Ketegangan AS-Cina Berlanjut, Di Mana Peran Pemerintah Indonesia?

Weekly Commentary

Jun 03, 2020

Setelah beberapa minggu berlalu, ketegangan antara Amerika vs China semakin memburuk. Ketenangan setelah menyepakati perjanjian “Fase Satu” hanya bertahan sementara, namun krisis COVID-19 malah memperburuk keadaan, tak hanya dalam segi perdagangan. Alhasil muncul larangan baru mengenai ekspor teknologi, pembatasan aliran finansial serta potensi perubahan sikap Amerika terhadap Hong Kong.

Apakah ada kesempatan bagi Indonesia dan #SobatCuan dari ketegangan ini? Mari kita lihat faktor-faktor di bawah ini.

Amerika VS China: Pembatasan aliran keuangan antara AS-Cina

    • Beberapa perubahan mulai ditargetkan untuk membatasi aliran keuangan antara Amerika Serikat dan Cina. Di awal Mei, AS menghentikan rencana investasi dana pensiun pada ekuitas Cina. Tetapi potensi dampak dari aliran ini tidak begitu besar.
    • Senator AS mengeluarkan Undang-Undang yang melarang perdagangan sekuritas di bursa AS untuk perusahaan yang akuntannya tidak disertifikasi oleh regulator AS. Cina merupakan salah satu negara yang tidak mengijinkan sertifikasi asing untuk rekor finansial. Jadi, akan ada risiko delisting jika tidak patuh. Implikasinya mungkin masih terbatas, karena diberikan waktu tiga tahun untuk penyesuaian.
    • Namun, regulator dari kedua negara memiliki insentif untuk mempertahankan hubungan mereka agar perusahaan Cina tetap memiliki akses untuk modal dari AS, dan menjadikan pasar AS tetap kompetitif secara global.

Amerika VS China: Ada apa dengan Hong Kong? 

      • AS baru saja membuat deklarasi bahwa “Hong Kong tidak lagi memiliki tingkat autonomi tinggi dari Cina” pada minggu lalu. Administrasi Trump akan memulai proses pencabutan status Hong Kong untuk menerima perlakuan istimewa di beberapa bidang, meskipun tidak semuanya.
      • Dampak ekonomi dari peraturan AS terhadap Hong Kong ini kemungkinan sangat kecil. Ini karena perdagangan langsung antara AS dan Hong Kong tidak banyak, kebanyakan adalah ekspor kembali dari Cina.
      • Dalam jangka panjang, perubahan ini mungkin akan mengubah status Hong Kong sebagai pusat finansial global. Tapi, tiga hal yang bisa diamati adalah: Bagaimana implementasi dari peraturan ini (Apakah Beijing menempuh jalur hukum untuk intervensi langsung pada peraturan Hong Kong); Bagaimana respon dari AS; dan sejauh apa perkembangan kerusuhan sosial di Hong Kong.

        Hingga tahun 2018 bahkan 2020, peran Hong Kong sebagai pusat finansial global masih sangat penting. Terlebih sebagai gerbang untuk masuknya aliran modal asing, dilihat dari persentase pada grafik di atas.

Kompetisi teknologi dan pembatasan rantai pasokan

    • Pada tanggal 18 Mei kemarin, AS mengeluarkan peraturan baru yang melarang perusahaan di seluruh dunia untuk menjual produk pada perusahaan dalam daftar “Entitas terlarang” (termasuk Huawei). Jika mereka tidak memiliki lisensi ataupun menggunakan mesin buatan Amerika dalam proses produksi. Hal ini menghilangkan akses Huawei dari suplier besar mereka, perusahaan produksi chip Taiwan (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company).
    • Persaingan teknologi mungkin merupakan aspek paling signifikan dalam memburuknya hubungan Amerika VS China, dan rantai nilai semikonduktor telah menjadi salah satu target utama.
    • Proses produksi chip yang paling maju sangat terkonsentrasi. Dimulai dari designer dari AS dan produksi oleh perusahan pengecoran logam di Korea dan Taiwan. Kontrol akan ekspor sangat efektif dibandingkan sektor lain. Peraturan baru ini tidak hanya mempengaruhi sektor chip, dampaknya akan membuat tantangan dan ketidakpastian pada seluruh rantai pasokan 5G. Saat ini kita hanya dapat menantikan apakah administrasi AS menyetujui aplikasi lisensi ini yang deadlinenya jatuh pada pertengahan September.

Baca juga: Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19, Peluang Investasi Apa yang Direkomendasikan?

Selain pengaruh pada teknologi, perubahan rantai pasokan dan de-globalization akan memilki pengaruh yang berkepanjangan bagi investor. Negara yang menjadi pengganti negara impor lainnya mendapatkan keuntungan.

Contohnya, Cina yang tadinya merupakan produsen nomor satu untuk industri mainan, pakaian dan elektronik sekarang sudah mulai mendorong produksi ini kepada negara produsen lainnya, termasuk Indonesia.

Efek ketegangan Amerika VS China ini juga telah mengakibatkan perusahaan AS untuk memindahkan produksi dari Cina. Di sinilah Indonesia memiliki kesempatan emas. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyediakan Kawasan Industri Brebes yang dapat menjadi tujuan relokasi pabrik AS yang hengkang dari Cina tersebut. Jika Indonesia berhasil mengambil peran penting ini, maka ini akan sangat membantu perekonomian Indonesia.

Rekomendasi Pluang

Geopolitik tetap memiliki peran yang semakin penting dalam menentukan masa depan Asia. Namun tensi ketegangan Amerika VS China sekarang mungkin belum bisa menggagalkan pemulihan yang sedang berjalan.

Kemungkinan dampaknya akan meluas. Selain itu, dapat dilihat tren pertumbuhan yang konsisten pada Cina dan di seluruh Asia. Jadi, jika #SobatCuan memiliki horizon investasi jangka panjang, maka pasar Asia dan Indonesia memiliki potensi yang cukup cerah. Jangan lupa, penting juga untuk memiliki rencana management risiko, misalnya dengan memiliki aset lindung nilai (hedging) seperti emas.