Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 4 menit

View
0

Apa Risiko Aktivitas Leverage dan Bagaimana Memitigasinya?

Meski punya manfaat bejibun, namun aktivitas leverage juga memiliki risiko yang pastinya perlu dimitigasi oleh investor. Lantas, apa saja risiko tersebut? Simak selengkapnya di artikel berikut!

Jenis-Jenis Risiko Kegiatan Leverage

1. Potensi Penurunan Nilai Portofolio yang Lebih Besar

Dunia investasi memiliki pepatah terkenal berbunyi high risk, high return. Pepatah itu pun rupanya berlaku juga di dalam kegiatan leverage.

Memang, kamu berkesempatan mendulang cuan berkali lipat sesuai dengan daya ungkit exposure aset kegiatan leverage tersebut. Namun, konsekuensinya, kamu juga bisa buntung berkali-kali lipat jika situasi pasar sedang tak mendukung.

Sehingga, kamu benar-benar harus mempersiapkan mental dan kecukupan dana yang kuat sebelum benar-benar melakukan aktivitas leverage.

2. Munculnya Risiko ‘Margin Calls’

Berbeda kegiatan investasi tentu berbeda pula aturan mainnya. Nah, khusus di kegiatan leverage, kamu mungkin tidak dapat melanjutkan aksi leverage jika kamu terjebak dalam situasi yang bernama margin calls.

Secara sederhananya, margin calls adalah situasi ketika posisi ekuitasmu setara atau kurang dari 70% dari nilai selisih antara nilai “asli” aset yang kamu genggam dengan nilai aset pasca leverage (margin).

Biasanya, sang investor menghadapi kondisi margin calls jika harga aset yang kamu leverage terjun hingga nilai yang paling tidak setara dengan 70% dari total ekuitasmu. Jika itu terjadi, maka kamu tak bisa membuka posisi leverage baru meski kamu masih tetap bisa menjualnya.

Namun, kamu tak perlu khawatir jika terperangkap dalam margin calls. Sebab, yang perlu kamu lakukan adalah kembali menyetor modal kepada broker hingga rasio ekuitasmu terhadap margin (margin level) mencapai 100%.

Jika kamu enggan mengambil langkah tersebut, kamu juga bisa memilih untuk menjual posisi leverage-mu hingga margin level kembali naik ke 100%.

3. Risiko Likuidasi Paksa

Kondisi margin calls bisa semakin kronis jika kamu membiarkannya berlarut-larut. Pasalnya, kamu nantinya akan masuk ke dalam situasi baru yang bernama likuidasi paksa (forced liquidations).

Likuidasi paksa adalah kondisi di mana sang investor harus pasrah melihat posisi leverage-nya dijual secara otomatis lantaran gagal menjaga margin level-nya. Broker mesti melakukan hal tersebut demi mengembalikan margin level sang investor untuk lolos dari margin calls.

Pluang akan memberlakukan likuidasi paksa jika margin level investor turun di bawah 30% agar margin level investor bisa kembali ke angka 70%.

4. Risiko Jebakan Psikologis

Sobat Cuan harus waspada jika tak siap mental berkecimpung di kegiatan leverage. Sebab, kamu bisa terjerumus ke jebakan psikologis yang tentunya bisa membuatmu boncos parah.

Ketika melakukan leverage, kamu awalnya pasti senang karena merasa “memiliki” jumlah aset yang lebih besar dari modal yang kamu setor. Dengan kata lain, kamu merasa berhasil mendapatkan tambahan aset secara “gratis” dengan ekspektasi cuan sesuai daya ungkit aksi leverage-mu.

Namun, justru di situlah letak jebakannya. Karena kamu merasa bisa menambah aset secara “gratis” dengan mudah, maka kamu berpotensi akan terus menerus menggelontorkan dana ke aktivitas leverage. 

Sayangnya, aksi tersebut akan menjadi bumerang jika kondisi pasar tiba-tiba berubah mendung. Kamu pun akan sukar mengelak dari kerugian yang teramat dalam.

Oleh karenanya, yang perlu kamu lakukan adalah tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin. Kamu perlu menyadari sejak awal bahwa kegiatan leverage adalah aksi yang berisiko tinggi sehingga kamu tak boleh mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.

Bagaimana Cara Memitigasi Risiko Kegiatan Leverage?

Risiko seharusnya tidak menjadi batu sandungan bagimu untuk bergulat di kegiatan leverage. Sebab faktanya, semua instrumen investasi pun memiliki risikonya masing-masing. Sehingga, yang perlu kamu lakukan adalah bersikap cekatan dalam mengatasinya.

Di bawah ini adalah beberapa langkah mitigasi risiko leverage yang bisa kamu lakukan!

1. Tentukan Rencana Investasi!

Karena leverage adalah kegiatan berisiko, maka kamu tak boleh ongkang-ongkang kaki saja. Kamu harus menentukan strategi leverage seperti kapan saatnya kamu melakukan aksi beli, aksi jual, atau bahkan keluar dari pasar secara permanen.

Kamu juga harus rajin membaca riset dan menambah pengetahuan tentang leverage agar kamu punya alasan kuat ketika menentukan di titik harga aset berapa kamu akan membeli dan menjual posisimu.

Selain itu, kamu juga harus menentukan tujuan investasi dan rencana cadangan jika aksi leverage-mu tak sesuai harapan.

2. Kenali Profil Risiko Sendiri!

Mengenali profil risiko adalah hal paling mendasar yang mesti dilakukan seluruh investor. Sebagai contoh, jika kamu adalah individu yang tak tahan dengan perubahan nilai portofolio secara drastis, maka ada baiknya kamu menambah ilmu soal leverage atau menghindari aktivitas ini dengan total.

Di samping itu, kamu juga harus menentukan batas risiko aksi leverage yang sekiranya masih bisa kamu toleransi. Tak ketinggalan, kamu juga perlu memahami risiko yang muncul ketika kamu mengambil satu langkah saja di kegiatan leverage. 

Kemudian, kamu juga bisa memulai dengan modal minimal yang ditetapkan broker jika kamu ingin sekadar coba peruntungan di aktivitas ini.

3. Tentukan Batas Kerugian yang Kamu Toleransi

Meraih cuan dari kegiatan leverage bakal bisa menjadi mimpi indah buatmu. Namun, ketiban rugi dari aktivitas ini malah bisa membuatmu tak tidur nyenyak di malam hari. 

Nah, agar perkara tersebut tak mengusik hidupmu, maka kamu harus menentukan nilai kerugian spesifik yang maksimal bisa kamu iklaskan.

Misalnya, kamu rela rugi Rp5 juta dalam aktivitas leverage, tapi kerugian kamu saat ini sudah mencapai Rp4,9 juta. Sehingga, ada baiknya kamu segera menjual posisimu agar tak mendera kerugian lebih berat yang bisa bikin kamu mengalami mimpi buruk di malam hari.

4. Tetap Investasi Pakai ‘Uang Dingin’

Aksi leverage punya risiko yang besar, sehingga kamu tak boleh berinvestasi di dalamnya menggunakan biaya hidupmu sehari-hari atau dana darurat!

Potensi cuan dari aksi leverage memang menggiurkan. Tapi, hal tersebut jangan sampai bikin kamu gelap mata. Tetap berinvestasi sesuai kemampuanmu dan tentunya menggunakan uang yang memang sudah kamu alokasikan untuk berinvestasi.

5. Jangan Lupa Diversifikasi Aset!

Diversifikasi adalah kunci utama dalam memitigasi risiko tidak hanya di kegiatan leverage, namun di semua kegiatan investasi. 

Dengan melancarkan diversifikasi aset, kamu setidaknya tidak akan merugi hebat ketika aksi leverage-mu gagal berbuah manis. Ini lantaran kamu menempatkan danamu di aset lain yang, mungkin saja, punya performa lebih cetar dibanding posisi leverage-mu.

Pluang sebelumnya sudah membeberkan konsep dan cara-cara jitu diversifikasi dengan lengkap di artikel berikut.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?