Margin of Safety, Kenali Konsep Terpenting di Investasi

Salah satu kutipan yang populer dari Warren Buffett adalah “tiga kata paling penting dalam investasi adalah margin of safety”. Apa itu Margin of Safety?

Apabila diterjemahkan, nama lainnya adalah Batas Keamanan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin Graham, dosen dari Warren Buffett, dan partnernya, David Dodd pada tahun 1928.

Graham juga memunculkan istilah Margin of Safety sebagai konsep utama dari investasi di bukunya yang berjudul The Intelligent Investor

Menurutnya, margin of safety adalah selisih antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga jual saat ini. Analisa terhadap margin ini sangatlah penting untuk mengetahui untung dan ruginya sebuah investasi.

Dikarenakan, batas ini dapat menentukan seberapa jauh kita bisa terus menjalani usaha atau menunjukkan usaha tersebut merugi. 

Margin of Safety – Konsep Investasi Penting yang Perlu Kamu Tahu

Untuk mahir menentukan Margin of Safety, penting memahami dahulu apa perbedaan antara nilai intrinsik (value) dan harga jual (price). Menurut Warren Buffett, nilai adalah apa yang kamu dapat. Sementara, harga adalah apa yang kamu bayar.

Apapun yang kita beli, termasuk saham, akan lebih baik bila kita bisa membeli benda/barang yang berkualitas dengan potongan harga.

Apabila kita aplikasikan kedalam rumus matematika maka Margin of Safety = selisih value dan price per total value dikali 100%.

Dalam bidang investasi, semakin tinggi Margin of Safety, semakin rendah risiko yang didapat saat berinvestasi pada saham perusahaan tersebut. Begitupun sebaliknya, semakin rendah Margin of Safety, semakin tinggi risikonya. 

 Contoh Sederhana

Contoh sederhananya adalah apabila kita berniat membeli suatu saham perusahaan yang dijual dengan harga Rp500,- sedangkan nilai intrinsik suatu saham adalah Rp1.000,-. Maka, margin of safety saham tersebut adalah sebesar 50% atau senilai Rp500,-.

Ini membuktikan kita memiliki batas aman 50% yang berarti cukup besar. Ingatlah, semakin besar marginnya maka semakin kecil risikonya.

Apa yang terjadi apabila harga jual saham tersebut bernilai Rp800,-? Maka margin of safety berupa 20% atau senilai Rp200,-.

Risikonya tetap kecil namun lebih aman dibandingkan dengan kasus sebelumnya yang memiliki margin of safety lebih besar, 50%. Kalau batas keamanan besar maka kita lebih tenang dan aman dalam mengantisipasi risiko. 

Nilai margin of safety ditentukan sesuai dengan kondisi setiap saham. Tidak ada patokan harus berapa nilainya.

Namun setiap besar kecilnya margin of safety memiliki risikonya masing-masing. Misalkan, kalau nilai marginnya terlalu kecil maka ada risiko harga akan turun.

Sedangkan kalau marginnya sangat besar akan ada risiko kita tidak dapat memiliki sahamnya karena banyak peminat.

Metode margin of safety ini mewajibkan kita menetapkan nilai intrinsik/value suatu perusahaan. Ketika mengenali harga tersebut, kita bisa menganalisa apakah harga tersebut jauh di bawah atau di atas harga pasar.

Maka dari itu, inilah pentingnya margin of safety untuk mengetahui untung atau ruginya seseorang saat berinvestasi. 

Warren Buffett pun menerapkan konsep mentornya ini pada saat berinvestasi. Ia terlatih dengan sangat luar biasa dalam menentukan nilai intrinsik suatu saham.

Hal inilah yang membuat ia sukses sampai sekarang. Menurut CEO dari Berkshire Hathaway ini, lebih baik berinvestasi pada perusahaan yang memiliki value yang sangat tinggi dengan harga saham yang masih masuk akal walaupun tidak murah.

Dibanding berinvestasi pada perusahaan yang nilainya biasa saja meskipun harganya rendah. Dengan kata lain: ada harga, ada barang. 

Lalu, bagaimana cara menentukan nilai intrinsik suatu saham? Analisalah latar belakang suatu saham dalam jangka waktu 5-10 tahun kebelakang.

Perhatikan kinerja perusahaan apakah selalu stabil dan baik. Indikator yang bisa dilihat adalah ekuitas dan laba bersih apakah pernah terjadi penurunan tajam atau lonjakan besar.

Kemudian analisa penyebab dari kejadian tersebut. Ini adalah elemen yang penting karena perusahaan yang memiliki kinerja yang bagus sebelumnya bisa lebih dipercaya akan memiliki kinerja yang baik juga di masa depan. Meskipun tidak ada jaminannya.

Di samping itu, pahami juga bidang usaha perusahaan tersebut untuk mengetahui nilai intrinsiknya. Ketika kita memahaminya akan lebih mudah memprediksi performa perusahaan tersebut.

Baca juga:

Biar Gaji Kecil, Kamu Tetap Harus Bisa Hemat dengan 7 Cara Ini!

7 Hadiah Ultah Unik dan Romantis buat Pacar pas Kamu On Budget

Recent Articles

Related Stories

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here