Bookmark
Bitcoin Terperosok di Bawah $76.000: Mengapa Pasar Crypto "Crash" dan Apa yang Harus Diwaspadai?
12 hours ago
Pasar crypto kembali diguncang volatilitas hebat pada awal Februari 2026. Setelah sempat mencicipi masa kejayaan dengan rekor tertinggi di atas $126.000 pada Oktober lalu, Bitcoin (BTC) kini justru berjuang untuk mempertahankan posisinya. Dalam kurun waktu singkat, harga Bitcoin merosot ke bawah level psikologis $76.000, menyeret mayoritas aset crypto lainnya (altcoins) ke zona merah.

Penurunan ini tidak terjadi di ruang hampa. Kombinasi antara likuidasi massal, perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat, hingga ketegangan geopolitik menjadi "badai sempurna" yang menekan sentimen investor. Bagi para pengguna Pluang, memahami akar penyebab koreksi ini sangat penting untuk menentukan langkah investasi berikutnya.

Peta Kerugian di Seluruh Pasar

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar crypto global turun lebih dari 4% dalam satu hari. Bitcoin mencatat penurunan sekitar 2%, namun dampaknya jauh lebih terasa pada aset lain yang memiliki volatilitas lebih tinggi:

  • Ethereum (ETH): Anjlok lebih dari 6%.

  • Solana (SOL) & BNB: Terkoreksi hampir 3%.

  • XRP: Jatuh sebesar 4,3%.

Saat Bitcoin tergelincir di bawah $75.000 untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, pasar mengalami kepanikan sesaat yang memicu gelombang jual paksa. Dominasi Bitcoin yang sangat kuat dalam perdagangan derivatif membuat tekanan ini tumpah ke aset-aset crypto lapis kedua atau altcoins, di mana para trader terpaksa memangkas risiko secara menyeluruh.

Beli Coin XRP di Sini!

Beli Coin BTC di Sini!

Beli Coin SOL di Sini!

Beli Coin ETH di Sini!

1. Deleveraging: Pembersihan "Leverage" yang Menyakitkan

Penyebab utama tajamnya penurunan kali ini adalah likuidasi massal pada posisi long (investor yang bertaruh harga akan naik). Ketika harga Bitcoin turun menyentuh level tertentu, posisi perdagangan yang menggunakan hutang (leverage) terpaksa ditutup oleh bursa untuk menutupi kerugian.

  • Likuidasi Harian: Dalam 24 jam terakhir, sekitar $237 juta posisi long Bitcoin dilikuidasi.

  • Tren Mingguan & Bulanan: Angka ini sebenarnya hanyalah puncak gunung es. Dalam seminggu terakhir, total likuidasi BTC mencapai $2,16 miliar, dan dalam sebulan melampaui $4,4 miliar.

Fenomena ini menciptakan efek bola salju: likuidasi memaksa adanya pesanan jual di pasar (market sell), yang kemudian menekan harga lebih rendah lagi, dan akhirnya memicu likuidasi pada level harga di bawahnya. Data menunjukkan bahwa Open Interest pada kontrak perpetual futures turun 4,4%, menghapus eksposur senilai $26 miliar hanya dalam sehari. Ini menandakan bahwa pasar sedang melakukan pembersihan besar-besaran terhadap spekulan yang menggunakan leverage tinggi untuk keluar dari pasar crypto secara cepat.

2. Sentimen "Risk-Off" dan Kebijakan Fed

Pasar crypto tidak lagi bergerak secara terisolasi. Saat ini, koreksi crypto sangat berkorelasi dengan sikap Risk-Off di pasar keuangan global. Investor cenderung menghindari aset berisiko (seperti crypto dan saham teknologi) dan beralih ke aset aman (safe haven).

Beberapa faktor makro yang memicu sikap ini antara lain:

  • Nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Fed: Presiden Trump mencalonkan Kevin Warsh untuk memimpin Federal Reserve. Pasar bereaksi dengan ekspektasi adanya pengetatan kebijakan neraca yang lebih "hawkish" meskipun ada ekspektasi pemotongan suku bunga.

  • Koreksi Logam Mulia: Pengumuman ini sempat memicu aksi jual pada emas dan perak sebelum akhirnya berbalik arah. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS membuat investor memilih untuk "mengamankan kas" (cash out).

Sentimen ini sangat memengaruhi harga crypto karena investor institusional melihat Bitcoin sebagai bagian dari portofolio aset berisiko mereka. Ketika ketidakpastian moneter meningkat, aset crypto seringkali menjadi yang pertama dilepas untuk mengamankan likuiditas.

3. Efek Domino Sektor AI dan Saham Teknologi

Pasar crypto, terutama proyek yang berkaitan dengan infrastruktur digital dan token berbasis AI, sangat sensitif terhadap kinerja sektor teknologi. Baru-baru ini, laporan keuangan Microsoft menunjukkan pertumbuhan pendapatan Azure (cloud) yang hanya sedikit di atas ekspektasi, namun tetap dianggap mengecewakan mengingat tingginya sentimen terhadap AI. Akibatnya, saham Microsoft anjlok 10%.

Keresahan investor terhadap apakah investasi besar-besaran di bidang AI akan menghasilkan profitabilitas yang sepadan mulai merembet ke crypto. Ketakutan akan adanya "gelembung AI" yang pecah membuat investor mengurangi eksposur mereka di seluruh spektrum aset teknologi tinggi. Penurunan di Nasdaq sering kali menjadi sinyal awal penurunan di pasar crypto, mengingat keduanya saat ini memiliki korelasi yang cukup erat.

4. Faktor Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah

Ketidakpastian semakin diperparah oleh laporan bahwa Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS. Berita ini langsung memicu kenaikan pada indeks volatilitas VIX sebesar 10% (sempat melonjak 25%).

Dalam situasi konflik bersenjata:

  1. Harga Minyak Naik: Brent dan WTI naik lebih dari 1,6%.

  2. Emas Menjadi Raja: Emas melonjak 6,7% ke level $4.965/oz, membuktikan posisinya sebagai penyimpan nilai (store of value) utama dibandingkan Bitcoin dalam situasi darurat geopolitik.

  3. Crypto Tertekan: Meskipun sering disebut sebagai "emas digital", dalam jangka pendek Bitcoin masih sering diperlakukan sebagai aset risiko tinggi yang dijual saat terjadi ketegangan global.

5. Kekhawatiran "Whale" dan Tekanan Jual Besar

Pasar juga dihantui oleh rumor mengenai pemegang besar (whales). Salah satu tim strategi besar dilaporkan memiliki kerugian yang belum terealisasi (unrealized loss) hampir $900 juta pada posisi Bitcoin mereka. Meskipun belum ada konfirmasi mengenai aksi jual nyata, pasar crypto yang rapuh cenderung bereaksi negatif terhadap spekulasi semacam ini.

Ketakutan bahwa institusi besar akan melakukan likuidasi mandiri untuk menutupi kerugian di sektor lain menambah tekanan psikologis. Sentimen pasar telah jatuh ke area "extreme fear", dan dalam kondisi seperti ini, berita negatif kecil sekalipun bisa memicu aksi jual besar di industri crypto.

Analisis Teknis: Apa yang Harus Dipantau Selanjutnya?

Bagi investor Pluang, ada beberapa level kunci yang perlu diperhatikan untuk menentukan apakah ini adalah "diskon" besar atau awal dari penurunan yang lebih dalam bagi pasar crypto:

Level KunciSignifikansiSkenario
$75.000Support Psikologis UtamaJika Bitcoin mampu bertahan dan berkonsolidasi di atas angka ini, pasar crypto berpeluang untuk stabil.
$70.000Support Kuat SelanjutnyaPenembusan di bawah $75.000 akan membawa $70.000 sebagai target penurunan berikutnya. Ini adalah level penting sejak kemenangan Trump.
$80.000Resistance TerdekatBitcoin perlu kembali ke atas $80.000 untuk mematahkan tren turun jangka pendek dan meyakinkan pembeli crypto kembali masuk.

Emas vs Bitcoin: Pergeseran Dominasi?

Satu hal menarik dalam crash kali ini adalah divergensi antara emas dan Bitcoin. Gerry O’Shea dari Hashdex mencatat bahwa emas kembali mengungguli Bitcoin dalam lima tahun terakhir sebagai aset pelindung nilai utama.

Meskipun administrasi Trump menjanjikan kebijakan pro-crypto dan ambisi menjadikan AS sebagai "ibu kota crypto dunia", Bitcoin masih kesulitan mempertahankan nilai saat terjadi devaluasi mata uang dan kekacauan geopolitik secara bersamaan. Investor tampaknya masih melihat emas sebagai instrumen yang lebih teruji dalam periode ketidakpastian ekstrem, sementara Bitcoin masih dalam proses integrasi ke dalam infrastruktur keuangan arus utama.

Kesimpulan: Peluang atau Jebakan?

Penurunan pasar crypto saat ini bukanlah hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari deleveraging pasar derivatives, kekecewaan terhadap sektor teknologi AI, dan risiko geopolitik. Ini bukan kepanikan dari satu kejadian saja, melainkan hasil dari pembersihan leverage di pasar yang telah tertekan selama berminggu-minggu.

Sentimen pasar saat ini memang berada di zona ketakutan. Namun, secara historis, periode di mana leverage telah dibersihkan dan spekulan telah keluar dari pasar sering kali menjadi titik balik bagi investor jangka panjang.

Langkah yang bisa Anda ambil di Pluang:

  • Hindari FOMO dan Panic Selling: Perhatikan apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level support $75.000. Stabilisasi di level ini adalah kunci pemulihan pasar crypto.

  • Diversifikasi ke Aset Aman: Mengingat emas sedang menguat di tengah ketegangan geopolitik, pertimbangkan untuk menyeimbangkan portofolio Anda antara aset crypto dan logam mulia.

  • Pantau Berita Makro: Kebijakan moneter dari Fed dan integrasi crypto ke dalam regulasi yang lebih jelas akan menjadi katalis utama di masa depan.

Pasar crypto memang memiliki volatilitas yang sangat tinggi, namun fundamental adopsi jangka panjang seringkali tetap utuh di balik fluktuasi harga harian. Tetap waspada, tetap terinformasi, dan pastikan setiap keputusan investasi Anda didasarkan pada riset yang mendalam.

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
Social Icon
Social Icon
Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news_pluang_insight