61,8% disebut golden ratio karena berasal dari 89 ÷ 144 ≈ 0,618, kebalikan dari 1,618. Pada kenaikan hipotetis Rp1.000 ke Rp2.000, level ini berada di Rp1.382.
Pada tren naik, tarik garis dari swing low ke swing high. Rumus levelnya: swing high − (swing high − swing low) × rasio. Contoh: 2.000 − (1.000 × 0,382) = Rp1.618.
Extension 161,8% dihitung dari jarak pergerakan: swing low + (swing high − swing low) × 1,618. Pada contoh Rp1.000 ke Rp2.000, hasilnya Rp2.618. Ini hanya simulasi. Hasil sebenarnya dapat berbeda.
Tidak. Hasilnya bergantung pada titik swing yang dipilih dan bisa gagal saat pasar sideways atau ada berita besar. Gunakan bersama support-resistance, volume, RSI, atau moving average sebagai konfirmasi.
Fibonacci retracement membagi jarak antara swing high dan swing low ke level 23,6%, 38,2%, 50%, 61,8%, dan 78,6% untuk memetakan area koreksi potensial. Pada contoh kenaikan Rp1.000 ke Rp2.000, level 61,8% berada di Rp1.382, sedangkan extension 161,8% berada di Rp2.618. Kunci pemakaiannya adalah memilih titik swing secara konsisten, menghitung extension dari jarak pergerakan, mengonfirmasi dengan indikator lain, dan selalu menyiapkan manajemen risiko. Fibonacci adalah alat bantu membaca peta harga, bukan alat prediksi.
Tanggal | Perubahan |
12 Februari 2024 | Artikel dipublikasikan sebagai modul 12 seri Analisis Teknikal 101. |
28 September 2026 | Angka Kunci, tabel asal-usul rasio, tabel contoh perhitungan level, dan 7 H2 berbentuk pertanyaan ditambahkan. Rumus manual retracement dan extension ditambahkan; cara menghitung extension 161,8% dikoreksi; bagian keterbatasan, cara praktik di Pluang, dan FAQ ditambahkan; contoh grafik lama diganti ilustrasi hipotetis. |
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.