









Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Berdasarkan data pasar per 30 Januari 2026, angka-angka berikut menunjukkan kontras yang mencolok antara kedua aset penyimpan nilai tersebut:
Metrik Pasar | ||
Harga Terkini | $78.623,95 | $4.745,10 /oz |
Kapitalisasi Pasar | $1,6 Triliun | $33,9 Triliun |
Korelasi Bergulir 1 Tahun | -0,09 | N/A |
Rasio BTC terhadap Emas | 16,57 oz | N/A |
Dominasi Pasar | 4,6% dari Emas | Pilar Utama Global |
Angka korelasi -0,09 adalah data kunci yang menunjukkan bahwa hubungan historis kedua aset ini hampir sepenuhnya terputus. Emas telah melesat naik (pernah menyentuh $5.500 pada Januari), sementara Bitcoin justru merosot dari puncaknya di $126.000 (Oktober 2025) menuju level $78.000. Saat ini, 1 Bitcoin hanya setara dengan 16,57 ounce emas, mencerminkan pergeseran kekuatan yang signifikan di awal tahun.
Beli Produk Emas Pluang Di SIni!
Analisis mendalam terhadap struktur pasar mengungkapkan bahwa divergensi ini bersifat fundamental dan siklikal. Masalahnya bukan pada kegagalan salah satu aset, melainkan pada asal-usul likuiditas dan bagaimana ia bersirkulasi.
Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, pendorong utama lonjakan emas di tahun 2025-2026 bukanlah spekulasi retail, melainkan akumulasi strategis oleh bank sentral global—terutama Tiongkok, India, dan Rusia. Bank-bank ini terus membeli emas fisik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya (rata-rata 1.000 ton per tahun) sebagai langkah dedolarisasi. Bagi negara-negara ini, emas adalah "jangkar" yang tidak bisa "dimatikan" oleh sanksi Barat atau perubahan perangkat lunak.
Berbeda dengan emas, Bitcoin telah berevolusi menjadi barometer bagi Pasokan Uang M2 Global. Berdasarkan model analisis Vector Autoregression (VAR), sekitar 41% pergerakan harga Bitcoin dipengaruhi langsung oleh likuiditas global, sementara emas hanya menyumbang pengaruh langsung sebesar 26%.
Bitcoin bertindak sebagai "spons" yang menyerap kelebihan modal dari sistem perbankan. Namun, di awal 2026, likuiditas ini tertahan. Meskipun program pengetatan kuantitatif (QT) Federal Reserve telah berakhir, kebijakan "Soft QE" yang diharapkan belum sepenuhnya membanjiri pasar kripto, membuat Bitcoin tampak "haus" akan arus modal baru sementara emas sudah lebih dulu kenyang oleh permintaan fisik bank sentral.
Sumber likuiditas memainkan peran krusial dalam divergensi ini. Laporan pasar menunjukkan bahwa Tiongkok adalah penggerak utama lonjakan emas. Likuiditas dari ekonomi riil Tiongkok mengalir deras ke logam mulia untuk stabilitas domestik di tengah ketidakpastian tarif dagang.
Di sisi lain, Bitcoin sangat sensitif terhadap kondisi keuangan di Amerika Serikat. Kehadiran ETF Bitcoin Spot yang kini mendominasi pasar (seperti IBIT milik BlackRock) telah "mengikat" nasib Bitcoin dengan selera risiko Wall Street. Ketika pasar saham AS mengalami tekanan di awal 2026, Bitcoin diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi (high-beta) yang dilikuidasi untuk menutupi margin saham, bukan sebagai tempat perlindungan aman seperti emas.
Satu perspektif penting yang sering diabaikan adalah bahwa emas dan Bitcoin "trend together, but cycle apart." Secara jangka panjang (dekade), keduanya berkorelasi positif karena merespon debasement mata uang fiat. Namun, dalam jangka pendek, mereka sering bergerak berlawanan arah.
Kondisi saat ini menggambarkan siklus di mana emas memimpin karena ketakutan geopolitik mencapai puncaknya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketertinggalan Bitcoin dari emas biasanya diikuti oleh fase "pengejaran" yang agresif. Dengan kapitalisasi pasar Bitcoin yang baru mencapai 4,6% dari total pasar emas, potensi pertumbuhan (upside) Bitcoin tetap jauh lebih besar secara matematis daripada emas yang sudah sangat mapan.
Memasuki pertengahan 2026, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pendewasaan. Peran investor institusional dan regulasi yang semakin jelas (seperti UU SLR yang akan diberlakukan April 2026 di AS) membuat basis permintaan menjadi lebih luas. Meskipun volatilitas tetap ada, terbukti dengan likuidasi massal senilai $1,7 miliar pada akhir Januari—Bitcoin tetap menjadi pilihan utama sebagai proksi teknologi dalam sistem moneter global.
Emas menawarkan tren naik yang lebih terstruktur dan konsisten, cocok bagi mereka yang mencari pelestarian kekayaan murni. Sebaliknya, Bitcoin menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan likuiditas digital yang eksplosif.
Di Pluang, kamu bisa membeli Emas (XAU) ataupun Bitcoin secara langung. Melalui satu platform, investor dapat:
Untuk aset crypto, Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.
Untuk aset emas, Pluang berizin dan diawasi oleh OJK. Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Emas Sejahtera yang telah memiliki izin sebagai Pedagang Fisik Emas Digital dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Renggangnya korelasi (decoupling) pada tahun 2026 bukanlah tanda jika "emas digital" sudah gugur. Malahan, ini ialah fakta kalau Bitcoin telah mengukir perannya sendiri sebagai instrumen imbal tinggi yang unik dibanding emas fisik. Emas adalah aset "Bunker" untuk pertahanan saat muncul gangguan fisik serta sanksi. Bitcoin adalah aset "Growth" yang mengumpulkan cuan dari ledakan moneter digital. Bagi investor, siklus dengan korelasi negatif -0,09 ini adalah kesempatan unik untuk diversifikasi. Mendekap emas menawarkan ketahanan saat dunia penuh gejolak geopolitik, sedangkan menetap pada posisi Bitcoin (walaupun sedang jatuh ke $78.000) memberikan pas buat menangkap momentum likuiditas global depan yang biasanya tiba setelah masa konsolidasi jenuh.


