‘New Normal’, Siapkah Indonesia Jalani Kelaziman Baru Pasca Covid-19?

May 28, 2020

Dalam beberapa pekan terakhir, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tunjukkan pengaruh negatif pada sektor ekonomi. Mengatasi ini, pemerintah Joko Widodo menyiapkan mekanisme new normal atau exit strategy COVID-19 demi pemulihan ekonomi.

Opsi ini mengikuti Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Pencegahan Penularan COVID-19 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan.

new normal

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, menyampaikan bahwa mekanisme new normal perlu dilakukan mengingat data penyebaran COVID-19 masih bersifat dinamis. Hal ini terlepas dari penerapan pembatasan sosial.

Kelak, kegiatan new normal atau kelaziman baru ini bisa dilakukan saat terjadi lonjakan penularan COVID-19, atau terjadi gelombang kedua penularan.

Mendukung opsi new normal ini, pemerintah membuat tahapan penilaian kesiapan berdasarkan sistem scoring yang mencakup dua dimensi.

Pertama, dimensi kesehatan terdiri dari pemantauan perkembangan penyakit, pengawasan virus, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan. Kedua, dimensi kesiapan sosial ekonomi mencakup protokol di tiap sektor, wilayah, dan transportasi terintegrasi.

Baca juga: Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19, Peluang Investasi Apa yang Direkomendasikan?

New normal: pemulihan perekonomian secara bertahap dalam beberapa fase

pembatasan sosial

Airlangga menjelaskan beberapa syarat yang perlu dipenuhi suatu daerah untuk bisa menerapkan skenario new normal.

Salah satunya ialah indikator penularan berdasarkan angka reproduksi dasar wabah (R0) dalam waktu t (Rt). Tolok ukurnya ialah angka reproduksi R0 pada waktu t (Rt) atau angka reproduksi efektif harus di bawah 1.

Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), jika dilihat dari indikator R0, ada beberapa daerah yang siap menjalankan skenario new normal.

Dalam pemantauan tiga bulan terakhir, kasus relatif menurun di bawah 1 di wilayah Jawa Tengah, Bali, DKI Jakarta, dan Yogyakarta. Sebelumnya, daerah-daerah ini adalah wilayah yang terpantau dengan kasus relatif tinggi.

Selain itu, hingga saat ini terpantau 110 kabupaten/kota yang berdasarkan data epidemiolog BNPB tergolong belum terinfeksi COVID-19.

“Untuk daerah yang belum terinfeksi ini, perlu dilakukan persiapan fasilitas-fasilitas kesehatan dan diharapkan bisa dilakukan simulasi yang waktunya ditentukan bersama antara pemerintah daerah dan BNPB,” ujar Airlangga.

Sektor yang akan dibuka paling awal ketika skenario new normal ini diberlakukan adalah sektor industri. Airlangga menjelaskan bahwa sektor ini telah mengantongi izin operasi dari Kementerian Kesehatan sejak awal.

Pada tahap berikutnya, pemerintah akan membuka sektor pariwisata. Pemerintah akan mengatur bagaimana industri perhotelan dan restoran dapat mulai beroperasi dengan pembatasan kapasitas.

Fase new normal selanjutnya akan diberlakukan pada sektor perhubungan. Lantas, sektor manufaktur, perkebunan, hingga perdagangan khususnya pasar tradisional.

Baca juga: Hadapi Krisis Ekonomi COVID-19, Strategi Jitu dari 5 Investor Dunia

Pebisnis bekerjasama dengan pemerintah untuk pastikan kepatuhan protokol

protokol bisnis new normal

Pasca-pembatasan sosial berskala besar, dengan detail fase new normal terkait pembukaan sektor-sektor tersebut, para pebisnis hendak bekerjasama dengan pemerintah untuk memastikan kepatuhan protokol.

Hal ini agar wilayah kerja bagi sektor-sektor ini tidak menjadi pusat penyebaran pandemi. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta W. Kamdani, menyampaikan bahwa pelaku usaha pada prinsipnya siap untuk kembali melakukan aktivitas ekonomi.

“Sambil mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah pada new normal,” terang Shinta. “Kami mempersiapkan task force dan SOP serta protokol kesehatan dengan tiap-tiap sektor. Karena kondisi kerja masing-masing sektor berbeda.”

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menyatakan bahwa terbitnya surat edaran terkait protokol new normal di tempat kerja memberikan angin segar bagi dunia usaha.

PHRI pun kini menyesuaikan protokol yang diterbitkan oleh pemerintah untuk sektor perhotelan. “Kami buat lebih detail lagi, ada banyak departemen, restoran, ballroom, kolam renang, area fitness yang kami kelola,” ujarnya.

Penerapan new normal pada industri perhotelan ini akan terkait pada pembatasan pergerakan orang begitu pula penurunan kapasitas. Kapasitas restoran yang semula mencapai 50 orang dalam aturan new normal akan dibatasi hanya untuk 30 orang.

Industri di sektor-sektor lain kini juga sedang menyesuaikan protokol dengan penerbitan aturan oleh pemerintah terkait kerja-kerja di bawah payung new normal.

Sumber: Kompas, Kontan

Simak juga:

Tujuh Langkah Mencapai Kebebasan Finansial

Niat Jadi Kolektor Lukisan Pemula? Ketahui Dulu Risiko Investasinya di Sini!

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!