Antisipasi Kenaikan Harga Emas di Masa Depan

Selama lebih dari 3000 tahun, manusia sudah mengenal emas dan menjadikan logam mulia ini sebagai benda berharga. Dahulu kala, emas bahkan dijadikan alat tukar oleh sebagian masyarakat.

Pasar modal baru ditemukan ratusan tahun terakhir. Tapi sejarah telah membuktikan bahwa emas begitu berharga nilainya dan terus-menerus dipilih manusia untuk alat tukar maupun instrumen investasi.

Bahkan banyak analis mengatakan bahwa emas bertahan dan justru bertambah nilainya di saat krisis. Meksipun, anggapan ini sempat terbantahkan saat krisis ekonomi pada 2008.

Kala itu, semua instrumen investasi terpuruk, termasuk emas. Pasalnya, investor kadung panik dan menjual semua aset yang memungkinkan untuk ditukarkan dengan uang tunai.

Di satu sisi, kondisi tersebut mengejutkan banyak orang karena biasanya logam mulia ini bisa bertahan di tengah krisis. Namun di sisi lain, krisis bisa jadi momen tepat untuk membeli emas karena potensi kenaikan harga jadi lebih besar setelah krisis.

Para analis di Dohmen Capital Research menjelaskan mengenai ini. Saat krisis 2008, harga emas anjlok sampai 31%. Tentu saja hal ini membuat investor ketar-ketir. Namun, analis justru merekomendasikan “buy gold” saat harga emas ada di level yang sangat rendah itu.

Timing is everything

Dalam dunia investasi, waktu adalah segalanya. Waktu yang tepat bisa menggenjot portofolio investasi kamu. Dengan kata lain, waktu yang tidak tepat juga bisa meluluhlantakkan nilai aset kamu.

Hal ini harus dikuasai oleh investor emas untuk melindungi diri dari berbagai kemungkinan, terutama saat krisis datang. Uang tunai dalam bentuk mata uang stabil sangat diinginkan dalam masa krisis.

Namun, krisis cenderung membuat bank sentral di sebuah negara mengabaikan percepatan moneter. Nah, situasi itu menjadikan emas muncul sebagai instrumen investasi yang bagus. Hal ini terlihat dari kenaikan harga emas yang sangat signifikan dari akhir 2008 hingga akhir 2011.

Berbicara teknikal

Analis di Dohmen Capital Research memprediksi potensi kenaikan harga emas yang didukung oleh analisis teknikal. Menurut grafik VanEck Vectors Gold Miners (GDX), sejak 2016, emas membentuk posisi bottom. Logam mulia ini sempat merangkak naik pada tahun 2016 tapi menunjukkan pola sideways (tidak ada kecenderungan pergerakan harga) hingga Januari 2019.

Secara teknikal, emas telah menunjukkan potensi bullish (kecenderungan harga untuk bergerak naik (menguat) secara terus menerus dalam suatu periode waktu tertentu) sejak tahun 2000. Lonjakan harga terjadi dari US$250 menjadi US$1.930 pada 2011. Pergerakan ini kemudian diikuti dengan penurunan sebesar 50% dimulai pada 2012. Namun, penurunan tersebut bukanlah hal istimewa di pasar besar.

Bert Dohmen, Presiden Dohmen Capital Research, sudah memprediksi potensi lonjakan harga emas sejak tahun 1980-an. Kepada kliennya, Dohmen menunjukkan puncak harga emas pada akhir 1980. Harga logam mulia tersebut naik melebihi level US$800 per oz (1 oz = 28.34952g). Banyak analis lain memprediksi kenaikan hingga level US$3.000.

Akan tetapi, Dohmen yakin, harga emas malah akan merosot dalam dua puluh tahun. Dohmen menulis analisisnya pada 1981 melalui Wellington Letter. Meski dipandang sebelah mata, penurunan itu terjadi.

Buktinya, penurunan harga emas terjadi sampai tahun 2001. Selain memprediksi siklus 20 tahunan tersebut, Dohmen juga memperkirakan kenaikan harga emas pada 30 tahun selanjutnya.

Dengan prediksi yang sama, Dohmen meyakinkan investor bahwa siklus kenaikan harga emas bisa terjadi sampai tahun 2030. Artinya, kita masih punya sebelas tahun untuk menikmati peningkatan harga logam mulia.

Melirik sejarah, fase akhir kenaikan harga emas terjadi secara spektakuler. Tentu saja, siklus bisa bergeser. Tapi, siklus ini masih berjalan sesuai target.

Investor emas bisa mempertahankan analisis Dohmen ini untuk mengambil keputusan yang tepat.

Yuk, buruan ikut menabung emas di Pluang! Semoga semakin untung!

Recent Articles

Related Stories

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here