Membuat Rencana Investasi, Apa Saja Strategi yang Perlu Diketahui?

Investing 101

Oct 03, 2020

Setiap investor memiliki pandangan dan cara yang unik dalam cara mereka berinvestasi. Ketika kamu mulai membuat rencana investasi dan membangun portofolio, ada banyak strategi yang dapat digunakan untuk membantumu mencapai tujuan keuangan pribadi. Cara yang kamu pilih akan bergantung pada kebutuhan kamu dan tujuan yang ingin kamu capai.

Memilih Strategi Investasi

Ibaratnya ketika kamu sedang mencari sepasang sepatu baru. Kamu mungkin ingin memilih sesuatu yang akan bertahan lama, nyaman digunakan, dan tidak membuat dirimu bertanya-tanya apakah telah melakukan kesalahan saat membelinya.
Sepatu tersebut juga harus sesuai dengan kebutuhan pribadi kamu — apakah untuk lari jarak jauh, untuk bekerja, atau pun untuk keluar di malam hari.

Di lihat dari banyak sisi, membuat rencana investasi dan memilih strategi itu seperti ketika ingin membeli sepatu yang cocok. Kamu membutuhkan yang sesuai dengan tujuan pribadi kamu, apakah tujuan itu menabung, untuk uang muka rumah, pendidikan anak, atau pun pensiun.

Ketika membuat rencana investasi, kamu membutuhkan strategi yang nyaman untuk kamu lakukan dalam jangka panjang. Mungkin kamu sebaiknya tidak tergoda untuk sering berganti strategi, yang akhirnya berpotensi merusak rencana investasi kamu.

Pada akhirnya, strategi terbaik (atau gabungan strategi) adalah pilihan yang cocok untuk kamu. Berikut ini adalah beberapa strategi dasar yang mungkin dapat kamu pertimbangkan di saat mulai membangun portofolio investasi untuk pertama kalinya.

Strategi Investasi – Membangun Portofolio

  • Alokasi Aset

Ini adalah strategi investasi yang membagi portofolio di antara kelas aset — termasuk saham, obligasi, dan uang tunai. Alokasi aset membantu kita untuk mencapai keseimbangan antara risiko investasi dan keuntungan (imbal hasil).

Setiap kelas aset yang disebutkan di atas memiliki pergerakan yang berbeda dalam situasi pasar yang berbeda. Artinya, masing-masing kelas aset memiliki profil risiko dan tingkat imbal hasil masing-masing. Misalnya, saham cenderung menawarkan potensi keuntungan tertinggi. Harga saham juga bisa bergejolak, yang berarti selain dapat mengasilkan return tinggi, saham juga mungkin mengalami kerugian atau penurunan nilai.

Sebaliknya, uang tunai atau kas cenderung sangat stabil. Uang di rekening tabungan kamu di bank kemungkinan besar sangat aman. Namun, trade-off untuk stabilitas tersebut adalah  bahwa rekening tabungan atau setara kas lainnya, seperti sertifikat deposito, menawarkan imbal hasil yang relatif rendah. Untuk rekening tabungan di Indonesia, biasanya antara dibawah 2%.

Proporsi setiap kelas aset yang dimiliki investor akan bergantung pada tujuan pribadi, jangka waktu investasi, dan toleransi risiko mereka. Cakrawala waktu adalah jumlah waktu yang harus diinvestasikan investor sebelum mereka mencapai tujuan mereka. Lalu, toleransi risiko adalah kesediaan investor untuk kehilangan sebagian dari investasinya sebagai imbalan untuk potensi pengembalian jangka panjang yang lebih besar.

Alokasi aset mungkin berubah seiring waktu. Seorang investor berusia 20-an yang menabung untuk masa pensiun mungkin memiliki portofolio yang sebagian besar ditempatkan pada saham. Saham dapat menawarkan potensi pengembalian terbesar. Dengan jangka waktu 40 tahun sebelum investor membutuhkan dana tersebut, mereka mungkin memiliki banyak waktu dan ketersediaan untuk mengatasi setiap penurunan di pasar saham.

Seseorang yang telah pensiun dan membutuhkan lebih banyak akses langsung ke uang tunai mungkin memiliki lebih banyak investasi pendapatan tetap. Misalnya adalah obligasi, yang tidak begitu mudah berubah dan oleh karena itu kecil kemungkinannya untuk mengalami penurunan tajam pada saat investor membutuhkannya.

  • Diversifikasi

Salah satu cara untuk mengelola risiko dalam portofolio adalah melalui diversifikasi, membangun portofolio dengan beragam investasi di aset yang berbeda. Pada dasarnya, diversifikasi dapat membantu investor menghindari semua telur mereka dalam satu keranjang. Atau, istilah yang lebih dikenal adalah jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Coba bayangkan sebuah portofolio yang diinvestasikan hanya dalam satu saham perusahaan minyak. Jika harga minyak turun, seluruh nilai portofolio akan anjlok.

Sekarang coba bayangkan portofolio yang menyimpan saham dari semua sektor, di perusahaan dengan berbagai ukuran dari seluruh dunia. Tidak hanya itu, portofolionya memiliki berbagai obligasi dan bahkan investasi lain seperti real estat.

Mirip dengan alokasi aset, idenya di sini adalah bahwa investasi yang berbeda ini akan berperilaku berbeda selama kondisi pasar berubah. Misalnya, saham A.S. mungkin tidak memiliki kinerja yang sama dengan saham Eropa, dan saham energi mungkin tidak sama dengan saham perusahaan medis.

Dengan portofolio yang terdiversifikasi, ketika kondisi pasar berubah — seperti jatuhnya harga minyak — satu kelompok investasi mungkin menderita sementara yang lain tidak. Sehingga risiko akan tersebar.

  • Rebalancing

Portofolio kamu dapat berubah seiring waktu. Selama pasar bullish, kamu mungkin menemukan investasi saham berkinerja baik. Jadi, sekarang saham memiliki komposisi yang jauh lebih besar dari portofolio kamu sebelumnya.

Ingatlah bahwa ketika menyeimbangkan portofolio kamu, sesuaikanlah berdasarkan tujuan pribadi, cakrawala waktu, dan toleransi risiko. Jadi, ketika ada pergeseran, investor mungkin ingin membeli atau menjual aset agar portofolionya kembali sesuai dengan alokasi aset yang direncanakan.

Strategi Investasi – Jual Beli

  • Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging adalah proses di mana investor berinvestasi secara teratur, melakukan pembelian aset berapa pun harganya. Contohnya, seorang investor mungkin memilih untuk menginvestasikan Rp.1.000.000 sebulan dalam dana indeks yang melacak S&P 500 atau, Micro E-mini S&P 500 Index Futures di Pluang.

Harga saham untuk dana tersebut kemungkinan besar akan bervariasi dari bulan ke bulan. Meskipun jumlah uang yang digunakan investor untuk membeli saham tidak berubah. Dengan keadaan seperti ini, investor membeli lebih sedikit porsi saham saat harganya sedang tinggi dan lebih banyak lagi saat harganya rendah.

Strategi dan rencana investasi ini dapat membantu investor mengurangi pembelian di harga tinggi dan penjualan di harga rendah. Dan karena investasi dilakukan dengan jadwal yang teratur dengan jumlah uang yang ditentukan, maka strategi ini menjadi salah satu cara bagi investor untuk menghindari investasi emosional.

  • Buy and hold

Investor yang memilih untuk menggunakan strategi buy and hold biasanya akan membeli saham dan menyimpannya untuk jangka panjang, terlepas dari pergerakan pasar jangka pendek. Investor yang memiliki rencana investasi ini percaya bahwa mereka akan mencapai pengembalian di masa depan meskipun terjadi fluktuasi di pasar dalam jangka pendek.

Fluktuasi di pasar adalah kejadian normal, tetapi investor mungkin masih merasa gugup dan ingin menjual saham mereka pada tanda pertama penurunan.

Namun, kecenderungan ini dapat merugikan investor, karena menjual saham mengunci kerugian yang mungkin mereka alami dan berarti mereka dapat kehilangan rebound berikutnya dalam harga. Strategi buy and hold mungkin membantu mengontrol kecenderungan ini.

Selain itu, strategi investasi buy and hold dapat membantu investor meminimalkan biaya yang terkait dengan jual beli. Akhirnya, dapat membantu meningkatkan pengembalian portofolio secara keseluruhan.

author-image

Redaksi