Pemilihan Presiden AS di Depan Mata, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi Asia?

Weekly Commentary

Sep 01, 2020

Pemilihan presiden AS semakin dekat dan sepertinya Joe Biden semakin banyak mendapat dukungan untuk menang. Pertanyaan tentang apakah dampak dari posisi Biden di Gedung Putih bagi Asia telah menjadi perhatian. Sementara itu, fokus di setiap negara lain di dunia tetap pada respons COVID-19 masing-masing. Indonesia pun terus memperjuangkan pencairan dana.

Pemilihan Presiden AS – Akankah Asia Diuntungkan dari Kepresidenan Biden? 

Kurang dari tiga bulan menuju pemilihan presiden AS, polling untuk Joe Biden lebih bagus dibandingkan nominasi Demokrat lainnya dalam 24 tahun terakhir. Mungkin dapat dipertimbangkan bagaimana kemenangan Biden berpengaruh terhadap Asia. Beberapa implikasi dapat dilihat, dan tergantung dari bagaimana Biden berencana untuk mengarahkan hubungan kontroversial dengan China dari pemerintahan Trump. Pergeseran mendasar untuk memandang China sebagai pesaing mungkin tetap ada. Tapi, aliansi tradisional lainnya di Asia dapat dihidupkan kembali dan artinya akan ada lebih banyak kemitraan rantai pasokan.

Mantan Wakil Presiden ini telah lama dikenal sebagai pendukung keterlibatan dengan Beijing. Tetapi, zaman “keemasan” hubungan AS-China diperkirakan tidak akan kembali karena banyak yang telah berubah sejak saat itu. Yang penting untuk diperhatikan adalah China yang secara politis lebih tegas, pandemi COVID-10, dan risiko yang ditimbulkannya pada keamanan rantai pasokan global. Tidak lupa juga, meningkatnya ketegangan militer di India dan Laut China Selatan; serta peningkatan prioritas hak asasi manusia di antara dukungan tradisional Demokrat.

Pemilihan Presiden dan Hubungan AS-China

Pada Juli 2019, Biden menyarankan untuk membangun “front persatuan sekutu untuk menantang China”. Ini mengisyaratkan bagaimana Biden kemungkinan besar akan membangun kembali jembatan dengan mitra tradisional dan bernegosiasi dengan China menggunakan suara kolektif yang lebih kuat. Hal ini menimbulkan harapan bahwa pemerintahan baru akan mengakhiri strategi isolasi “America First” dari Trump. Dengan strategi ini, Trump bermitra dengan sekutu tradisionalnya di Asia, dibangun di atas kebijakan “Pivot to Asia” yang dibawa oleh mantan bos Biden, Presiden Obama.

Di sisi lain, masih tidak jelas apakah Biden akan mencabut pembatasan yang diberlakukan oleh Presiden Trump terhadap perusahaan seperti Huawei dan TikTok. Hubungan AS-China mencapai titik terendah baru ketika Trump menyetujui pembatasan yang mencegah Huawei menggunakan semikonduktor yang dibuat atau diproduksi dengan perangkat lunak dan / atau teknologi AS. Korea Selatan dan Taiwan merupakan dua ekonomi lain selain China yang paling terkena dampak sanksi ini. Kedua negara tersebut akan mengharapkan beberapa indikasi kemungkinan reversal atau dilusi dari pembatasan yang diberlakukan.

Namun, CIO APAC di Credit Suisse John Woods percaya bahwa terlepas dari siapa yang menang, akan ada reli bantuan karena ketidakpastian dan volatilitas periode pemilihan berlalu. Penting untuk mempertimbangkan posisi kuat Biden terhadap ancaman keamanan siber yang dirasakan dari China dan keinginannya untuk melindungi pekerjaan AS. Oleh karena itu, Woods tidak melihat pergeseran kebijakan ke arah Asia “sehingga aset berisiko lokal bereaksi dengan cara yang berarti’. Negara-negara yang memiliki hubungan kuat yang sudah berlangsung lama dengan AS kemungkinan akan mendapat manfaat. Ini karena jika mereka mengubah pandangannya tentang China menjadi pesaing, mereka akan diizinkan untuk berpartisipasi dalam rantai pasokan AS ke tingkat yang lebih tinggi.

Akankah Bantuan Stimulus di Indonesia Meningkatkan Pengeluaran?

Sementara AS tampaknya telah mengalihkan fokusnya ke pemilihan presiden, Indonesia terus berjuang dengan COVID-19. Sejak newsletter minggu lalu , hanya Rp 30 triliun dari dana stimulus yang dicairkan dalam sepekan terakhir. Artinya hanya 26,4% dari total anggaran yang dialokasikan telah dibelanjakan. Sebagian besar pencairan telah digunakan untuk mendanai program bantuan sosial, tetapi para ekonom dan pemimpin bisnis yakin program-program ini tidak akan membantu perekonomian. Tapi, lebih memilih mengambil risiko perlambatan ekonomi lebih lanjut jika tidak dicairkan sepenuhnya pada bulan September.

Hari Kamis, pemerintah akan mulai mengucurkan bantuan tunai Rp 2,4 juta untuk setiap pekerja dengan gaji di bawah Rp 5 juta. Fase pertama program ini akan memberikan bantuan tunai kepada 2,5 juta pekerja. Sementara total pekerja yang telah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan adalah 15,7 juta. Mereka akan menerima bantuan bulanan sebesar Rp 600.000 selama empat bulan.

Meskipun program ini bertujuan untuk meningkatkan pengeluaran, beberapa percaya bahwa hasilnya tidak akan efektif. Apalagi, untuk menghidupkan kembali ekonomi jika protokol kesehatan yang ketat tidak diterapkan sedemikian rupa. Akhirnya, orang tidak akan cukup percaya diri untuk berbelanja tanpa mengambil risiko infeksi. Ari Kuncoro, ekonom Universitas Indonesia, mengatakan bahwa “kunci pemulihan ekonomi adalah mendorong orang untuk kembali ke aktivitas normal mereka dengan menggunakan protokol kesehatan.”

Namun, kepercayaan kemungkinan tidak akan kembali untuk sementara waktu karena tingkat tes positif rata-rata nasional saat ini berada di 14%. Angka ini jauh melebihi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5% untuk memasuki “new normal“. Selain itu, Indonesia hanya mampu melakukan pengujian pada 35,6% dari tingkat yang direkomendasikan oleh WHO. Bahkan dengan kurangnya pengujian, angka telah mencapai jumlah kasus yang memecahkan rekor selama tiga hari berturut-turut selama akhir pekan.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Simak juga:

Pidato the Fed Memacu Harga Emas Minggu Lalu Naik ke Rp1,008,492

Investasi ala Warren Buffett: Cara Terbaik Kelola Kekayaan

S&P 500 Capai Nilai Indeks Tertinggi Baru dan Salah Satu Pemulihan Tercepat

author-image

Redaksi