Warga Minim Spending, Relaksasi PSBB Belum Signifikan Hadapi Resesi

Nasional

Jul 03, 2020

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa meski PSBB telah direlaksasi, menurunnya konsumsi masyarakat dapat memicu resesi di Indonesia. Beberapa ciri ciri resesi ekonomi terlihat dari jumlah pengangguran, PHK, dan kemiskinan yang bertambah.

Bank Dunia memproyeksikan pendapatan per kapita dunia akan menurun 3,6 persen dan membawa jutaan orang jatuh dalam kemiskinan ekstrem.

Pukulan resesi di Indonesia tampaknya juga akan menghantam pada sektor yang paling parah dipengaruhi oleh pandemi. Ciri ciri resesi ekonomi ini akan dipengaruhi oleh perdagangan global, pariwisata, ekspor komoditas, dan pembiayaan eksternal.

Besarnya gangguan yang diakibatkan oleh resesi akan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Pandemi yang berkepanjangan ini juga akan pengaruhi pengembangan sumber daya manusia, karena sebabkan gangguan dalam sekolah dan akses layanan kesehatan primer.

“Ini keadaan darurat ekonomi. Komunitas global harus bersatu untuk menemukan cara untuk membangun kembali pemulihan yang sekuat mungkin untuk mencegah lebih banyak orang jatuh ke dalam kemiskinan dan pengangguran,” ujar Wakil Presiden Bank Dunia Ceyla Pazarbasioglu.

Baca juga: Hingga Rp18,5 T dalam Sepekan, Kekayaan Bos Djarum Anjlok

Pelonggaran PSBB yang tidak dibarengi konsumsi masih memungkinkan resesi di Indonesia tetap terjadi

ciri ciri resesi ekonomi

Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) memang telah dilonggarkan. Ibukota kini memasuki fase 1 PSBB transisi, di mana 18 sektor ekonomi dapat dijalankan kembali. Evaluasi atas periode ini akan menjadi dasar untuk pembukaan sektor-sektornya di fase berikutnya.

Akan tetapi, Menkeu Sri Mulyani khawatir bahwa relaksasi ini tidak terlampau signifikan memberi pengaruh. Masyarakat masih minim berbelanja atau melakukan spending, dan hal ini memungkinkan Indonesia terjatuh di jurang resesi.

Sejauh ini, biaya penanganan COVID-19 telah tersalurkan dan kini masyarakat memasuki fase PSBB transisi. Dalam proyeksi Kemenkeu, dengan dukungan belanja lantaran relaksasi ini, maka Q3 dan Q4 PDB bisa tumbuh 1,4%.

“Tapi kalau dalam [dengan asumsi tidak berbelanja] bisa -1,6%. Itu secara teknis bisa resesi. Kalau Q3 negatif dan secara teknis Indonesia bisa masuk ke zona resesi,” papar Sri Mulyani dalam perbincangan Komisi XI DPR, Senin (22/6).

Skenario ini pun telah masuk ke dalam proyeksi Kemenkeu. Pada Q3 dan Q4 PDB diramalkan akan tumbuh 1,4% hingga negatif 1,6%. “Sementara outlook seluruh tahun -0,14 sampai positif 1 persen,” tegasnya.

Tantangan yang sangat besar pada 2020 ini memang mesti dihadapi. Resesi di Indonesia menghadang di depan mata. Pada Q2 2020, Sri Mulyani mengungkapkan kontraksi ekonomi nasional akan sebesar -3,1%.

Menurut Sri Mulyani, akibat pandemi COVID-19, Bank Dunia memperkirakan ekonomi global terkontraksi tumbuh negatif -5,2%. “IMF (Dana Moneter Internasional) kita akan lihat beberapa bulan ke depan, biasanya outlook Juli. Pasti ada revisi,” ujarnya.

Baca juga: 3 Grafik Ekuitas di Bursa Saham Global Tunjukkan Penurunan

Deretan perkara yang menunjukkan resesi di Indonesia di depan mata

Jika dalam dua kuartal berturut-turut ekonomi Indonesia masih tetap negatif, dipastikan resesi di Indonesia akan terjadi.

Apa saja bukti yang menampakkan bahwa resesi ini akan terjadi?

#1 Berlipatgandanya angka kemiskinan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan memproyeksikan penambahan jumlah angka kemiskinan di Indonesia lantaran pandemi.

Penambahan angka kemiskinan paling besar diprediksi akan terjadi di Pulau Jawa, mengingat Jawa merupakan episentrum penyebaran pandemi. Angka ini merupakan efek dari terganggunya aktivitas ekonomi nasional dan adanya penerapan PSBB.

Untuk skenario berat, pertambahan kemiskinan ini akan berdampak pada 1,16 juta orang, dan pada kasus sangat berat akan berdampak pada 3,78 juta orang.

#2 Meningkatnya angka pengangguran

Dengan kondisi pandemi ini, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan pengangguran tahun depan bisa tembus hingga 12,7 juta orang.

“Karena 2020 pengangguran (diproyeksi) bertambah sekitar 4 juta orang hingga 5,5 juta orang dan kalau ini terjadi maka 2021 pengangguran akan sampai 10,7 juta-12,7 juta orang,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

#3 Gelombang PHK besar-besaran

Tercatat menurut Kadin Indonesia, terdapat 6 juta pekerja yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan akibat pandemi. Sementara jumlah pekerja yang dirumahkan mencapai hingga 90%.

Sementara itu, berdasarkan data Kemenaker per 27 Mei, sektor formal yang dirumahkan mencapai 1.058.284 pekerja dan PHK terjadi pada 380.221 orang pekerja.

Deretan kasus ini tunjukkan betapa resesi di Indonesia akan menjadi mimpi buruk yang mencekam bagi ekonomi. Untuk membantu ekonomi pulih kembali, masyarakat mesti melihat peran penting mereka untuk melakukan konsumsi di masa PSBB transisi ini.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Sumber: CNBC Indonesia

Simak juga:

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

Mau Financially-Savvy? Dengerin 7 Podcast Spotify Keuangan Ini, yuk!

Mau Cuan Investasi Saham untuk Pemula? Intip Dulu Panduannya di Sini!