Kendaraan Lebih dari Satu? Intip Dulu Simulasi Pajak Progresif Mobil

May 27, 2020

Terpikir ingin menambah mobil atau motor di rumah lantaran kebutuhan mobilisasi? Kamu perlu tahu ada pajak progresif mobil dan motor yang dikenakan jika memiliki lebih dari satu mobil atau satu motor. Tarifnya pun berbeda. Yuk, cari tahu cara menghitung pajak progresif!

Perbedaan tarif ini ditentukan berbeda untuk tiap wilayah dan setiap pertambahan kendaraan. Pajak progresif ini diterapkan di Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

pajak progresif mobil

Acuan penerapan pajak progresif mobil ini adalah Kartu Keluarga (KK). Meski beda nama pemilik, tetapi masih dalam satu KK, maka akan dikenakan pajak progresif. Dengan begitu, sudah jelas penting, dong, menghitung pajak progresif!

Jadi, pajak progresif akan diterapkan pada kendaraan dengan kesamaan nama pemilik dengan alamat tempat tinggal pemilik.

Di Jakarta sendiri, aturan pajak progresif dan dasar menghitung pajak progresif ini tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2010 tentang Pajak Kendaraan Bermotor.

Sementara untuk Jawa Barat, aturan pajak progresif mobil dan motor ini tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 13 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

Baca juga: 5 Poin Penting Perpajakan yang Diatur RUU Omnibus Law, Apa Saja?

Besaran pajak progresif mobil

menghitung pajak progresif

Terdapat dua jenis pajak progresif, yakni Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Pajak progresif mobil adalah pajak yang dikenakan bagi pemilik mobil dengan penghitungan ketentuan tarif pajak sesuai dengan yang disebutkan.

Tarif kendaraan yang dikenakan pajak progresif untuk kepemilikan pertama di Jakarta sebesar 2 persen, sementara di Jawa Barat mulai dari 1,75 persen. Untuk kepemilikan kedua dan seterusnya naik 0,5 persen.

Pajak maksimal yang dikenakan sebesar 10 persen, terhitung dari kepemilikan ke-17 dan seterusnya. Berikut ini tabel persentase tarif pajak progresif secara umum:

No. Urutan Kepemilikan Kendaraan Persentase Tarif Pajak
1. Mobil Pertama 1,5%
2. Pajak progresif Mobil Kedua 2%
3. Mobil Ketiga 2,5%
4. Pajak progresif Mobil Keempat dan seterusnya 4%

 

Pengenaan pajak didasarkan pada hal-hal yang berkaitan dengan objek pajak, dalam hal ini objek pajak adalah mobil. Dua hal yang menjadi dasar pengenaan pajak progresif mobil, antara lain:

  1. Nilai jual kendaraan bermotor (NJKB), nilai ditetapkan oleh Dispenda yang sebelumnya sudah memperoleh data dari Agen Pemegang Merek (APM).
  2. Bobot atau efek negatif atas penggunaan kendaraan dan bisa merefleksikan tingkat kerusakan jalan yang dinyatakan di dalam koefisien yang nilainya satu atau lebih.

Penghitungan pajak dimulai dari menghitung NJKB. Rumus penghitungannya adalah (PKB/2) x 100.

Nilai PKB tertera di balik STNK. Kalikan nilai PKB itu dengan persentase tarif pajak progresif mobil sesuai dengan urutan kepemilikan kendaraanmu.

Setelah memperoleh hasil pajak progresif, lanjutkan dengan menambahkan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ). Kamu tinggal mengalikan sesuai persentase urutan kepemilikan.

Baca juga: Mengisi Faktur Pajak Lewat Aplikasi e-Nofa? Begini 3 Cara Mudahnya

Simulasi menghitung pajak progresif

pajak progresif mobil

Untuk memperjelas formula menghitung pajak progresif di atas, mari kita ilustrasikan dan lakukan simulasi secara langsung.

Jika kamu memiliki 3 unit mobil, dengan tipe dan tahun yang sama, dengan pengandaian nilai-nilai sbb:

  • PKB = Rp1.700.000
  • SWDKLLJ Mobil = Rp150.000
  • Maka NJKB-nya sebesar = (PKB/2) x 100 = (Rp1.700.000/2) x 100 = Rp85.000.000

maka penghitungan pajak progresif untuk setiap mobil, sebagai berikut:

PKB = NJKB x persentase

Pajak progresif mobil untuk mobil pertama:

  • PKB = Rp85.000.000 x 1,5% = Rp1.275.000
  • SWDKLLJ = Rp150.000
  • Total = Rp1.425.000

Untuk mobil kedua:

  • PKB = Rp85.000.000 x 2% = Rp1.700.000
  • SWDKLLJ = Rp150.000
  • Total = Rp1.850.000

Pajak mobil untuk mobil ketiga:

  • PKB = Rp85.000.000 x 2,5% = Rp2.125.000
  • SWDKLLJ = Rp150.000
  • Total = Rp2.275.000

Bagaimana? Tidak sulit, kan, untuk menghitung pajak progresif mobil? Tentu saja penerapan aturan pajak progresif mobil ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Masyarakat diharapkan untuk beralih menggunakan kendaraan umum demi mobilisasi.

Yuk, kita peduli dengan pajak dan sekaligus dengan lingkungan! Mulai dari memilah seberapa butuhnya kita menggunakan kendaraan pribadi dalam kegiatan sehari-hari.

Sumber: Kompas, Cermati

Simak juga:

Pelemahan KPK Jadikan Indonesia sebagai Surga Pajak Koruptor?

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Pengin Jalan-jalan ke Luar Negeri? Ini Caranya Bikin Paspor Online

Mencoba Peruntungan di 7 Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia, Minat?

Dibanderol Rp193 M, Majesty 140 Berhasil Jadi Yacht Termahal di Dunia