pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 3 menit

View
0

Mengenal Konsep Bid & Offer dalam Transaksi Aset

Pelaku pasar selalu mempertimbangkan mengenai harga jual dan beli (bid and offer) sebelum bertransaksi satu instrumen aset tertentu. Namun, sebagian di antaranya masih belum paham mengenai konsep tersebut. Yuk, pelajari konsep bid dan offer secara mudah dan singkat di artikel berikut!

Apa Itu Bid & Offer?

Secara sederhana, bid adalah harga penawaran yang diajukan oleh pembeli ketika membeli satu instrumen keuangan tertentu di pasar finansial.

Umumnya, sebagai pembeli, pelaku pasar akan memasang harga beli yang lebih rendah dibanding harga jual aslinya. Maklum, pembeli tentu ingin membeli barang dengan harga serendah mungkin.

Misalnya, jika harga sebuah instrumen keuangan berada di level Rp1 juta, maka pelaku pasar biasanya akan menawar harga barang tersebut lebih rendah, misal Rp950.000.

Sementara itu, offer merupakan kebalikan dari bid. Offer adalah harga yang dipasang pelaku pasar ketika ingin menjual asetnya ke jajaran pembeli yang berkumpul di pasar.

Secara alamiah, penjual tentu ingin mendulang cuan. Makanya, jika memungkinkan, mereka akan memasang harga jual yang lebih tinggi dari harga seharusnya. Hanya saja, aset tersebut bisa jadi tidak laku di pasaran jika sang penjual malah memasang harga yang kelewat lebih mahal dari harga aslinya.

Konsep bid dan offer hadir mengingat pasar berisikan penjual dan pembeli yang memiliki persepsi masing-masing soal harga sebuah aset. Oleh karenanya, mereka melakukan proses "tawar-menawar" harga di pasar keuangan untuk menentukan satu harga jual/beli yang disepakati bersama kedua belah pihak.

Apakah Portofolio Dihitung Menggunakan Harga Bid atau Offer?

Sobat Cuan tentu sering menemukan bahwa nilai portofoliomu langsung susut setelah kamu membeli aset. Kondisi ini tentu bikin kamu bertanya-tanya: Apakah nilai aset di dalam portofoliomu sebenarnya tertera dalam harga offer? Atau harga bid? Atau mungkin kamu sedang apes sehingga langsung mengalami kerugian portofolio?

Nah, melihat kasus di atas, nilai portofoliomu sebenarnya tertera dari harga bid yang tengah berlaku saat ini.

Ilustrasinya seperti ini, Sobat Cuan. Ketika kamu membeli 1 Bitcoin (BTC) senilai Rp601 juta, maka kamu tentu akan mengeluarkan uang yang sama-sama seharga Rp601 juta. Tapi, mungkin kamu akan menemukan nilai BTC-mu di portofolio tiba-tiba ciut menjadi Rp600 juta.

Secara sekilas, kamu mungkin jengkel karena merasa langsung rugi mendadak. Padahal, perbedaan nilai tersebut hanyalah perkara pencatatan saja, Sobat Cuan!

Nilai BTC-mu ditulis sebesar Rp600 juta lantaran itulah level harga bid yang berlaku saat ini. Dengan kata lain, kamu bakal laku menjual BTC saat ini jika menjualnya seharga Rp600 juta. Sementara itu, BTC milikmu tidak akan laku jika kamu kekeh menjualnya di level Rp601 juta karena tingkatan harga tersebut baru sebatas harga penawaran alias offer.

Bagaimana Perhitungan Portofolio di Pluang?

Pluang menggunakan jenis harga-harga yang berbeda ketika menghitung dan mencatat nilai portofolio atas masing-masing kelas aset yang terdapat di dalam aplikasi Pluang. Berikut penjelasannya!

Perlu diingat, total portofoliomu adalah nilai aset yang kamu miliki saat ini. Sehingga, kamu hanya tinggal mengurangi nilai portofoliomu saat ini dengan jumlah uang yang kamu gelontorkan di awal untuk membeli aset demi menilai apakah kamu sudah cuan atau belum.

Apabila nilai portofoliomu lebih besar dibandingkan dengan jumlah uang yang yang kamu keluarkan untuk investasi, maka selamat! Kamu sudah berhasil mendulang laba investasimu. Namun, jika nilai portofoliomu lebih rendah dibanding jumlah modal uang yang kamu keluarkan, maka pergerakan harga asetmu sedang tidak sesuai dengan ekspektasimu.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?