Pergerakan Harga Emas di Indonesia, Apa Saja yang Mempengaruhinya?

Emas

Sep 03, 2020

Mungkin kamu sering membaca berita dan memantau pergerakan harga emas saat ini di dunia yang mata uangnya adalah dalam USD. Lalu, di Indonesia ada juga harga emas online dan harga emas ANTAM dalam Rupiah.

Karena sebagian besar dari emas dan juga komoditas lainnya dinilai dalam USD, sebagai investor emas, kita perlu mengerti kejadian di AS untuk mengerti fundamental di belakangnya. Apa saja faktor yang mempengaruhi harga emas dunia?

Pada dasarnya, kita dapat melihat harga emas di Indonesia dengan menggunakan rumus di bawah ini:

Harga Emas Indonesia (IDR) = Harga Emas Dunia (USD) x Kurs USD/IDR

Pergerakan Harga Emas Saat Ini

Hal pertama adalah harga emas dunia yang dinilai dalam USD. Khususnya pada tahun 2020 ini (COVID-19), pergerakan harga emas dunia sangat di pengaruhi oleh beberapa indikasi di bawah ini:

1. Likuiditas, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal

Sebagai respon terhadap jatuhnya ekonomi akibat dari COVID-19, the Fed telah meningkatkan neraca (balance sheet) sebanyak hampir $3T. Jumlah ini hampir sebanyak yang dicetak sejak awal Krisis Finansial Global hingga tahun 2014. Perlu kita ingat bahwa harga emas melambung tinggi sejak tahun 2007 sampai 2011, dimana kenaikan harga hampir sebesar 80% dan dipercepat oleh rekor dari tingkat ‘pelonggaran kuantitatif’. Singkatnya, karena jumlah uang di dalam ekonomi bertambah dibandingkan dengan persediaan emas yang terbatas, maka harga emas naik. Uang baru yang diterbitkan the Fed telah digunakan untuk membeli aset utang dan mendanai pemerintah bertindak terhadap COVID. Karena ekonomi mulai dibuka kembali, “perputaran uang” atau kecepatan di mana uang berputar di dalam ekonomi akan meningkat, dan seharusnya akan membuat harga emas untuk naik juga.

2. Suku Bunga AS

Suku bunga di AS, Eropa dan Jepang hampir mencapai angka nol, bahkan negatif. Hal ini mengurangi ketertarikan akan obligasi dan uang kas sebagai kelas aset. Ketika suku bunga tinggi, investor bisa mendapatkan imbal tinggi dari obligasi dibandingkan emas yang tidak memberikan arus kas. Sebaliknya, ketika suku bunga hampir di angka nol atau negatif, opportunity cost untuk menyimpan emas kecil. Suku bunga rendah biasanya menyebabkan harga emas naik, ketika suku bunga tinggi, emas dan obligasi bersaing untuk menjadi pilihan investasi.

Faktanya, di Eropa, imbal untuk uang kas dan obligasi adalah negatif. Jadi, sebenarnya investor malah merugi. Dilihat dari sejarah, obligasi dilihat sebagai diversifikasi yang sesuai untuk portofolio saham, tetapi di sebuah era dimana suku bunga akan rendah dalam waktu yang lama, banyak investor institusi sekarang mempertimbangkan emas sebagai alternatif terhadap uang kas. Karena hanya ada sekitar $10T emas di pasaran, jika investor institusi ingin mendapatkan alokasi emas sebesar 1%, jumlah emas di dunia tidak akan cukup. Hal ini akan menyebabkan harga emas cepat melambung tinggi.

3. Ancaman inflasi jangka panjang

Resesi pada umumnya adalah deflationary. Ketika orang kehilangan pekerjaan, mereka berhenti mengeluarkan uang, jadi perusahaan pada umumnya menurunkan harga. COVID-19 pastinya akan menyebabkan inflasi rendah dalam jangka waktu pendek. 

Tetapi dalam jangka waktu panjang, ekonomi negara barat sebenarnya akan menghadapi tekanan inflasi yang meningkat. Pertama, AS sengaja menurunkan jumlah dagang dan menurunkan pasokan rantai dari China, ini akan menyebabkan biaya produksi yang tinggi di AS. Selain itu, seperti yang kita bisa lihat di Jepang, deflasi melumpuhkan ekonomi. Deflasi berhubungan dengan pengeluaran rendah dan pemasukan pajak yang rendah, menyebabkan utang nominal meningkat. Hal ini memberikan tekanan yang besar terhadap bank. Pemerintah AS sepertinya akan menerapkan kebijakan yang mendukung inflasi dalam jangka panjang. Hal ini bagus untuk harga emas. Sebagai aset yang nyata, nilai emas tetap terjaga di tengah inflasi.

4. Headwind atau ketidakpastian jangka pendek

Dalam jangka waktu pendek, emas akan menghadapi ketidakpastian. COVID-19 telah menyebabkan penurunan permintaan dari investor ritel di Cina dan India. Selama kuartal terakhir, permintaan ritel dari dua sektor tersebut telah berkurang setengah dari sekitar 40% ke sekitar 20%. Tapi dengan kembalinya ekonomi, permintaan emas akan melonjak, dan akhirnya meningkatkan harga emas juga.

Selain itu, harga saham AS yang melonjak juga menyebabkan ketidakpastian terhadap emas karena baik saham dan emas bersaing untuk jumlah uang investasi yang sama. Indeks S&P 500 telah meningkat 40% dari angka terendah di bulan Maret, menyebabkan faktor ‘FOMO’ (fear of missing out, atau merasa tertinggal karena melewati kesempatan bagus). Ketika harga saham mulai berhenti naik, permintaan investor untuk emas akan meningkat lagi.

Pergerakan Harga Emas Saat Ini- Kurs USD/IDR

Sejauh ini faktor tersulit untuk investor emas di Indonesia adalah apa yang akan terjadi pada kurs USD/IDR. Ketika terjadi krisis in dunia, USD cenderung naik nilainya. Perusahaan beralih pada USD untuk mengecilkan utang dan memenuhi keperluan pendanaan. Hal ini menyebabkan Rupiah anjlok hampir 20% di bulan Maret 2020.

Karena the Fed meningkatkan pasokan uang, baik di pasar domestik melalui pelonggaran kuantitatif dan membuka ‘swap line’ atau komitmen dana sebesar $60B dengan pemerintah Indonesia, tidak ada lagi kekurangan akan dolar dan nilai Rupiah kembali pada level semula.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dan Rupiah telah diuntungkan dari jatuhnya harga minyak. Tapi ketika harga minyak naik, ini akan memberi tekanan terhadap Rupiah. 

Saat ini faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi kekuatan Rupiah dapat dibagi menjadi dua perspektif:

  1. Perspektif Perdagangan
    • Rupiah sangat bergantung pada komoditas dan karena itu sangat bersiklus. Saat ini, Indonesia telah membukukan surplus perdagangan $ 5,5 miliar pada H1 2020, karena impor berkontraksi lebih cepat daripada ekspor karena kenaikan harga komoditas, dan penurunan harga minyak.
  2. Perspektif Investasi
    • Suku bunga & inflasi: Saat ini Indonesia memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi daripada AS, UE dengan lebih banyak ruang untuk dipotong. Inflasi diperkirakan akan tetap rendah → artinya pengembalian riil yang tinggi.
    • Pertumbuhan ekonomi: Kemungkinan akan menjadi pemulihan bentuk U, tetapi bernasib lebih baik daripada kebanyakan ekonomi pasar berkembang. Pertumbuhan yang lebih rendah juga menurunkan permintaan impor.
    • Isu struktural: S&P menurunkan peringkat Utang Indonesia; kepercayaan investor pasca kasus Jiwasraya. Meskipun demikian, permintaan jangka pendek tetap kuat.

Skenario 1: Rupiah menguat

Faktor dan pengaruh makro serta mikro ekonomi dapat mempengaruhi kekuatan mata uang sebuah negara. Dalam hal Rupiah, beberapa hal yang dapat kita simpulkan adalah sebagai berikut. Rupiah akan cenderung menguat terhadap USD jika:

  • Likuiditas di pasar AS terus berlanjut, perputaran uang terus berlanjut
  • Ekonomi AS lebih buruk dari yang diharapkan
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dan tingkat suku bunga tetap tinggi
  • Indonesia mengelola COVID lebih baik dari yang diharapkan dan juga pertumbuhan ekonomi

Skenario 2: Rupiah melemah

Rupiah dapat kembali  melihat depresiasi yang cepat jika salah satu dari kondisi di bawah ini terjadi: 

  • Investor takut akan keadaan ekonomi lokal. Rating dari banyak bank di Indonesia telah diturunkan. Ketika krisis utang muncul, banyak investor akan menarik dana dari Indonesia, dan hal ini akan menyebabkan nilai Rupiah turun. Sejauh ini, Indonesia mampu mengatasi virus COVID dan imbal dari obligasi korporasi dan pemerintah terbilang tinggi untuk menarik investor. Tapi jika investor kehilangan kepercayaan, ini akan menyebabkan nilai Rupiah jatuh. 
  • Krisis global mempercepat kekurangan akan USD. Jika terjadi disrupsi yang tidak diantisipasi pada ekonomi dunia, dan investor beralih pada USD sebagai ‘safe haven’, maka nilai Rupiah akan mendadak anjlok, seperti yang terjadi pada Maret 2020. 

Dengan mempertimbangkan rumus untuk harga emas saat ini di Indonesia, maka kita dapat menganalisa pergerakan harga emas. Singkatnya, jika pergerakan harga emas dunia memiliki tren ke atas, maka belum tentu emas di Indonesia mengikuti pergerakan tersebut. Kekuatan Rupiah juga memiliki peran penting.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Simak juga:

BoA Prediksi Harga Emas Bisa Capai Rp1,5 Juta Tahun Ini! Kok Bisa?

Emas Sebagai Aset Diversifikasi

Cara Mengelola Risiko Investasi Emas