Analisa Mingguan: Harga Emas Mencapai Rp1 Juta-an

Uang

Jul 30, 2020

Minggu lalu, harga emas naik sebanyak 5.21% dan mencapai harga tertinggi di level $1959.75. Hal ini dikarenakan oleh tekanan berlanjut pada yield ril AS dan pelemahan dolar AS yang makin cepat di tengah ketidakpastian ekonomi. Tetapi, rally emas mulai mereda dan harga emas dunia saat ini diperdagangkan di area $1940-1955 atau setara dengan Rp1 juta

Harga Emas Dunia Saat Ini – Suku Bunga Ril Negatif Mendorong Momentum Emas

Kasus COVID-19 yang masih berlangsung telah memaksa bank sentral untuk merespon dengan kebijakan fiskal dan moneter yang ekstrim, bahkan mendorong suku bunga ke teritori negatif. Suku bunga nominal telah dipangkas hingga angka nol oleh the Fed di AS, menyebabkan tekanan pada yield. Tapi gerakan penurunan barusan didorong oleh meningkatnya ekspektasi inflasi.

Arah dan level dari yield sama pentingnya karena level yang negatif sebenarnya telah menarik arus investasi yang kencang, tepatnya pada ETF dan juga derivatif. Apetit dari investor telah meningkat ke level dimana kenaikan ini dapat meng-offset melemahnya permintaan perhiasan yang dikarenakan oleh harga tinggi dan pendapatan yang lemah, tepatnya di ekonomi emerging market.

Situasi dengan yield seperti saat ini telah menyebabkan bull-run untuk emas. Tapi tanda yang lebih kelihatan adalah melemahnya dolar AS yang meningkatkan ketertarikan investor pada emas, serta hubungan AS-Cina yang memburuk.

Baca juga: Menabung Asyik dengan 5 Cara Fun Ini, Coba, yuk!

Di sebuah laporan precious metal oleh Credit Suisse, mereka percaya bahwa meskipun rally ini adalah hasil dari momentum jangka waktu dekat, kondisi sepertinya akan tetap mendukung untuk emas. Kenyataannya, karena kenaikan konsisten pada harga emas lah yang mempercepat momentum. Jadi, tidak kaget jika emas akan lanjut membuat all-time high baru.

Credit Suisse juga telah mempelajari persamaan dan perbedaan dari hubungan suku bunga ril dan emas dengan membandingkan situasi hari ini dan juga pasca global financial crisis di tahun 2009 dan 2011. Suku bunga ril sekarang memiliki karakter yang mirip dengan siklus pasca-GFC. Di mana suku bunga obligasi 10 tahun AS dari Treasury Inflation Protected Securities (TIPS), mendekati -1% lagi. Hal ini bertepatan dengan karakter emas saat melampaui level $1920. Level yang belum pernah tercapai sejak 2011 dimana harga emas adalah di level $1921.

Salah satu perbedaan penting adalah bagaimana bank sentral di emerging market telah menjadi pembeli emas yang aktif untuk diversifikasi cadangan untuk menghadapi stok cadangan lain yang berimbal negatif. Hal ini tidak terjadi pasca-GFC.

Menurut ahli strategi pendapatan tetap dari Credit Suisse, emas bisa mencapai $2000. Ini bergantung pada apakah TIPS 10 tahun dari AS akan jatuh di bawah -1%. Karena the Fed kelihatannya tidak mendukung ide dari suku bunga negatif. Skenario yang disebutkan diatas sangat mungkin terjari jika ekspektasi inflasi berlanjut dan yield nominal bertahan.

Apa yang akan membalikkan rally emas?

Pasar emas yang bullish ini mungkin akan melihat penurunan jika ada reversal pada yield ril AS dan kekuatan baru dari dolar AS. Tapi, hal ini diperkirakan tidak akan terjadi dalam jangka waktu dekat. Jika ekonomi goyah dan the Fed mempertahankan agar suku bunga nominal tidak menjadi negatif, suku bunga ril mungkin akan meningkat. Tapi, sentral bank AS mungkin akan menerapkan langkah lain seperti mengontrol kurva yield atau Quantitative Easing tambahan lebih untuk mencegah hasil seperti itu.

Terlebih lagi, jika ekonomi pulih dan lebih bagus dari ekspektasi. Maka hal ini akan meningkatkan ekspektasi the Fed untuk mulai menghapus dukungan moneter dan menaikkan suku bunga lagi. Kenaikan suku bunga akan menurunkan permintaan emas. Tetapi, beban utang yang besar akan membuat the Fed memperbolehkan inflasi meskipun jika vaksin COVID-19 dapat mempercepat proses pemulihan.

Baca juga: Benjamin Graham, Ilmu Finansial dari Mentor Investasi Dunia

Karena AS akan segera memilih presiden baru dalam beberapa bulan, keberhasilan dari salah satu kandidat akan mendukung emas. Jika Trump tetap di White House, maka akan memberi sinyal status-quo dan berlanjutnya tindakan kebijakan luar negeri yang tidak menentu.

Sementara itu, pengambilalihan Demokrat kemungkinan akan menyebabkan melemahnya dolar karena salah satu janji Biden adalah untuk mengembalikan pemotongan pajak perusahaan. Oleh karena itu, ketidakpastian yang muncul bersamaan dengan pemilihan presiden dan potensi perubahan kebijakan dapat mendukung emas.

Karena yield ril saat ini didorong oleh kombinasi ekspektasi inflasi dan penahan tingkat nominal pada angka nol, emas telah menunjukkan perilaku yang lebih siklikal. Selain itu, korelasinya dengan ekuitas baru-baru ini berubah positif, melemahkan manfaatnya sebagai lindung nilai sempurna terhadap kelemahan ekuitas. Namun demikian, bank investasi global masih menganggap emas sebagai aset buy-and-hold karena eksposurnya untuk diversifikasi.