Cara Menghadapi Kegagalan dari Kesalahan Warren Buffett

“Ketika bermain golf dan kita bisa hole in one di setiap lobang maka permainan tidak akan seru. Atau justru tidak akan ada permainan golf.” Hal ini diungkapkan oleh Warren Buffett kepada Yahoo! Finance yang bisa dijadikan motivasi.

Sebelum menjadi investor sukses yang memiliki perusahaan dengan kapitalisasi pasar hingga mencapai 53 miliar dolar Amerika Serikat, ia juga pernah melakukan beberapa kesalahan.

Namun hebatnya, kesalahannya tidak membuat ia mundur atau terpuruk tetapi sukses mengubahnya menjadi pelajaran. Hingga membuatnya memiliki kekayaan USD82,5 miliar atau setara dengan Rp1.174 triliun menurut data miliarder Forbes tahun 2019.

Apa rahasianya? Ketika Warren Buffett melakukan kesalahan, ia memiliki cara tersendiri dalam menyingkapinya.

Ia memiliki mindset untuk tidak takut pada kegagalan. Ia berprinsip bahwa semua orang akan melakukan kesalahan dalam hidup. Kesalahan adalah hal yang pasti.

Apalagi seorang investor yang membuat banyak keputusan bisnis yang tidak mungkin tidak akan melakukan kesalahan. Yang bisa dilakukan adalah meminimalisirnya dan tidak terlalu memikirkan kesalahanya atau melihat ke belakang.

Prinsipnya adalah tidak semua kemenangan akan menjadi kemenangan. Namun, kesalahan justru membuatnya lebih termotivasi.

Lalu apa saja kesalahan Warren Buffett yang bisa kita pelajari?

Cari tahu sebanyak-banyaknya mengenai perusahaan yang akan diinvestasikan

Warren Buffett pernah terlambat berinvestasi pada Google dan sangat menyesalinya. Hingga Bill Gates membuatnya yakin untuk berhenti menggunakan mesin pencari Altavista.

Tak hanya itu, ia juga pernah meremehkan Amazon akan mendisrupsi ritel. Ia menganggap Jeff Bezos, pendiri Amazon, hanya sedang melakukan keajaiban saja.

Namun dari dua kesalahan tersebut, ia belajar untuk memperluas wawasan terhadap bisnis-bisnis tertentu yang berpotensi di masa mendatang.

Jangan terbawa arus

Salah satu tantangan terbesar seorang investor adalah tidak mudah terhanyut pada euforia atau terlalu yakin pada sesuatu hal. Hal ini bisa membuat kita bisa membeli saham di harga terlampau tinggi.

Buffett mengatakan hal yang bijak untuk semua investor. Ketika berinvestasi, pesimisme adalah teman dan euforia adalah musuh.

Hal ini sesuai dengan kesalahannya ketika berinvestasi pada ConocoPhillips, ia membeli pada harga yang salah yaitu terlalu tinggi.

Karena berkeyakinan besar bahwa ConocoPhillips merupakan pemain energy besar di masa depan. Namun keputusannya salah hingga membuat ia mengalami kerugian miliaran dolar.

Sebelum berinvestasi, pelajari perusahan lebih teliti

Pelajaran ini bisa diambil dari kesalahan Warren Buffett ketika berinfestasi pada US Air tahun 1989. Ketika itu, ia sangat tertarik pada perusahaan tersebut karena memiliki pertumbuhan pendapatan yang sangat tinggi.

Namun, masalahnya perusahaan ini membutuhkan investasi modal yang sangat besar yang membuatnya menjadi sarat utang ketika mencapai pertumbuhan pendapatan yang sangat tinggi.

Hal ini membuat para pemegang saham mendapat keuntungan yang sangat sedikit. US Air pun tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membayar dividen saham pada saat jatuh tempo.

Perusahaan pun menjadi sangat rentan bangkrut pada saat penurunan bisnis. Maka dari itu, Warren Buffett menekankan bahwa penting mencari value dari perusahaan daripada hanya melihat nilai sahamnya saja.

Cari perusahaan yang memiliki keunggulan dibanding kompetitor

Tahun 1993, Warren Buffett berinvestasi pada Dexter Shoes. Namun sayangnya keunggulan kompetitif Dexter Shoes cepat menghilang sehingga membuatnya merugi sebesar $3,5 miliar.

Maka penting mencari perusahaan yang memiliki diferensiasi yang unggul di kategorinya. Bisa dari segi kualitas yang jauh lebih tinggi atau harga yang bisa bersaing di pasar.

Selama ia bisa memberikan solusi yang baik maka ia bisa memberikan keuntungan yang tinggi. Namun hal ini tidak bekerja maksimal pada Dexter Shoes.

Recent Articles

Related Stories

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here