Secepat Apa sih Pemulihan Ekonomi Pasca COVID-19, Apa Kabarnya Indonesia?

Weekly Commentary

Jun 10, 2020

Demonstrasi yang belum lama terjadi di seluruh Amerika Serikat telah menunjukkan bagaimana ketidakadilan dan diskriminasi yang dihadapi oleh etnis kulit hitam serta kelompok minoritas lainnya di AS selama beberapa dekade ini. Ini secara tidak langsung juga mempengaruhi kondisi ekonomi global.

Namun, pasar tetap fokus pada pembukaan kembali ekonomi dari pandemi yang mulai dilakukan. Jumat lalu, data pekerjaan AS berhasil dirilis dan hasilnya jauh di atas ekspektasi. Tingkat pengangguran pada bulan Mei adalah 13.3%, dan angka ini turun dibandingkan data bulan April pada 14.7%.

Selain itu, Indeks S&P500 naik 4.9% minggu lalu, begitupun IHSG yang menguat 10.7% hingga Selasa (9/6) kemarin. Kelihatannya pasar mulai optimis pada pemulihan ekonomi global pasca Covid-19 dan mari kita lihat di manakah posisi Indonesia dalam pemulihan ekonomi ini.

Bagaimanakah Kondisi Pemulihan Ekonomi Global?

Optimisme akan pasar sudah dapat dilihat secara global, data dari beberapa bagian negara telah menunjukkan hasil yang positif. Ekonomi Cina berangsur menuju normal dengan level produksi telah kembali seperti sebelum terjadinya pandemi. Sementara itu AS and Eropa tampaknya sudah melalui masa sulit, dan sudah tidak ada kenaikan angka signifikan pada kasus COVID-19 setelah pembukaan kembali ekonomi.

Cina: first in, first out

Cina merupakan negara pertama yang mengumumkan kasus COVID-19 tetapi juga merupakan negara pertama yang memulai pemulihan. Saat ini Cina telah memasuki bulan keempat fase pemulihan. Upaya pembatasan mobilitas dan pembatasan sosial secara perlahan telah dilonggarkan secara nasional.

Beberapa indikator terus menerus menunjukkan peningkatan aktivitas di bulan Mei. Indeks data dari aktivitas ekonomi dari JP Morgan juga menunjukkan bahwa Cina telah hampir mendekati pemulihan seperti masa sebelum COVID-19 menyerang. Ke depannya, langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal yang mendukung yang diumumkan dari Kongres Rakyat Nasional (NPC) diharapkan akan membantu memfasilitasi pertumbuhan di paruh kedua tahun ini.

Amerika Serikat: mungkin telah melewati yang terburuk

Saat ini, dampak terburuk dari krisis COVID mungkin sudah terlewati. Sudah ada pertanda awal di mana pemulihan mungkin akan lebih cepat daripada yang diprediksi. Seperti misalnya dari data pengangguran yang telah disebut sebelumnya. Selain itu, data pendapatan pribadi melonjak +10.5% dan tabungan rumah tangga juga naik ke 33%.

Artinya, pukulan terbesar pada ekonomi adalah akibat pembatasan sosial dan lockdown, bukan karena masyarakat kekurangan uang. Jadi, ada kemungkinan bahwa tanda-tanda resesi seperti kekurangan persediaan kredit, tidak separah resesi pada umumnya.

Eropa: pembukaan ekonomi dilaksanakan, dan dukungan dari kebijakan akan membantu 

ekonomi globalItalia telah membuka perbatasan untuk wisatawan Eropa dan Jerman pun berencana melakukan hal serupa pada tengah Juni ini. Pelonggaran kebijakan akan membangkitkan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan akan makin stabil jika infeksi dapat dikontrol.

Sejauh ini belum ada angka yang berarti mengenai munculnya kembali infeksi pada negara yang telah membuka kembali perekonomiannya. Komite member EU juga telah membuat progress pada Europe Recovery Fund. Dana sebesar  €750 milliar disediakan untuk mendukung European Union (EU), dengan menargetkan bantuan terbesar pada negara yang ekonominya mengalami dampak paling berat seperti Spanyol dan Yunani.

Indonesia: 5 Fase Pemulihan Ekonomi

Dimulai pada tanggal 1 Juni 2020, Fase 1 pemulihan ekonomi di Indonesia telah dimulai, atau dapat disebut New Normal atau PSBB transisi. Di Fase 5, 27 Juli 2020, seluruh kegiatan ekonomi Indonesia diharapkan sudah bisa dibuka lagi. Pandemi COVID-19 telah membuat ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 hanya tumbuh 2,97% secara tahunan (year on year/yoy).

Lebih rendah dari kuartal I 2019 sebesar 5,07%. Prediksinya akan ada penurunan lagi pada kuartal II, bahkan mungkin akan masuk wilayah negatif. Data dari Kemenko Perekonomian menunjukkan bahwa ada 7 juta orang yang belum bisa masuk ke lapangan kerja.

Maka dari itu, pemerintah akan berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi, agar tingkat pengangguran tidak terus bertambah. Tetapi setelah pelonggaran Fase 1, angka pasien positif COVID-19 harian di Jakarta meningkat dengan penambahan kasus positif tertinggi di 239 semenjak awal mula pandemi. Jadi, Indonesia masih termasuk riskan untuk menerapkan New Normal ini. Bahkan, data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi 97 dari 100 negara teraman dari COVID-19.

Tetapi ada kabar yang dapat membuat kita optimis. IMF meramal hanya Cina, India, dan Indonesia, tiga negara ini yang akan tumbuh positif hingga akhir 2020. Dan tampaknya pemerintah Indonesia optimis dengan ramalan ini. Jadi, kita boleh menantikan bagaimana kebijakan pemerintah untuk mulai membuka ekonomi ini akan membantu pemulihan. Juga, perlu diperhatikan apakah masyarakat sudah siap betul dengan New Normal dan dapatkah kita disiplin untuk mencegah penularan.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi #SobatCuan untuk menentukan langkah investasi berikutnya! Nantikan lagi #CerdasCuan di minggu berikutnya!

Simak juga:

Cuan dengan Manfaatkan Celah Bid-Ask Spread untuk Dapatkan Keuntungan

Takut Kekayaan Tergerus Waktu? Ini 4 Diversifikasi Portofolio yang Paling Cocok Untukmu!

Apa Itu Hedge Fund (Lindung Nilai)?